
"Aku pergi dulu" ucap Chen saat sudah memastikan dan mengantarkan Alina sampai ke depan ruangannya.
"Hm bukankah aku sudah bilang kau cukup mengantarkan aku sampai lobby saja" ucap Alina
"Aku hanya memastikanmu baik baik saja" ucap Chen dengan terkekeh pelan
Alina masuk ke dalam ruangannya dan Chen membalikkan badannya hendak pergi.
Bruk
"Astaga" pekik Chen saat tak sengaja menabrak tubuh seorang wanita cantik.
"Gue gak sengaja" ucap Chen dan membantu Raisa berdiri.
"Tidak apa" Raisa masuk ke dalam ruangan Alina setelah mengetuk pintu dan mendapatkan ijin dari sang pemilik ruangan
Chen masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Mengendarai mobilnya meninggalkan area perusahaan Alina.
"Nona Alina" panggil Raisa
"Ya"
"Nanti siang ada meeting dengan salah satu klien kita" ucap Raisa
Alina menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Raisa dengan dahi mengkerut.
"Klien yang mana" tanya Alina
"Baru beberapa hari ini menjalin kerja sama dengan perusahaan kita" ucap Raisa
"What? Aku merasa tidak pernah menyetujui kontrak apapun" ucap Alina
"Tapi dia mengatakan jika nona sudah setuju dan menandatangi surat kerja sama" ucap Alina
"Maafkan saya nona" ucap Raisa
"Seharusnya kau mengklarifikasinya padaku Raisa" ucap Alina dengan mengusap wajahnya kasar.
"Apa kontrak itu sudah di laksanakan" tanya Alina
"Akan di mulai"
__ADS_1
"Batalkan" perintah Alina
"Kapan meetingnya" tanya Alina
"Dua jam lagi"
"Ok kau bisa keluar" Raisa keluar dari ruangan Alina.
Alina kembali fokus pada layar laptop miliknya. Kemudian sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya membuat konsentrasi Alina buyar seketika.
Menatap layar ponselnya yang menyala kemudian meletakkannya lagi. Membiarkan panggilan itu masuk tanpa niatan untuk menjawabnya.
"Kau baru menghubungiku sekarang Ansel" ucap Alina dengan menatap tajam ke arah depan.
Mengingat informasi yang di berikan oleh bawahannya membuat emosi Alina memuncak seketika. Kedua tangan Alina bertumpu pada meja dan wajahnya ia tenggelamkan di antara kedua tangannya menatap meja.
"Inilah hal yang aku benci jika memiliki hubungan komitmen dengan seseorang" ucap Alina sambil menyugar rambutnya ke belakang
Brak
Melirik ke arah ponselnya yang masih terus menyala. Tangan Alina meraih ponsel miliknya dan menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Ya?"
"Hm"
"Apa kabarmu? Kau baik baik saja kan?" tanya Ansel
"Hampir mati" ketus Alina
"Maafkan aku" ucap Ansel
"Ya" jawab Alina datar
"Alina" panggil Ansel
"Hm?"
"Lusa aku akan pulang" ucap Ansel
"Untuk apa kau pulang" tanya Alina
__ADS_1
"Karena aku merindukanmu" ucap Ansel
"Oh ya? Aku sama sekali tidak mempercayainya" ucap Alina enteng
"Kau tidak percaya padaku?" ucap Ansel
"Untuk apa aku mempercayaimu" tantang Alina balik
"Tapi aku benar benar merindukanmu" ucap Ansel
"Oh tapi aku tidak" jawab Alina sambil mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.
"Kenapa kau menjadi dingin padaku" ucap Ansel
"Bukankah ini memang sifatku" ucap Alina dengan meraih berkas yang ada di atas mejanya. Membaca beberapa laporan yang di berikan paada dirinya.
"Kau berbeda" ucap Ansel
"Faktor hamil" jawab Alina santai
"Ah iya apa anak kita baik baik saja" tanya Ansel melupakan kondisi anaknya yang hampir saja kehilangan nyawa
"Berapa lama kau mati Ansel" bentak Alina langsung
"Sayang sayang tenang dulu" ucap Ansel yang langsung gelagapan saat mendengar nada tinggi istrinya. Dia sangat tau jika Alina marah karena dia menghilang selama berhari gari dan di saat dirinya menghilang bagai di telan bumi, Alina hampir saja kehilangan anaknya.
"Kau terlalu bersenang senang disana Ansel hingga melupakan jika aku sedang hamil iya!!" bentak Alina
"Aku tidak pernah melupakan itu" ucap Ansel
"Dan kenapa kau sekarang menghubungiku? Apa kau baru saja kembali dari kematianmu itu" teriak Alina
Untung saja ruangannya kedap suara jika tidak maka orang orang yang ada di luar akan mendengar teriakannya.
"Sayang aku bisa jelaskan padamu" ucap Ansel
"Aku tidak pernah membutuhkan penjelasanmu" ucap Alina dan langsung mematikan sambungan telepon
Emosi? Tentu saja bagaimana bisa dengan entengnya Ansel melupakan anak yang sedang di kandungnya. Apalagi kini dirinya sedang hamil maka emosinya tidak stabil.
.
__ADS_1
*Like dan Komen*