
Ceklek
Seorang pria masuk ke dalam kamar. Matanya memicing saat seseorang tidur dengan indah di ranjangnya. Memang ini bukan rumahnya, tapi jika dia kesini selalu tidur di kamar ini.
"Siapa dia" gumam Chen bertanya tanya
Chen mendekati tubuh wanita yang tidur lelap dengan tertutup selimut sampai ke wajah. Chen berjongkok mensejajarkan tubuhnya agar bisa menatap wajah itu.
Perlahan Chen membuka selimut dan dirinya langsung berdecak kesal.
"Aku lupa jika bukan hanya ada aku dan Ansel disini. Rupanya kau mneyelinap masuk ke kemarku" gumam Chen
"Siapa sebenarnya kau? Mengapa kau selalu di lindungi oleh Ansel" ucap Chen
Rasa penasaran Chen membuat pria itu mengulurkan tangannya menyentuh rambut indah Alina. Cantik. Wanita itu memang sangat cantik. Chen kagum akan kecantikan Alina.
"Jangan terlalu lama memandangku. Aku takut kau jatuh hati padaku nantinya" ucap Alina masih dengan mata terpejam
Chen memundurkan tubuhnya. Wanita itu masih belum lelap rupanya. Atau instingnya yang terlalu kuat.
Alina membuka matanya dan menatap Chen datar. Wanita itu menyisir rambutnya sendiri dengan jemarinya agar rapi.
"Aku tidak sengaja menyelinap masuk ke kamarmu" ucap Alina
Alina beranjak hendak bangun namun tangan Chen langsung menahan tubuhnya.
"Tidak perlu kau bisa istirahat disini" ucap Chen
Alina tetap berdiri dan berjalan sambil berkata "Aku akan tidur di kamar lain." Namun Chen lagi lagi menahan tangan Alina hingga wanita itu tertarik dan terjatuh. Untung saja Chen dengan sigap menahan tubuh Alina.
Chen menatap kedua bola mata Alina yang sangat indah. Seolah memancarkan sinar hipnotis, Chen terdiam mengagumi wajah cantik Alina.
"Chen" sentak Alina
Chen membantu Alina berdiri. Dirinya merasa sedikit gugup namun dia berusaha mengalihkan dengan berpura pura membereskan bajunya yang tidak kenapa napa.
__ADS_1
"Maaf" ucap Chen singkat.
"Hm" Alina melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar itu.
"Jika kau membutuhkan sesuatu panggil aja aku" ucap Chen sebelum Alina keluar
"Ya" balas Alina singkat. Alina beralih pada kamar yang ada di samping kamar Chen.
Ceklek
Alina membuka pintu itu. Kepala Alina masuk untuk memantau apakah ada orang. Kosong. Baguslah. Alina perlahan membuka pintu lebih lebar.
"Apa kau akan menjadi pencuri sekarang" ucap seseorang di belakang Alina membuat wanita itu terkejut. Hingga punggung wanita itu menatap pintu namun pintu itu semakin mundur membuat Alina hampir terjatuh.
Ansel menarik tangan Alina dengan cepat sampai wanita itu menabrak dadanya. Rambut Alina yang tergerai indah menarik perhatian Ansel. Ansel mencium wangi rambut Alina yang tepat berada di hidung mancungnya.
"Ansell" pekik Alina
"Kenapa" tanya Ansel
"Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan" ketus Alina
"Kau memelukku dengan dalih menolongku" ucap Alina ketus
"Aku memang menolongmu"
"Kau bohong"
"Aku jujur" ucap Ansel
"Bukankah kau yang masuk ke dalam kamarku" ucap Ansel
"What? Ini kamarmu?" tanya Alina dengan menunjuk kamar yang ada di belakang tubuhnya
"Iya" Alina membulatkan matanya. Astaga dia salah masuk kamar lagi.
__ADS_1
"Ya... mana aku tau"
"Heh bukankah kau juga nyaman dalam pelukanku. Kau juga membalas pelukanku tadi" ucap Ansel
"Enggak"
"Sekarang kau yang bohong"
"Terserah" Alina berjalan menjauh namun Ansel langsung berjalan dengan cepat dan berhenti tepat di hadapan Alina.
"Atasan sama anak buah sama aja kelakuannya ucap Alina
"Apa maksudmu?"
"Tidak"
"Tidurlah disana" ucap Ansel
"Denganmu? Gak!!" tolak Alina terang terangan
"Aku akan tidur di sofa"
"Gak ya gak"
"Yakin? Disini hanya ada dua kamar" ucap Ansel
Alina terdiam. Oh ayolah dia sangat mengantuk saat ini. Alina masuk ke dalam kamar Ansel begitu saja. Namun saat Ansel hendak masuk wanita itu langsung menguncinya dari dalam.
"Alina buka pintunya" teriak Ansel
"Tidur saja di luar"
"Itu kamarku"
"Aku tidak peduli" ucap Alina santai dan tidur.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*