Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
65.


__ADS_3

Ansel menebus resep yang di berikan oleh dokter setelah melakukan pemeriksaan. Ansel kembali mendekati Alina dengan kantung plastik di tangannya yang berisi vitamin.


"Udah?" tanya Alina


"Sudah ayo" ajak Ansel


Ansel dan Alina masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan area rumah sakit.


Tin..tin..


Sebuah mobil melaju dengan sangat cepat ke arah mobil Ansel yang hendak berbelok.


Sreett...


Brak...


Mobil Ansel sedikit oleng saat mendapat tabrakan itu. Alina menatap intens pada mobil yang telah menabraknya. Mobil yang sama yang selalu meneror dirinya.


"Aku menghafal nomor kendaraannya" ucap Alina


"Itu mobil yang sama"


"Apa maksudmu? Apa yang menerormu?" tanya Ansel


"Ya aku akan mencari taunya" Alina mengetikkan sesuatu di ponselnya


"Udah ayo jalan" ucap Alina


Ansel menjalankan mobilnya yang sedikit penyok bagian samping kanan. Untung saja tidak terbalik saat mendapat tabrakan itu. Siapapun itu dia pasti sudah gila.


Dengan kecepatan sedang Ansel melajukan mobilnya. Alina menatap ke arah luar dengan tatapan kosong. Ada beberapa hal yang menjadi pikirannya saat ini.


"Ansel stop" ucap Alina tiba tiba

__ADS_1


Ansel memberhentikan mobilnya sesuai permintaan Alina. Dengan cepat Alina keluar dari dalam mobil dan mendekati seorang pria yang sedang menerima telfon dengan bersandar pada bagian depan mobilnya.


Menyadari kedatangan Alina, pria itu mematikan ponselnya dan hendak kabur. Namun kalah cepat, Alina mencengkeram kerah bajunya dan menatap nyalang.


"Kau kan yang menabrakku tadi" ucap Alina dengan sinis dan salah satu alisnya naik.


"Kau menuduhku"


"Jangan berbohong" ucap Ansel datar dan muncul dari sisi lain pria itu


"Apa apaan kalian ini" ucap pria itu dengan kesal


"Kalian menuduhku tanpa sebab" ucap pria itu


Alina mengalihkan pandangannya ke arah bawah. Ponsel pria itu masih di genggam olehnya. Alina menyambar ponsel itu dengan cepat.


"Kembalikan!!! Itu ponselku" teriak pria itu


"Kau membawaku pada bosmu itu dan katakan padanya aku akan segera datang padanya" ucap Alina tanpa rasa takut


"Itu sama saja kau mendatangi kematianmu" ucap pria itu


"Siapa nona M itu" tanya Alina


"Kau akan megetahuinya nanti" ucap pria itu sinis


Bug


Ansel yang tidak sabaran langsung melayangkan pukulannya pada perut pria itu


"Jawab pertanyaan istriku" bentak Ansel


"Gak akan"

__ADS_1


Plak


Kali ini Alina turun tangan. Tamparan melayang di pipi kanan pria itu.


"Jawab pertanyaanku" bentak Alina


"Atau tidak..." Alina melirik ke arah bawah dan tangannya yang sudah menggenggam senjata api yang ia todongkan di perut pria itu


Mata pria itu membulat seketika. Alina tersenyum sinis.


"Kenapa? Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaanku" ucap Alina


"Itu sama saja aku tidak setia" ucap pria itu


"Untuk apa kesetiaanmu itu" pancing Alina menguji kesetiaan pria itu


"Apa akan berujung kematian"


"Aku tidak perduli aku mati atau hidup tapi aku tidak akan mengatakan apapun sebelum mendapatkan persetujuan dari bosku" ucap pria itu


"Berarti kau sanggup mati saat ini juga" pancing Alina


"Aku sanggup" Alina menarik pelatuknya dan sebuah peluru menembus perut pria itu.


"Kau membunuhnya" tanya Ansel


"Tidak aku hanya membuatnya pingsan beberapa saat" ucap Alina


Alina masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Ansel. Percuma juga bertanya pada orang itu. Menjadikannya tawanan? Itu bukan pilihan. Tidak akan memancing sang big bos itu muncul ke hadapannya.


.


*Like dan Komen*

__ADS_1


__ADS_2