
Ansel keluar dari kamarnya dan turun menuju bar mini yang ada di rumahnya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer saja. Menampilkan perut Ansel yang sixpack.
Ansel meneguk segelas win yang ada di dalam gelas dengan sekali tenggak. Jari jari Ansel mengetuk ngetuk meja dengan tatapan kosong.
"Ansel" panggil seorang pria dengan menghampiri Ansel.
Ansel menoleh dengan wajah datar. Dia sangat mengenali sekali suara siapa itu.
"Kenapa kau kesini" tanya Ansel datar
"Kau di khawatirkan tapi tidak berterima kasih sama sekali" ucap pria itu
"Hm" Ansel hanya mendengus sebal saja. Pria itu berjalan begitu saja melewati tubuh sahabatnya.
"Ansel" panggil pria itu
"Ada apa sih Chen" ucap Ansel kesal
"Kenapa kau? Wajah kusut kaya setrikaan" cibir Chen.
"Gue lagi ada masalah" ucap Ansel dan duduk dengan kasar di sofa. Chen langsung ikut duduk di samping Ansel juga.
Chen mengambil beberapa kacang dan memakannya sambil memangku salah satu kakinya. Chen bersandar pada sandaran tangan sofa sambil menatap Ansel.
"Kenapa lo ngeliatin gue" ucap Ansel dengan alis bertaut
__ADS_1
"Ya gapapa gue gak pernah liat lo punya masalah sampe segalau ini" ucap Chen
Ansel hanya memutar bola matanya malas. Pria itu berdiri dan menatap ke arah Chen.
"Mending lo balik gue mau istirahat" ucap Ansel
"Yoi jangan lupa tuh luka di obatin dulu" ucap Chen
Ansel menatap kakinya. Dia lupa jika dia terluka. Ansel hanya mengedikkan bahu acuh. Ansel melanjutkan langkah kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ansel menghubungi seorang dokter untuk mengobati lukanya. Pria itu mengotak atik ponselnya.
Dua puluh menit menunggu, dokter tersebut telah sampai di rumah Ansel. Dengan di antar oleh seorang pelayan, dokter tersebut mendatangi kamar Ansel.
Ansel hanya mengangguk. Pelayan tersebut pergi dan dokter itu masuk. Tanpa banyak bicara dokter itu melakukan tugasnya. Ansel hanya menatap datar kakinya yang sedang di obati itu.
"Tuan harus melakukan transfusi darah. Tuan kehilangan banyak darah" ucap dokter itu
"Hm ya nanti" ucap Ansel santai.
Setelah tugasnya selesai, dokter itu pergi dari rumah mewah Ansel. Ansel berjalan menuju balkon kamarnya.
Udara segar menerpa wajah tampannya. Ansel diam. Menatap para pekerja yang sedang melakukan tugasnya masing masing.
Ansel kembali masuk dan mengambil laptopnya. Ansel menatap fokus layar datar yang menyala itu.
__ADS_1
Ansel menatap sebuah data diri seorang wanita cantik. Yang tak lain adalah Alina. Tidak ada yang mencurigakan dari wanita itu. Bahkan Ansel sempat berpikir jika Alina menjebaknya atas perintah dari salah satu musuhnya.
Wanita itu ternyata juga seorang pengusaha. Namun perusahaannya bergerak di bidang lain berbeda dengan perusahaannya. Tidak mungkin ada unsur iri atau untuk menghancurkan.
Berarti hal itu murni. Tidak ada unsur sengaja. Ansel menutup dokumen berisi data Alina dan beralih pada foto foto Alina.
Dari sederet foto yang ia punya, Ansel tidak menemukan foto Alina yang sedang tersenyum. Wanita itu jarang sekali tersenyum.
"Tapi tetap manis" ucap Ansel dengan tersenyum tipis.
Ansel menutup laptopnya dan tidur. Dia berharap bisa tidur nyenyak tanpa ada bayangan bayangan yang mengganggi mimpi indahnya.
Di sisi lain Alina hanya menatap datar pada pemandangan di depannya. Ingatannya kembali pada kejadian semalam.
Dia kehilangan sesuatu yang berharga. Dan itu di renggut oleh orang yang hanya dua kali ia temui itupun tanpa sengaja.
Bahkan Alina pun tak tau apa yang terjadi dengan dirinya hingga sampai dirinya tertidur pulas tanpa tau apa yang terjadi.
Sepertinya ada seseorang yang mencampurkan sesuatu ke dalam makanannya. Alina mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari pelayan yang mencampurkam sesuatu ke dalam makanan yang di antarkan ke ruang VIP 1. Waktumu hanya satu jam" ucap Alina datar dan memutus sambungan telepon.
.
*Like dan Komen*
__ADS_1