
Alina duduk dengan santai sambil menatap kaca jendela pesawat. Sesekali wanita itu menyibukkan dirinya dengan sesuatu.
Alina menoleh ke arah samping. Matanya bertemu dengan netra seseorang yang sudah beberapa bulan ini tidak ia temui.
"Ansel" panggil Alina
Ansel hanya diam. Tak menjawab dan tidak melakukan apapun. Alina menghela nafas panjang.
"Bisakah kau pindah duduk di sebelahku" ucap Alina
"Tidak. Itu akan terisi seseorang" ucap Ansel datar
Dari beberapa bulan dia menghindar hari ini dirinya kembali muncul di hadapan Alina. Tanpa mereka sadari mereka berada di pesawat yang sama.
"Harusnya Raisa. Tapi dia meninggalkan paspornya" ucap Alina
Ansel diam sejenak. Haruskah dia pindah di samping Alina. Ok baiklah Ansel pindah ke sisi Alina meninggalkan Chen yang semula duduk di sampingnya.
"Apa kabar" tanya Ansel dingin.
Alina menoleh menatap Ansel. Beberapa bulan yang lalu Ansel tidak seperti ini tiap kali bertemu dengannya. Kenapa sekarang menjadi canggung. Padahal dulu mereka selalu berdebat setiap kali bertemu. Alina tak perduli soal itu.
"Baik" jawab Alina tak kalah dingin
"Ok"
What? Hanya ok. Astaga rasanya Alina menyesal telah meminta Ansel pindah di sisinya. Awalnya dia berniat untuk mencari tempat ngobrol namun malah suasana canggung menyelimuti mereka.
Alina yang mulai mengantuk tanpa sadar matanya perlahan terpejam. Ansel hanya menatap lurus ke arah depan. Tak mau menatap wajah cantik Alina.
__ADS_1
Ansel melirik sekilas ke arah Alina ternyata wanita itu terpejam. Tangan pria itu terulur menyentuh rambut Alina yang sedikit berantakan dan merapikannya.
Membawa kepala Alina masuk ke dalam pelukannya terlihat wanita itu tampak lebih nyaman dari posisi sebelumnya.
"Apa dia tertidur" tanya Chen berbisik
"Ya" jawab Ansel singkat
Chen hanya memperhatikan Alina dari arah samping tanpa banyak bertanya lagi. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Chen saat menatap wajah cantik Alina.
Ansel mengusap rambut Alina dengan lembut. Menggenggam tangan mungil wanita itu yang terlihat kecil saat di bandingkan dengan tangan kekar miliknya.
Tangan Ansel beralih pada hidung mancung Alina kemudian mengusap kedua mata Alina yang terpejam.
"Aku telah melanggar janjiku" ucap Ansel
"Apa kau belum tidur" tanya Ansel yang tertangkap basah berani menyentuh wajah cantik Alina.
"Sudah namun aku masih belum terlelap" ucap Alina
Ansel melepaskan pelukannya dan membiarkan Alina duduk dengan tegak di sampingnya.
"Katakan janji yang mana yang kau maksud" tanya Alina
"Apa kau terbangun karena ulahku" tanya Ansel mengalihkan pertanyaan dari Alina
"Jangan mengalihkan pembicaraan Ansel" ucap Alina sedikit kesal
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya sedang bertanya padamu" ucap Ansel
__ADS_1
"Ya aku terbangun karena ulahmu" ucap Alina menjawab pertanyaan Ansel
"Sekarang jawab janji yang mana yang kau maksud" tanya Alina
"Tidak ada" jawab Ansel
"Jangan berbohong"
"Aku tidak sedang berbohong" ucap Ansel
"Katakan Ansel" perintah Alina penuh dengan penekanan
"Janji dimana aku harus menghilang dari pandanganmu. Bukankah itu mau mu?" tanya Ansel
Alina terdiam. Ya memang dulu dia menginginkan Ansel untuk menghilang dari hadapannya
"Lalu dimana kau selama beberapa bulan ini" tanya Alina
"Masih ada di dekatmu" jawab Ansel
"Tapi aku tidak melihatmu" ucap Alina
"Yang tidak terlihat belum tentu tidak ada" jawab Ansel
Alina hanya diam. Memang benar apa yang di katakan Ansel. Lalu kenapa dia memaksa Ansel untuk menjawab pertanyaannya itu. Bukankah dia yang menginginkan Ansel untuk menjauhi dirinya
.
*Like dan Komen*
__ADS_1