Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
38.


__ADS_3

"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ansel Raharga Satya Putra dengan putri saya Alina Stella Putri Denarjaya dengan mas kawin uang seratus miliar dan emas seratus kilogram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap seorang pria dengan menjabat tangan Ansel


"Saya terima nikah dan kawinnya Alina Stella Putri Denarjaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Ansel dengan sekali tarikan nafas


"Bagaimana para saksi sah? Sah!!"


"Sah!!" ucap serentak dari para tamu yang hadir


Alina yang menatap peristiwa tersebut menjadi tercengang. What? Apa dia sedang bermimpi. Bukankah waktu itu Chen mengatakan jika pernikahannya batal. Lalu sekarang apa? Ansel memgucapkan kata kata sakral itu di hadapan penghulu sambil menjabat tangan papanya


Beberapa saat lalu


Alina yang baru saja terbangun dari pingsannya dirinya langsung di kejutkan saat merasa berada di tempat asing. Dimana ini? Benak Alina penuh dengan tanda tanya.


Alina memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Bersandar sebentar kemudian mengedarkan pandangannya. Suasana kamar yang sangat nyaman, indah, elegan dan terlihat mewah. Alina kagum dengan desain kamar ini.


Tapi tunggu dulu dimana dirinya sekarang dia tak mengenal tempat ini. Seingatnya dia tidak lupa ingatan dan dia tidak terbentur apapun. Alina yakin sekali ini pertama kalinya dia menginjakkan di ruangan itu.


Perlahan pintu terbuka dari arah luar. Beberapa orang masuk ke dalam kamar itu. Empat orang wanita dan salah satunya ada yang memegang sebuah gaun berwarna putih yang sangat indah.


"Kalian siapa? Dan aku dimana" tanya Alina


"Nyonya muda tenang saja anda berada di tempat yang aman" ucap salah satu wanita itu menjawab pertanyaan Alina

__ADS_1


"Silahkan ikut kami" ajak mereka


"Mau ngapain" tanya Alina waspada


"Kami akan merias anda nona" jawab salah satunya


"Untuk apa? Dan gaun itu untuk siapa?" tanya Alina masih tak paham dengan situasi ini


"Untuk anda nona" ucap Alina


"Apa ada acara di rumah ini" tanya Alina


"Iya"


Mereka berempat saling tatap bingung harus menjawab apa pertanyaan Alina itu


"Iya"


"Aku baru tau ada seseorang yang mengundang tamunya dengan cara menculiknya" ucap Alina dengan bersedekap dada


"Aku penasaran siapa pemilik acara ini" lanjut Alina


"Nona akan tau nanti"

__ADS_1


"Acaranya nanti?" Oh sejak kapan Alina menjadi banyak bicara seperti ini. Dia bukan Alina biasanya


"Iya nona lebih tepatnya empat jam lagi acara akan di mulai"


"Mmm baiklah" Alina akhirnya ikut keempat wanita yang mengajaknya itu.


Mereka meminta dirinya mandi terlebih dahulu agar terlihat segar. Dalam waktu dua puluh menit Alina keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya


Dirinya di dudukkan di sebuah kursi dan di hadapannya adalah meja rias yang sangat indah dengan ukiran yang tampak khas dan unik.


Para wanita itu mulai mengeluarkan alat tempurnya. Bukan senjata tajam melainkan peralatan make up. Mereka semua memulai pekerjaan mereka.


Beberapa jam kemudian Alina tampak sangat cantik dengan polesan make up yang sangat cocok dengan wajahnya. Tampak lebih elegan dan anggun.


Mereka berempat membantu Alina untuk mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna putih yang cukup berat itu. Memasangkan sepasang heels berwarna senada yang tampak sangat indah.


Alina berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wow sangat cantik. Bahkan dirinya mengangumi kecantikannya sendiri. Sedikit aneh tapi Alina memang tampak sangat cantik.


Wajah cantik naturalnya dan di tambah polesan make up membuatnya tampak terlihat semakin menawan.


"Jika seperti ini aku tidak tampak seperti tamu tapi sebagai pengantin" ucap Alina


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2