Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
37.


__ADS_3

Alina yang sedang asik berjalan santai di taman sambil bermain ponsel. Memakai headset yang terpasang di telinga kanan dan kirinya.


Beberapa hari yang lalu dia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dan besok adalah kedatangan keluarganya.


Masih berada di Amerika Serikat. Mungkin beberapa minggu dirinya akan menetap disini sementara kemudian kembali lagi ke London.


Alina bersantai ria sambil mendengarkan alunan musik yang terdengar indah di kedua telinganya.


Melangkah dan sesekali berlari kecil memutari taman yang berada tak jauh dari area apartemennya.


Kemudian Alina berinisiatif menghubungi Chen untuk menanyakan bagaimana persiapan pernikahannya dengan Ansel yang tinggal beberapa hari saja


"Hallo Chen" sapa Alina


"Ya? Ada apa" tanya Chen


"Bagaimana persiapan pernikahanku dengan Ansel" tanya Alina


"Pernikahan? Apa kau belum tau Alina" ucap Chen


"Belum tau? Soal apa" tanya Alina


"Apa terjadi sesuatu"


"Apa Ansel tidak mengatakannya padamu" tanua Chen

__ADS_1


"Mengatakan apa? Aku tidak paham. Katakan dengan jelas" ucap Alina kesal


"Beberapa hari lalu saat aku bertanya pada kalian jika kalian akan menikah dan saat aku mulai mempersiapkan semuanya tiba tiba Ansel menghubungiku dia mengatakan jika pernikahannya batal" ucap Chen menceritakan


"What? Ada apa dengan Ansel kenapa dia membatalkan pernikahan secara sepihak"


"Kau tanya saja padanya" Alina mematikan sambungan telepon dengan kesal


"Ada apa dengan pria itu apa dia main main" ucap Alina


Tanpa sadar beberapa orang tengah mengintai dirinya. Dan dengan sekali gerakan Alina sudah jatuh pingsan karena sebuah obat bius yang wanita itu hirup.


Tubuh Alina di bawa masuk ke sebuah mobil dan melaju dengan cepat ke suatu tempat. Hanya dalam waktu tiga puluh menit mereka sampai di sebuah mansion mewah. Terlihat sangat elegan dengan nuansa emas dan hitam.


"Rencanamu akan gagal" ucap pria itu dengan senyum sinis


Mengangkat tubuh Alina dan masuk ke dalam sebuah lift yang di lapisi oleh kaca dan terdapat taburan emas yang menambah kesan mewah.


Menekan tombol berangka lima perlahan lift itu bergerak naik menuju lantai yang di maksud. Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka lebar. Langkah tegap pria itu kembali melangkah keluar


Di lantai itu hanya ada dua kamar. Pria itu membawa tubuh Alina masuk ke dalam salah satu kamar setelah membuka passcode pintu kamarnya yang terbuat dari kayu dan berwarna emas.


Meletakkan tubuh Alina di atas ranjang king size miliknya dan menatap wajah Alina dengan intens.


"Kita tunggu besok" ucap pria itu kemudian pergi.

__ADS_1


Setelah pintu tertutup, pintu kamar akan terkunci secara otomatis dan hanya bisa di buka oleh seseorang yang mengetahui password kamar tersebut.


Tap.. tap... tap...


Kali ini pria itu tidak menggunakan lift melainkan tangga yang melingkar indah.


"Bagaimana persiapannya" tanya pria itu


"Hampir selesai" ucap salah seorang melaporkan pada pria tersebut.


"Huftt mari kita bermain main sebentar" ucap pria itu


Berjalan ke arah bar mini yang ada di rumahnya. Namun tidak meminum apapun. Dirinya hanya duduk sambil menatap layar ponselnya dengan intens.


"Kau berani macam macam denganku kau akan tau akibatnya sendiri" ucap pria itu


Jari jarinya mengetuk di atas meja yang terlapisi marmer berwarna hitam dengan gemerlap emas.


Melirik ke arah jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


"Dalam hitungan beberapa jam lagi kau akan tau akibatnya" gumam pria itu dengan senyum miring


.


*Like dan Komen*

__ADS_1


__ADS_2