
...Makan malam di Mansion Ansel...
Hening itulah suasana sedari tadi. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Bramasta meletakkan sendok dan garpunya di atas meja setelah menyelesaikan makannya.
"Papa dan Luna akan kembali besok" ucap Bramasta
"Ha? Kembali?" tanya Luna
"Iya kita akan kembali besok" ucap Bramasta
"Kenapa papa tidak mengatakannya padaku" ucap Luna protes
"Sekarang papa mengatakannya kan" ucap Bramasta
"Alina" panggil Bramasta
"Iya?"
"Kau akan mengantarkan kami ke bandara kan" tanya pria itu
"Tentu saja" ucap Alina
"Pa aku masih ingin berada disini" ucap Luna merengek
"Luna kita harus kembali perusahaan membutuhkan papa" ucap Bramasta
"Huh" Luna membuang muka ke arah lain.
"Kau bisa datang kesini lain kali" ucap Bramasta
"Bukankah begitu Ansel?" tanya Bramasta
__ADS_1
"Tentu"
"Benarakah?"
"Iya"
"Baiklah"
"Sekarang bersiaplah besok kita akan pulang" ucap Bramasta
Luna menyelesaikan makannya dan masuk ke dalam kamar untuk membereskan semua pakaiannya. Besok dirinya dan sang papa akan kembali ke negeri asal.
Alina dan Ansel memutuskan untuk duduk bersama di tepi kolam.
"Dalam dunia ada mentari dan ada bulan. Mereka bergantian datang sesuai dengan waktunya. Dunia tidak akan berjalan baik baik saja tanpa keduanya. Sama seperti diriku yang bisa berjalan dengan baik karena ada kau sebagai mentari" ucap Ansel sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang
"Dan bulan?"
"Dia" Ansel mengusap lembut perut Alina yang mulai sedikit membuncit.
"Maksudmu?"
"Tidak ada lupakan" Ansel membalikkan tubuh Alina menghadap ke arahnya.
"Ansel satu hal yang harus selalu kamu tau. Aku tidak pernah menjalin hubungan yang komitemen. Dan kali ini aku menjatuhkan diriku untuk terjun dalam dunia pernikahan. Dulunya tidak ada bayangan dalam diriku untuk menikah apalagi dengan dirimu dan dengan cara seperti itu"
"Dan asal kau tau aku... tidak akan pernah bermain hati. Itu mungkin orang akan mengatakan dengan kata setia. Aku tidak suka dengan sebuah penghianatan. Siapapun yang menghianatiku dia akan menanggung akibatnya"
"Apa akibat dari seseorang yang menghianatimu" tanya Ansel
"Tergantung"
__ADS_1
"Apa bentuk penghianatannya. Apa motif dari dia sampai berani menghianatiku. Tapi apapun itu mungkin aku tidak akan pernah bisa memberikan kata maaf" ucap Alina
"Mencintai dan dicintai dua hal yang tidak pernah aku rasakan"
"Tapi mulai saat ini kau akan merasakan bagaimana dicintai oleh seseorang" ucap Ansel
"Sampai saat ini aku tidak bisa melihat rasa cintamu di dalam matamu"
"Karena kau tidak melihatnya dengan ketulusan dalam hati kamu. Kau masih tidak mempercayaiku. Itu benarkan" Alina mengangguk
"Itu sebabnya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa melihat seseorang yang tulus mencintai kamu" ucap Ansel
"Hanya ada rasa curiga dan tidak percaya"
"Lalu bagaimana bisa aku mempercayai dirimu sedangkan tidak ada bukti pembenaran dari setiap ucapanmu" ucap Alina
"Apa penjelasan dari Luna belum cukup?"
"Kau tau?" tanya Alina
"Apalagi yang kau lakukan jika bukan mencari buktinya sendiri" ucap Ansel
"Cincin itu tidak hilang" ucap Ansel
"Lalu kemana"
Ansel mengambil sesuatu yang tersembunyi di balik bajunya. Sebuah kalung dengan cincin di tengahnya sebagai bandul.
"Sekarang kau percaya" tanya Ansel
Alina mengangguk. Ansel tersenyum karena berhasil membuat istrinya itu percaya. Menyingkirkan semua keraguan dan rasa tidak percaya dalam diri Alina. Ansel menarik tubuh Alina dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*