Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
21.


__ADS_3

Sinar mentari menerpa celah gorden membuat tidur indah Alina terusik. Wanita itu mengerjapkan matanya sesaat menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.


Alina menggeliatkan tubuhnya dan tangannya tanpa sengaja mengenai sesuatu. Alina menoleh. Matanya membulat seketika.


"Ansel!! Sejak kapan kau ada disini" tanya Alina dengan histeris


Ansel membuka matanya dan duduk. Bahkan pria itu masih bisa minum dengan santai tanpa memperdulikan ocehan Alina.


"Ansel aku bertanya padamu" Ansel menoleh dan menatap wajah cantik Alina.


"Oh ya?"


"Jawab pertanyaanku" titah Alina dengan dingin


"Aku disini sejak semalam"


"Bukankah aku sudah mengunci pintunya" ucap Alina


"Ini kamarku aku punya kunci cadangannya berapapun yang aku mau" ucap Ansel santai


"Dan kau... bukankah kau bilang akan tidur di sofa" ucap Alina protes


"Itu berlaku jika kau tidak mengunciku di luar" ucap Ansel


Alina memasang wajah garang. Wanita itu berkacak pinggang. Matanya menatap Ansel dengan tajam.


"Apa kau...." tanya Alina menggantung ragu untuk melanjutkan kata katanya.


"Iya aku mengulanginya" ucap Ansel dan masuk ke dalam kamar mandi dengan santai.


Bug


Alina melempar guling ke arah Ansel namun terkena pintu kamar mandi yang sudah lebih dulu tertutup.


"Ansel gila!! Ansel sialan" umpat Alina


Ansel mandi dengan santai membiarkan ocehan Alina menjadi alunan musik baginya.


Alina keluar dari kamar Ansel dan menuruni anak tangga. Perutnya keroncongan. Semalam dia belum makan namun sudah di ajak aksi kejar kejaran.


Alina mencari dapur di rumah besar itu. Mata Alina berhenti pada satu titik. Dapur. Mata cantik itu berbinar seketika.


Sepasang kaki itu melangkah mendekati dapur. Alina membuka kulkas dan ternyata kosong. Hanya berisi satu telur saja.


"What!! Ini kulkas atau hati gue yak. Kosong gak ada isinya" ucap Alina dengan bersedekap dada.

__ADS_1


Alina menutup pintu kulkas dan mengacak rambutnya. Wanita itu duduk di kursi yang ada di meja dapur yang berbentuk seperti meja bar.


Tap..tap..tap..


Sepasang kaki melangkah mendekati area dapur. Alina langsung menatap curiga pada siapa yang datang itu. Bahkan di tangannya sudah ada pisau.


"Morning" sapa seorang pria dengan datar


"Kau rupanya" Alina meletakkan pisaunya saat melihat ternyata Chen yang datang.


"Kau kira siapa di rumah ini hanya ada kita" ucap Chen


"Dan Ansel jangan lupakan dia" ucap Alina mengingatkan


"Untuk apa kau ada disini" tanya Chen


"Aku hanya mencari makanan. Tapi tidak ada. Kulkasnya kosong dan hanya dingin seperti kamu" ketus Alina dan pergi


"Dia gak ngaca dirinya juga dingin" ucap Chen kesal


Alina kembali masuk ke dalam kamar Ansel. Bertepatan sekali dengan Ansel yang juga keluar dari kamar mandi.


Ansel menutup pintu kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk yang ada di tangannya.


"Ada apa" tanya Ansel datar


"Aku akan berganti pakaian dulu. Kemudian baru ku beri kau makan" ucap Ansel


"Huh!! Cepat jangan lama lama"


"Sabar"


"Gak ada kata sabar dalam kamusku" ucap Alina sambil meraih ponselnya.


Tak lama setelah Ansel masuk kembali, pria itu keluar sudah dengan pakaian lengkap dan rapi.


"Apa kau tidak mandi dulu"


"Setelah makan antarkan aku pulang. Aku akan mandi di rumahku sendiri. Aku takut jika disini kau akan meracuniku" ucap Alina santai


Ansel meraih jaket serta kunci mobilnya. Pria itu menarik tangan Alina dan membawanya keluar.


"Kalian mau kemana" tanya Chen yang berpapasan dengan Alina dan Ansel yang hendak turun.


"Kita akan makan. Sampai ketemu di rumahku nanti" ucap Ansel

__ADS_1


"Kau meninggalkanku? Aku juga belum makan" protes Chen


"Jangan menganggu waktuku dengan Alina" ucap Ansel dingin


"Ajak saja dia" Ansel menarik tangan Alina namun tangan Alina juga menarik tangan Chen agar ikut.


"Alina" tegur Ansel dengan tatapan tajam


"Dia sahabatmu kan? Dia juga lapar. Apa kau tidak mau berbagi" ucap Alina


"Aku tidak masalah berbagai apapun asal tidak waktuku denganmu" ucap Ansel


"Kita tidak ada waktu. Kita hanya butuh makan bukan waktu berdua" ucap Alina


Dan pada akhirnya Ansel mengalah mereka makan bertiga di restaurant.


"Kau yang menyetir" Ansel melempar kunci mobil dan di tangkap dengan baik oleh Chen.


Chen masuk ke bangku kemudi sedangkan Ansel duduk di bangku penumpang bagian belakang. Alina masuk ke bangku samping kemudi dan duduk dengan santai disana.


Ansel menatap tajam Alina dan Chen bergantian. Alis Ansel bertaut.


"Alina!! Duduk di sampingku" ujar Ansel memerintah


"Gamau aku sudah duduk disini ya disini" ucap Alina


"Alina!!" pekik Ansel


"Gak"


"Tidak akan ku beri kau makan"


"Aku tidak peduli" ucap Alina santai sambil bersedekap dada.


"Sudahlah pindahlah ke belakang. Aku sudah lapar" ucap Chen


Dengan kesal akhirnya Alina pindah duduk di samping Ansel. Huh hanya masalah tempat duduk saja dia buat menjadi ribet.


"Dasar ribet"


"Bodo amat. Chen jalan" perintah Ansel


Chen melajukan mobilnya menuju salah satu restaurant ternama. Mereka bertiga akan makan bersama disana.


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2