
"Memangnya apa yang akan kau bicarakan" tanya Alina
Ansel menepikan mobilnya. Membuka seatbelt yang membelit di tubuhnya. Menatap Alina dengan intens dari arah samping.
"Kau tau apa maksud dari semua pembicaraanku yang hampir sama" ucap Ansel datar
"Lalu?" tanya Alina tak kalah datar
"Apa kau tidak pernah berubah pikiran" tanya Ansel
"Tidak" ucap Alina santai masih dengan menatap lurus
"Alina pikirkan sekali lagi tentang tawaranku" ucap Ansel
"Kenapa kau selalu memaksaku untuk mau menikah denganmu?" tanya Alina dengan menatap Ansel
"Apa jangan jangan kau punya maksud tertentu" ucap Alina
"Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku tidak mau jika suatu saat nanti kau akan mengejarku untuk meminta pertanggung jawabanku" ucap Ansel
"Itu tidak akan pernah terjadi" ucap Alina penuh penekanan dan tatapan sinis.
"Ok aku tidak akan menganggumu lagi dan ingat dengan kata katamu" ucap Ansel
"Baik" ucap Alina tanpa takut
Ansel kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Alina yang tinggal beberapa menit saja. Mobil mewah Ansel berhenti tepat di depan pagar menjulang rumah Alina.
"Ingat kata katamu"
"Aku tidak akan mencarimu" ucap Alina
Alina keluar dari mobil Ansel dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menatap Ansel. Setelah memastikan Alina pulang dengan selamat, Ansel kembali menjalankan mobilnya menuju rumah miliknya.
Dalam waktu dua puluh menit Ansel sampai di rumahnya. Pria itu keluar dari mobilnya. Mata Ansel mengernyit saat melihat seseorang yang tak asing baginya berdiri dengan tegap di depan matanya.
__ADS_1
"Sejak kapan papa disini" tanya Ansel
"Baru saja" ucap pria yang berstatus sebagai ayah dari Ansel
"Aku tidak ingin lama lama ada hal yang harus aku bicarakan padamu" ucap Bramasta
"Apa?"
"Kita bicara di dalam" ajak Bramasta
.
.
Chen yang sibuk di ruangannya sambil mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya. Matanya menatap fokus pada layar datar di hadapannya.
"Baiklah pekerjaanku sudah selesai" ucap Chen dan meregangkan ototnya
"Oh ya aku masih penasaran dengan Alina" gumam Chen
"Dia cantik" puji Chen
"Dan aku lihat tidak ada yang mencurigakan dari Alina. Dia hanya wanita biasa. Tidak akan berbahaya untuk Ansel" ucap Chen
Ponsel milik Chen berdering. Dalam sekali gerakan ponsel itu sudah menempel di telinga Chen.
"Ok aku akan urus semuanya" ucap Chen dan mematikan sambungan teleponnya
Pria itu kembali melakukan tugasnya. Dan dalam waktu satu jam semua yang di perlukan sudah siap.
Chen berdiri dari duduknya dan menuju ruangan Ansel. Tanpa mengetuk Chen langsung masuk begitu saja. Itu sudah menjadi kebiasaan pria itu.
"Semuanya sudah siap" ucap Chen
"Bagus" ucap Ansel dengan datar masih fokus pada layar laptopnya
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Chen
"Apanya?" tanya Ansel balik
"Jangan berpura pura bodoh" ucap Chen
"Aku hanya akan pergi ke Sydney" ucap Ansel
"Kenapa mendadak?" tanya Chen
"Tidak mendadak. Ini sudah di rencanakan beberapa bulan yang lalu" ucap Ansel
"Tapi kau baru mengatakannya sekarang" ucap Chen
Suasana hening. Tidak ada yang berbicara. Chen duduk di sofa sambil memperhatikan Ansel bekerja.
"Apa kau tidak bertemu Alina?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Chen setelah beberapa saat ragu.
"Tidak. Aku menghindar darinya" ucap Ansel
"Berapa lama?" tanya Chen
"Dua bulan ini" ucap Ansel
"Why?"
"Tidak apa. Semuanya di antara kita sudah selesai" ucap Ansel
"Baiklah. Apa aku perlu ikut kau ke Sydney?" tanya Chen
"Ya. Kau akan mengetahui sesuatu disana" ucap Ansel
.
*Like dan Komen*
__ADS_1