
Alina makan dengan lahap setelah memesan beberapa saat yang lalu. Alina fokus pada makanan yang tersaji di hadapannya.
Beberapa saat kemudian makanan yang di santap oleh Alina telah habis tak tersisa. Alina berdiri sambil menyelempangkan tas di bahunya sebelah kiri.
Melangkah menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah selesai Alina berjalan menuju pintu keluar restaurant tersebut.
Sekelebat bayangan seseorang yang dapat ia tangkap dari sudut matanya membuat perhatian Alina teralih. Sosok seseorang tengah berdiri membelakangi kaca yang di tatap oleh Alina. Wanita itu menoleh menatap punggung pria yang mirip dengan seseorang.
"Apa itu Ansel" gumam Alina
Alina melangkah mendekati pria itu namun sepertinya pria itu menyadari jika Alina mulai mendekat saat mencium bau parfume Alina yang khas.
Ansel menoleh sedikit menatap Alina dengan sudut matanya. Dengan cepat Ansel berjalan menjauh.
"Ans..." panggil Alina yang kemudian ragu
"Apa itu benar Ansel?" gumam Alina tak yakin
Tapi perasaannya mengatakan jika pria itu adalah Ansel. Alina menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari restaurant itu.
Kembali menyebrangi jalan kali ini lebih hati hati lagi. Tanpa dia sadari jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikan dirinya.
Setelah memastikan jika Alina benar benar selamat dan sudah masuk ke area perusahaan, Ansel kembali masuk ke dalam restaurant.
Tap..tap..tap..
__ADS_1
"Selamat siang nona" sapa salah satu karyawan yang hanya di balas anggukan oleh Alina
Alina masuk ke dalam lift untuk menuju lantai ruangannya. Dalam beberapa menit pintu lift terbuka dan Alina kembali berjalan.
"Nona semuanya sudah siap" ucap Raisa
"Baiklah besok kita berangkat" ucap Alina dan masuk ke dalam ruangannya.
Alina kembali di sibukkan dengan berbagai pekerjaan. Beberapa berkas sudah menunggu dirinya untuk di tanda tangani.
.
Sreeekkk
Alina menutup kopernya dan meletakkan di sebelah ranjang. Wanita itu menatap jam yang sudah melingkar indah di tangannya. Pukul tujuh pagi. Dua jam lagi adalah jam keberangkatannya.
Alina mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Memakannya dalam hitungan menit. Setidaknya perutnya sudah terisi dengan sesuatu itu sudah cukup.
Setelah menghabiskan rotinya, Alina menegak segelas susu di hadapannya sampai habis. Ponsel Alina yang berada di atas meja berdering.
"Ya?"
"Apa nona sudah siap?" tanya Raisa
"Sudah" ucap Alina
__ADS_1
"Apa saya harus ke rumah nona atau bertemu langsung di bandara" tanya Raisa
"Ah tidak perlu kita bertemu di bandara saja" ucap Alina dan mematikan sambungan telepon secara sepihak
"Pelayan" teriak Alina
Beberapa orang berseragam pelayan menghampiri Alina yang masih duduk santai di kursi makan.
"Iya nona apa nona butuh sesuatu" tanya pelayan itu
"Ikut aku" Alina berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya
"Bawakan koperku ke bawah" perintah Alina dingin
Pelayan tersebut mengangkat koper Alina dan membawanya ke bawah sesuai perintah sang nona muda.
Alina mengambil tas miliknya dan ikut turun ke bawah. Sebelum masuk ke dalam mobil Alina berbicara sesuatu pada para pekerjanya.
"Dalam beberapa hari ke depan saya ada di luar negeri jaga rumah baik baik. Jika terjadi sesuatu kabari aku" ucap Alina
"Baik nona" ucap mereka serentak
Alina masuk ke dalam mobil yang sudah siap sedari tadi. Perjalanan dari rumah Alina ke bandara mungkin memakan waktu kurang lebih empat puluh menit.
Sang sopir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang keluar dari area rumah megah Alina. Sedangkan Alina tampaknya wanita itu sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*