
"Hoekk" Alina menutup mulutnya. Alina langsung berlari menuju toilet.
Membiarkan kopernya berada di tangan Ansel. Ansel yang semula santai berbicara dengan Chen langsung menatap Alina yang sudah berlari menuju toilet.
"Ada apa dengan Alina" tanya Chen
"Entah" Ansel menitipkan kopernya dan juga koper Alina pada Chen. Ansel ikut berlari mengikuti Alina pergi.
Untuk masuk, Ansel tidak berani melakukan hal itu. Meskipun dirinya khawatir pada Alina. Ansel tidak pernah mengkhawatirkan siapapun lalu kenapa dirinya harus mengkhawatirkan seorang wanita saja.
Ansel tak peduli. Beberapa kali tangannya memukul dinding karena kesal. Sedari tadi Alina tak kunjung keluar. Mengusap wajahnya dengan gusar.
Beberapa menit kemudian Alina keluar dari dalam toilet. Ansel langsung menangkap tubuh Alina saat tubuh kecil itu hampir saja terjatuh.
"Kau kenapa?" tanya Ansel
Alina hanya menggelengkan kepalanya. Mendongak menatap wajah Ansel yang terlihat cemas.
"Kau mengkhawatirkanku?" Ansel hanya diam. Menatap wajah cantik yang sedang mendongak menatap wajahnya.
"Jawab pertanyaanku Alina kau kenapa" tanya Ansel
"Aku hanya mual" jawab Alina
"Sejak kapan"
"Dari beberapa minggu ini" jawab Alina dengan wajah lemas
"Kita ke dokter" ajak Ansel
"Gak!!" cegah Alina dengan wajah tegang
"Kenapa?" tanya Ansel
"Gapapa aku baik baik aja gak perlu ke dokter" ucap Alina
"Tapi kau terlihat lemas" ucap Ansel
"Aku baik" ucap Alina
"Kau yakin?" tanya Ansel
"Aku yakin" Alina berjalan menjauh dari Ansel. Namun Ansel langsung menyusul Alina
"Alina!! Ansel!!" teriak Chen memanggil dua manusia yang berjalan beriringan
__ADS_1
"Kopermu ada pada Chen" ucap Ansel
Alina berjalan menuju Chen yang tidak jauh dari posisinya.
"Biar aku mengantarmu. Kau akan tinggal dimana?" tanya Ansel
"Aku akan menempati apartemenku" ucap Alina
"Aku yang akan mengantarmu" ucap Ansel
"Gak perlu aku bisa sendiri" tolak Alina
"Alina!!" panggil Ansel dengan suara tertahan
"Huft baiklah" Chen memasukkan koper koper itu ke dalam mobil milik Ansel yang sudah berada di hadapan mereka. Dengan di bantu oleh sopir koper koper tersebut sudah berada di bagasi dengan rapi.
Perjalanan dari bandara menuju apartemen Alina memakan waktu dua puluh menit. Alina turun dari mobil Ansel. Ansel pun ikut turun dan membantu Alina menurunkan kopernya.
"Lantai berapa?" tanya Ansel
"Ansel aku bisa sendiri" ucap Alina dengan memegang kartu akses apartemennya
"Lantai sepuluh" ucap Ansel membaca pada kartu akses itu. Ansel menggandeng tangan Alina dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di lantai sepuluh mereka keluar dari dalam lift. Ternyata hanya ada dua apartemen disana.
"Aku punya" ucap Alina
"Lalu? Kenapa tidak disana"
"Aku ingin mandiri" ucap Alina ketus
Menyambar kartu akses yang ada di tangan Ansel dengan cepat dan membuka pintu apartemen miliknya.
"Masukkan koperku" perintah Alina dan masuk begitu saja
"Aku bukan pesuruhmu nona" sindir Ansel
"Bukankah aku sudah mengatakan aku bisa sendiri Ansel" ucap Alina geram
"Terserah" Ansel menarik koper Alina masuk ke dalam apartemen wanita itu. Cukup luas dan terlihat mewah.
"Kau akan berada di kamar mana" tanya Ansel
"Di lantai dua sebelah kanan" ucap Alina dan duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Biarkan saja dia memang sengaja memperlakukan Ansel seperti itu agar pria itu kesal.
__ADS_1
Setelah meletakkan koper Alina di dalam kamarnya, Ansel turun dan ikut duduk di samping Alina.
"Untuk apa kau disini? Urusanmu sudah selesai silahkan keluar pintunya ada disana" ucap Alina dengan menunjuk ke arah pintu
"Aku lapar. Masakkan aku sebagai bayarannya" ucap Ansel
"Gamau"
"Terserah aku akan tetap disini sampai makanan untukku ada" ucap Ansel
"Aku akan memesannya" ucap Alina dan membuka sebuah aplikasi
"Gakk!!" Tangan Ansel mencegah Alina untuk memesan makanan
"Kenapa? Bukankah kau tadi mengatakan lapar" ucap Alina
"Aku hanya ingin makan hasil masakanmu bukan memesan dari restaurant" ucap Ansel
"Yang mau memesan dari restaurant siapa bahkan aku berniat memesankan makanan untukmu makanan pinggir jalan" ketus Alina
Ansel tak membalas ucapan wanita itu yang kesal padanya. Ansel menatap Alina dengan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis bahkan sangat tipis. Alina memutar bola matanya malas. Menghela nafas panjang, Alina berdiri sambil menghentakkan kakinya.
"Setelah makan kau harus pergi" ucap Alina
"Ya" jawab Ansel malas
Tidak apa dia sangat rindu mengusili Alina setelah beberapa bulan tidak bertemu. Alina berjalan ke arah dapur dengan menghentakkan kakinya.
"Kau seperti raksasa jika seperti itu" ejek Ansel seketika mendapat tatapan tajam dari Alina
"Bodo amat" ketus Alina
"Aku takut bangunan ini roboh karenamu" lanjut Ansel dengan tertawa kecil
"Kau yang akan aku salahkan" ucap Alina
"Tak apa demi kamu" ucap Ansel
Alina mendengus sebal. Huft apa apaan itu
"Dasar mulut buaya kaya mulut comberan" cibir Alina
"Tapi mulutku manis" sahut Ansel
"Dih"
__ADS_1
.
*Like dan Komen*