
"Ada apa pa" tanya Ansel
"Kau tau asal usul wanita yang kau nikahi" tanya Bramasta
"Itu tidak penting bagiku" ucap Ansel
"Itu sangat penting bagaimana jika kau di jebak" ucap Bramasta
"Tidak. Aku yakin itu" ucap Ansel
"Ansel berpikirlah secara logis" ucap Bramasta
"Pa jika pagi pagi papa hanya akan mengajakku berdebat lebih baik Ansel pergi" ucap Ansel
"Ansel" panggil Bramasta saat melihat Ansel keluar dari dalam kamarnya.
Ansel masuk ke dalam kamarnya. Menatap Alina yang berada di depan meja rias. Rupanya wanita itu sudah bangun. Saat meninggalkannya tadi, Alina masih terlelap.
"Habis dari mana" tanya Alina dengan membalikkan badannya menatap Ansel
"Aku habis dari kamar papa" jawab Ansel dengan mencium kening Alina lalu masuk ke dalam kamar mandi
Alina melanjutkan kegiatannya kemudian masuk ke dalam walk in closet. Memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini.
Setelah berpakian lengkap dan rapi Alina keluar dan menunggu Ansel. Beberapa saat kemudian Ansel keluar hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya hingga menampakkan tubuhnya yang berotot.
"Aku akan ke perusahaan hari ini apa kau akan ikut" tanya Ansel
__ADS_1
Alina berpikir sejenak. Dia sedang malas ke perusahaannya sendiri. Akhirnya wanita itu menganggukan kepalanya.
"Baiklah tunggu aku" Ansel masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaian. Sebuah setelan jas tampak sangat indah menempel di tubuh gagah Ansel. Pria tampan itu tampak semakin berwibawa.
Alina dengan menggandeng lengan Ansel keluar dari dalam kamar. Mereka akan sarapan bersama di meja makan.
Rupanya Bramasta sudah menunggu mereka sedari tadi. Alina mengernyitkan dahinya. Dimana Luna?
"Taraaa sudah siap" ucap Luna dengan meletakkan makanan terakhir yang ia masak
"Kau yang memasak" tanya Ansel dan Luna mengangguk
Alina menggigit bibirnya merasa ragu dengan masakan Luna. Beberapa pikiran buruk terlintas di otak manis Alina.
"Kakak ipar kau akan makan kan" ucap Luna
Beberapa saat Alina terdiam sambil memandang makanan yang ada di hadapannya.
"Kak" panggil Luna
Alina menatap ke arah wanita itu. Tampak senyuman manis terukir di bibir Luna. Alina hanya tersenyum tipis kemudian dengan ragu memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya
Mengunyah perlahan kemudian menelannya. Beberapa detik Alina menunggu apakah ada reaksi lain yang terjadi saat dirinya memakan makanan buatan Luna.
"Aku tidak menambahkan racun jadi tenang aja" Bramasta menghentikan makannya dan menatap putrinya Luna.
"Ada apa" tanya Bramasta
__ADS_1
"Tidak ada" jawab Luna singkat
Hanya dua sendok yang Alina makan kemudian melatakkan sendoknya di atas piring. Ansel menoleh menatap istrinya itu.
"Ada apa" tanya Ansel
"Aku sudah kenyang" jawab Alina
"Baiklah"
Alina hanya menunggu Ansel makan hingga selesai. Alina meraih sehelai roti dan mengolesinya dengan selai kemudian memakannya. Setelah satu potong roti Alina makan wanita itu meminum segelas susu yang sudah di siapkan oleh pelayan.
"Aku penasaran susu apa yang kau minum itu" tanya Luna
"Susu yang sama yang aku minum semalam" jawab Alina santai
Luna merasa heran dan tidak yakin dengan jawaban Alina. Jawaban Alina sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luna.
"Kalian akan kemana? Apa pergi bersama" tanya Luna
"Kenapa kau terlalu penasaran dengan urusan kami" ucap Alina
"Itu wajar karena dia adiknya. Kau tiba tiba datang dan merebut perhatian Ansel membuat Luna harus beradaptasi dengan keadaan ini" sahut Bramasta
.
*Like dan Komen*
__ADS_1