
Ansel meletakkan tubuh Alina di sofa dengan hati hati. Ekspresi Alina tidak berubah sama sekali. Hanya datar.
"Dimana kau meletakkan kotak p3k" tanya Ansel
Alina menunjuk sebuah laci dengan dagunya. Dia malas untuk berbicara apapun dan pada siapapun.
Ansel mengambil kotak obat yang di simpan oleh Alina di dalam laci. Ansel berjalan kembali ke arah Alina.
"Jika ini tidak di obati maka bisa infkesi" ucap Ansel tepat di samping telinga Alina
"Hm" Alina malas membalas ucapan Ansel yang menurutnya unfaedah.
Ansel beralih pada kaki Alina. Pria itu duduk berjongkok dan memangku kaki Alina di pahanya. Sontak hal itu membuat Alina terkejut. Kenapa dia tidak duduk di sofa saja?.
"Agar kau nyaman. Istirahatlah" ucap Ansel yang seolah mengerti apa yang akan di ucapkan oleh Alina.
Ansel mengeluarkan berbagai peralatan yang akan ia gunakan untuk mengobati luka di kaki Alina. Dengan gerakan yang sangat lembut Ansel mengobati luka Alina.
Alina hanya diam dan menatap apa yang di lakukan Ansel pada kakinya. Setiap gerakan Ansel tak lepas dari pantauan tajam Alina.
Setelah selesai dengan semuanya Ansel membalut kaki Alina kemudian menatap wanita itu. Ansel meletakkan kembali kaki Alina di sofa.
Alina masih senantiasa bersedekap dada padanya. Ansel berjalan mendekat ke arah Alina.
__ADS_1
"Aku pulang. Beristirahatlah. Aku akan berbicara besok padamu" ucap Ansel dengan mengusap lembut rambut Alina.
"Bahkan kau tidak kembali ke hadapanku juga tak masalah" ucap Alina ketus kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Ansel pulang. Pria itu berjalan meninggalkan rumah Alina. Sedangkan Alina menatap kepergian Ansel dari arah balkon kamarnya.
"Aku tidak mengerti dengan pria itu" ucap Alina dengan bersedekap dada. Perlahan mobil Ansel menghilang dari pandangannya.
"Untuk apa dia memaksaku. Bukankah harusnya dia lari dan hidup dengan bebas. Kenapa harus susah susah bertanggung jawab" ucap Alina dengan memutar bola matanya jengah.
Alina kembali masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu berbaring di ranjangnya dan tidur. Tubuhnya lelah. Pikirannya di penuhi oleh banyak hal.
.
"Baik tuan"
"Sampai dia merasakan betapa sakitnya apa yang ku rasakan"
"Jangan hentikan teror itu paham?"
"Paham tuan"
.
__ADS_1
Ansel keluar dari sebuah rumah sakit setelah melakukan konsultasi pada dokter. Pria itu tampak sedang menelfon seseorang.
"Kenapa" tanya seorang pria dari balik seberang telefon
"Aku akan ke Sydney. Untuk mengurus segalanya disana" ucap Ansel
"Baiklah"
Ansel memutuskan sambungan telefon secara sepihak. Pria itu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai dengan cepat menuju rumahnya yang sangat luas.
Ansel langsung masuk ke dalam kamarnya. Pria itu mengepak beberapa pakaian saja disana untuk persiapan dirinya saat di negara lain.
Malam ini juga dirinya akan meninggalkan kota London yang sangat indah. Berpindah ke negara lain untuk beberapa urusan.
Semuanya telah di persiapkan oleh Chen. Pria itu cukup mengerti apa saja yang harus di lakukan saat mengetahui jika Ansel akan pergi melakukan perjalanan.
Asisten sekaligus sahabatnya itu sudah cukup lama mengenal Ansel. Bahkan setiap masalah yang di hadapi Ansel, Chen pasti tau.
Ansel menutup resleting kopernya dan menariknya keluar dari kamar. Pria itu membawa koper tersebut masuk ke bagasi mobilnya.
Sang sopir yang akan mengantarkan Ansel ke bandara pun sudah siap. Dalam dua jam mereka sampai di bandara. Ansel akan menggunakan jet pribadinya. Dan disana sudah ada Chen yang sudah siap menyambut kedatangan atasan serta sahabatnya itu.
.
__ADS_1
*Like dan Komen*