Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
33.


__ADS_3

"Sekarang kau sudah kenyang kan silahkan pulang" ucap Alina


"Kau mengusirku" tanya Ansel


"Iya" jawab Alina tanpa dosa


"Baiklah aku akan pulang jika butuh sesuatu telfon aku" ucap Ansel


"Bagaimana bisa?" ucap Alina


"Apa kau tidak tau cara menghubungi seseorang" tanya Ansel.


"Tau"


"Lalu apa yang kau tanyakan" tanya Ansel


"Yang aku tanyakan bagaimana bisa aku menghubungimu sedangkan aku tidak menyimpan nomor mu" ucap Alina


"Berikan ponselmu" pinta Ansel


"Untuk?"


"Berikan saja" Alina mengeluarkan ponsel miliknya yang ada di saku celananya. Dengan ragu memberikan ponselnya pada Ansel


"Untuk apa dulu" Alina kembali menarik ponselnya dan menatap Ansel dengan tatapan mengintimidasi


Ansel langsung menyambar ponsel Alina dan mengetikkan nomornya kemudian menyimpan nomornya sendiri yang ia beri nama suamiku.


"Apa apaan itu" protes Alina


"Diam dan menurut"


"Gak mau"


Ansel menghela nafas panjang. Ansel sedikit terkejut saat ponsel Alina tiba tiba di ambil kembali dengan cepat.

__ADS_1


"Pergilah" perintah Alina


Ansel kembali mengambil ponsel Alina. Membuka kamera dan mengambil foto mereka lalu menjadikannya sebagai wallpaper di ponsel Alina.


"Background yang bagus" ucap Ansel dan melangkah pergi


"Jangan merindukanku" teriak Ansel dan melambaikan tangannya


"Mimpi" balas Alina


Ansel hanya terkekeh melihat wajah kesal Alina. Menutup pintu apartemen Alina dan beralih pada apartemen miliknya yang baru saja ia beli beberapa saat lalu.


Terlihat Chen sedang tertidur pulas di atas sofa dengan satu kakinya menjuntai ke bawah. Beberapa kancing kemejanya sudah terbuka menampilkan tubuh atletis yang di milikinya.


"Kau seperti orang mabuk" cibir Ansel dan Chen terbangun. Menatap Ansel dengan setengah kesadarannya.


"Bukan mabuk tapi orang kelaparan. Kau membiarkan asistenmu kelaparan dan menunggumu" protes Chen


"Yang memintamu menungguku siapa" tanya Ansel dan duduk dengan santai di sofa yang ada di depan Chen dan hanya berbataskan sebuah meja persegi panjang


"Apa kau tidak lapar" tanya Chen


"Oh astaga kau benar benar keterlaluan sekali. Aku kelaparan sedangkan kau sudah kenyang. Bagaimana bisa kau makan disaat aku kelaparan" ucap Chen mendramatisir


"Drama" cibir Ansel


"Lo makan dimana" tanya Chen


"Di Alina"


"Dasar"


"Makan sana. Pesan sesuatu atau apa gue mau tidur" ucap Ansel dan masuk ke dalam kamarnya.


Menutup pintu dengan kakinya sambil membuka kancing kemejanya kemudian membuang ke sembarang arah. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.

__ADS_1


Berendam di bathup beberapa saat kemudian mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Melilitkan handuk di tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.


Air yang menetes dari rambut Ansel yang basah menambah kadar ketampanannya. Membuka kopernya dan mengambil sebuah kaos kemudian memakainya.


Tok..tok..tok..


Ansel mengerutkan dahinya. Melangkah menuju pintu dan membukanya. Chen cengengesan saat melihat dirinya keluar dari kamar.


"Lo kesambet?" tanya Ansel


Bug


Chen memukul bahu Ansel cukup keras.


"Ada apa" tanya Ansel


"Haha tau aja"


"Tadi.. lo kan nyuruh gue pesen makanan tuh" Ansel langsung masuk begitu saja tanpa mendengar ucapan Chen sampai selesai


"Astaga tuh anak di jelasin malah kabur" Tak lama Ansel kembali dan menipuk Chen dengan beberapa lembar uang di dahi pria itu


"Itu kan yang lo mau" ucap Ansel


"Lo tau aja" ucap Chen


"Huft"


"Gue tuh gak ada uang cash" ucap Chen


"Bodo amat"


Brak


Ansel kembali menutup pintu kamarnya dengan kasar. Membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya.

__ADS_1


.


*Like dan Komen*


__ADS_2