
Chen membalikkan badannya. Segerombol orang mendekati mereka. Dan di tangan mereka membawa senjata api.
"Kita harus pergi" Ansel membawa Alina lari dan Chen berusaha melumpuhkan mereka. Namun jumlah yang tak sebanding akhirnya Chen hanya ikut berlari.
Dor
Ansel melindungi kepala Alina menggunakan tangannya. Untung saja peluru itu tidak menembus kepala wanita di sampingnya.
Hingga ketiga orang itu berhenti saat mereka sampai di ujung. Pagar menjulang tinggi berdiri kokoh di hadapan mereka.
"Kita panjat" Chen langsung memanjat pagar itu tanpa berpikir panjang. Mereka tak punya banyak waktu.
"Memanjatlah" perintah Ansel
"Kenapa tidak kau dulu saja"
"Ini bukan waktunya berdebat"
Alina memanjat pagar itu dengan sangat ahli. Karena kurang hati hati kaki Alina terpeleset dan tubuhnya terjatuh ke bawah. Untung saja Chen dengan sigap menangkap Alina jika tidak wanita itu akan terjatuh ke tanah.
Chen menatap intens wajah cantik Alina. Mata pria itu tak lepas dari wajah Alina yang ada di hadapannya.
Pantas saja Ansel begitu membelanya batin Chen
"Ansel cepatlah aku tunggu di ujung jalan" ucap Chen dan berlari masih dengan membawa tubuh Alina.
"Turunkan aku dulu"
"Itu terlalu lama"
Ansel memanjat pagar dan berlari mengikuti Chen yang membawa Alina. Sesampai di ujung jalan ternyata Chen sudah berada di sebuah mobil. Cepat sekali pria itu bertindak.
Ansel masuk ke dalam bangku penumpang bagian belakang. Sedangkan Alina duduk di samping Chen. Dengan kecepatan penuh Chen melajukan mobilnya menghilang dari area rumah sakit.
"Sejak kapan kau ada disana" tanya Ansel datar
__ADS_1
"Dimana?"
"Mengintipku"
"Tidak"
"Bohong"
"Aku tidak bohong"
"Kenapa kau mengikutiku" tanya Ansel dingin
"Jangan GR"
"Jelas jelas aku memergokimu sedang berada di balik dinding"
"Lalu? Urusannya dengamu apa" tantang Alina
Ansel diam. Percuma dia melanjutkan perdebatan. Dia tidak akan pernah menang melawan wanita itu.
Chen membawa mobilnya ke arah salah satu rumah Ansel yang cukup dekat dengan area rumah sakit. Dalam hitungan menit mobil sudah memasuki area rumah megah Ansel
"Aku" jawab Ansel singkat dan masuk ke dalam rumah.
Pria itu membuka pintu rumahnya dan masuk. Chen pun ikut mengekor di belakang Ansel. Sedangkan Alina masih berada di luar.
"Huh" keluh Ansel dengan membanting tubuhnya ke sebuah ranjang yang ada di kamarnya.
"Mereka anak buah Jack?" tanya Ansel
"Ya"
"Pantas saja"
"Untuk apa mereka mengejar kita" tanya Chen
__ADS_1
"Bukan. Dia hanya mengejar Alina"
"Untuk? Bukankah urusannya denganmu" tanya Chen
"Dia ingin menahan seseorang yang bisa menjadi kelemahanku"
"Inilah yang tidak aku suka darimu" ucap Chen
"Hm"
Ansel terbangun dari posisinya dengan cepat. Ingatannya kembali pada Alina. Astaga dimana wanita itu
"Dimana Alina" tanya Ansel
"Mana ku tau tadi dia di luar" ucap Chen santai sambil memainkan ponselnya.
Ansel meremas sprei dengan kesal. Pria itu langsung mengambil dengan paksa ponsel Chen.
"Apa apaan sih. Kembaliin" ucap Chen kesal
"Cari Alina"
"Gak"
"Cari Alina atau gue banting hp lo" ancam Ansel
"Astaga nyusahin tuh cewek" umpat Chen kesal.
Ansel keluar dari kamarnya dan mencari Alina. Pikiran Ansel mulai berpikir tidak tidak. Apa jangan jangan wanita itu di culik.
"Alina" teriak Ansel
Ansel berjalan menyusuri seluruh sisi rumahnya mencari wanita itu yang tiba tiba menghilang.
"Alina!! Jangan bersembunyi kaya tikus" ucap Ansel
__ADS_1
.
*Like dan Komen*