Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
45.


__ADS_3

"Seorang penghianat akan terus berhianat"


"Tidak ada pengampunan bagi seorang penghianat"


"Kau... akan menanggung akibat dari penghianatanmu"


Plak


Alina menampar seorang pria yang terduduk di hadapannya. Wajahnya sudah babak belur. Banyak luka lebam yang ada di wajahnya.


Sebuah pisau tajam sudah berada di tangan Alina. Wanita itu menatap sinis dengan senyum tersungging.


"Kau berpihak pada siapa" ucap Alina dengan mengangkat dagu pria itu menggunakan pisau yang ada di tangannya.


"Aku tidak berpihak pada siapapun. Aku butuh uang dan seseorang memberiku banyak uang asal aku berhasil mengambil sebuah berkas dan memberikannya padanya" ucap pria itu


"Kau fikir berkas itu bukan berkas penting hah" ucap Alina dengan nada naik satu oktaf


"Untung saja kau mengambil berkas palsu yang memang sudah ku siapkan untuk menjebak orang orang penghianat sepertimu" ucap Alina dengan tersenyum sinis


"Raisa" panggil Alina


Raisa masuk ke dalam ruangan yang hanya ada Alina dan pria itu.


"Bawa dia ke kantor polisi" Alina keluar dari ruangan itu setelah membuang pisaunya di sudut ruangan. Melepas sarung tangan transparan yang ia pakai kemudian membakarnya di tong sampah.


"Setelah ini buang sampah ini" perintah Alina dan pergi.


.


"Astaga dimana Alina" Ansel mengacak rambutnya kasar. Frustasi mencari wanita itu.

__ADS_1


Salah satu anak buahnya melihat Alina berada di perusahaan namun saat disana Alina sudah kembali menghilang lagi.


"Cepat cari Alina lagi" perintah Ansel


"Tidak perlu" Suara seorang wanita masuk ke dalam rumah dengan tatapan dingin.


"Alina" Ansel mendekati Alina dan hendak menyentuh wanita itu. Namun dengan cepat Alina memundurkan tubuhnya menghindar


"Ada apa. Kau habis dari mana" tanya Ansel


"Dari luar" jawab Alina datar


"Kau tidak pulang semalaman" ucap Ansel


"Ya"


"Ada papa dia mencarimu" ucap Ansel memberi tahu


"Alina" panggil Ansel


Ada apa dengan Alina kenapa sikapnya kembali dingin batin Ansel dengan menatap punggung Alina yang bergerak menjauh


Langkah Alina terhenti saat menatap seseorang yang berada di dalam lift. Wanita yang cukup cantik namun masih kalah jauh dengan kecantikan Alina.


Alina masuk ke dalam lift tanpa menyapa wanita yang ada di sampingnya.


"Apa kau istri Ansel" tanya wanita itu


Alina yang sedari tadi diam kemudian menoleh. Tatapannya yang datar dan dingin seketika membungkam mulut wanita itu.


"Aku akan keluar" Wanita tersebut kembali membuka pintu lift dan keluar membiarkan Alina seorang diri di dalam lift itu.

__ADS_1


Wanita tersebut menatap ke arah lift dengan perasaan kesal. Entah kesal karena apa tidak ada yang tau hanya Luna sendiri yang mengetahui mengapa dia kesal.


Ansel yang berjalan cepat ke arah lift menjadi pusat perhatian Luna.


"Ansel" panggil Luna


Ansel hanya melirik sebentar kemudian masuk ke dalam lift.


"Ansel!!" ucap Luna dengan kesal


Tring


Pintu lift terbuka lebar. Ansel keluar dari dalam lift dan masuk ke dalam kamarnya. Alina yang sedang duduk di hadapan laptopnya pun menoleh.


"Alina" panggil Ansel


Alina kembali memusatkan perhatiannya pada layar laptop yang masih menyala. Tenggelam dengan kesibukannya sendiri dan menghiraukan keberadaan Ansel.


Ansel memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menatap wajah Alina dari samping.


"Lepaskan" ucap Alina datar


"Kenapa"


"Aku jijik di peluk oleh seseorang yang sudah memeluk tubuh wanita lain. Apa jangan jangan bahkan kau sudah menyentuhnya" ucap Alina


"Siapa yang kau maksud? Kenapa kau menuduhku" tanya Ansel


"Bukankah kau tidak mempercayaiku? Itu sama hal nya dengan menuduhku" ucap Alina dingin


.

__ADS_1


*Lika dan Komen*


__ADS_2