Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
12.


__ADS_3

"Siapa kau" tanya Alina dengan tatapan tajam mengintimidasi


"Aku.... aku hanya seorang penduduk di pantai ini yang tidak suka jika ada yang berada disini" ucap pria itu beralasan


"Alasan klasik. Bahkan aku tidak percaya sama sekali" ucap Alina


"Kau percaya atau tidak aku tidak perduli" ucap pria itu menantang.


Alina mendekat hendak menahan tangan pria itu namun terlambat. Gerakan pria itu terlalu cepat. Dia berlari menjauhi Alina meskipun dengan kaki tertatih.


Alina mengejar pria misterius itu. Menerjang hutan lebat yang berada di sekeliling pantai.


"Awssshhh" ringis Alina saat satu kakinya tertancap sebuah duri. Darahnya mengucur deras.


Alina menunduk memeriksa lukanya. Terlihat cukup dalam. Namun sesaat telinganya mendengar ada suara pergerakan dari arah yang cukup jauh.


Dor


Alina melesatkan pelurunya dan tepat mengenai lengan pria itu. Tanpa menatap pun dirinya mampu melepaskan peluru dan tepat sasaran.


Alina meninggalkan hutan itu dan kembali ke mobilnya yang ia tinggalkan di area pantai. Alina berjalan dengan santai seolah tak ada luka di kakinya.


Alina meletakkan high heels nya di mobil bagian belakang. Wanita itu mengendarai mobil mewahnya kembali ke perkotaan.


Baru saja sebentar ia pergi untuk refreshing namun ada saja gangguannya. Tapi sekarang yang menjadi pertanyaan adalah siapa nona M itu.


"Nona M?"


"Siapa dia"

__ADS_1


"Aku masih mengingat jelas aku tidak pernah membunuh seseorang yang berinisial M" ucap Alina penuh keyakinan.


Beberapa saat kemudian Alina sampai di rumah megahnya. Namun wanita itu langsung kesal karena adanya seseorang yang tengah menunggunya dengan bersandar di bagian samping mobil. Kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya dengan bermain ponsel membuat pria itu terlihat sangat mengagumkan.


Tapi tidak bagi Alina. Wanita itu kesal saat kepulangannya harus bertemu dengan Ansel. Siapa lagi jika bukan pria itu yang mendatangi rumahnya. Bahkan Alina pun sudah tau pasti apa yang akan di bicarakan oleh Ansel. Apalagi jika bukan soal pernikahan. Tidak akan jauh dari persoalan itu. Alina yakin sekali.


"Ansel" teriak Alina kesal dengan berkacak pinggang.


Bahkan wanita itu keluar dari mobil tanpa alas kaki. Alina berjalan mendekati Ansel dengan tatapan tajam. Ansel mendongak mendengar teriakan dari wanita yang sedari tadi ia tunggu tunggu.


"Hm?"


"Untuk apa kau kesini hah. Untuk mengacaukan hariku lagi? Apa tidak cukup dengan semua yang terjadi. Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi jauh dari hadapanku. Lalu untuk apa kau berada di sini lagi" ucap Alina dengan tatapan tajam.


Ansel hanya diam. Pria itu seolah tak mendengarkan apa yang Alina bicarakan. Pandangannya mengarah ke sesuatu yang lain.


Dengan secepat kilat Ansel langsung mengangkat tubuh ramping Alina. Wanita itu tentu saja berontak dengan aksi tiba tiba yang di lakukan oleh Ansel.


Ansel diam. Dia seolah menulikan pendengarannya. Ansel berjalan masuk ke area rumah megah Alina.


"Ansel" teriak Alina


"Diamlah" ucap Ansel dengan tatapan tajam.


"Kau membentakku" ucap Alina tak terima


"Tidak ada yang membentakmu" ucap Ansel


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku hanya menyuruhmu diam"


"Diamlah jika tidak kau akan jatuh" perintah Ansel


"Siapa kau berani memerintahku" ucap Alina dengan mata menyipit.


"Calon suami kamu"


"Mimpi" ketus Alina


Ansel berjalan masuk namun tubuhnya langsung di halangi oleh para pengawal Alina.


"Turunkan nona Alina"


"Apa kau akan menculiknya"


"Heh berpikirlah sedikit jika aku menculiknya tidak akan aku bawa masuk ke dalam rumahnya" ucap Ansel kesal


"Lalu?"


"Lihat dia terluka" ucap Ansel dengan menatap kaki Alina yang masih mengucurkan darah


Astaga ternyata itu yang menjadi perhatian Ansel sedari tadi. Alina hanya memutar bola matanya malas.


"Hanya luka kecil kau buat besar" ketus Alina


Ansel kembali melanjutkan langkahnya setelah para pengawal tadi minggir dan tidak menghalangi jalannya.


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2