
"Apa kau pembunuhnya?" tanya Arkhem dengan melepas ikatan di tangan Alina
Alina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi. Dia sudah meninggal sebelum aku masuk" ucap Alina
"Dan juga dia selingkuh" lanjut Alina
"Maksudmu?"
"Kau di hianati oleh Jessica" ucap Alina dengan menatap Arkhem
"Jangan menatapku. Nanti kau jatuh cinta padaku bisa bahaya" ucap Arkhem
"Kau memang tampan..." ucap Alina membuat Arkhem mengukir senyum tipis
"Tapi tidak setampan suamiku" lanjut Alina seketika senyum tipis itu hilang
"Bagaimana bisa kau mengatakan Jessica mengkhianatiku" tanya Arkhem
"Saat kecelakaan itu dia bersama Jason, kekasihku waktu itu" ucap Alina
"Jason?" tanya Arkhem
"Apa kau tidak tau?" tanya Alina dan Arkhem menggeleng
"Aku kalut mendengar berita jika Jessica kecelakaan" ucap Arkhem dan Alina hanya mengangguk sebagai tanda mengerti
Arkhem menatap ke arah Alina. Meneliti wajah cantik itu dengan intens.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Arkhem
"Kau bisa memegang kata kataku" ucap Alina
"Apa kau tidak terluka?" tanya Arkhem
__ADS_1
Alina masih menatap ke arah depan dengan lurus kembali ke ingatan kejadian beberapa bulan lalu.
"Sakit" jawab Alina singkat
"Itu yang aku rasakan sekarang" ucap Arkhem kemudian meninggalkan Alina seorang diri
Berjalan melangkah menuju sebuah ruangan. Menatap ke arah laut yang sangat indah dengan ombak yang saling berkejaran.
"Apa saat kecelakaan Jessicaku bersama seorang pria bernama Jason" tanya Arkhem dari balik sambungan telepon
"Benar tuan"
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku" teriak Arkhem kemudian membanting ponselnya ke sembarang arah hingga pecah
Arkhem meremas rambutnya dengan kasar. Memukul tembok hingga tangannya terluka. Penghianatan? Astaga apakah ini karma.
"Aku mencintaimu Jessica. Dan kau.... menghianataiku" ucap Arkhem dengan tertawa pilu
"Hahaha kau hebat. Ya hebat. Benar benar hebat dalam melukai perasaanku" ucap Arkhem
Arkhem melempar vas yang ada di dekatnya hingga pecah berhamburan. Meluapkan semua emosinya dengan barang barang yang ada di dekatnya.
Sedangkan Alina yang tidak mendengar apapun dirinya makan dengan santai saat kepala pelayan menyuruhnya untuk makan.
Dia benar benar sangat lapar saat ini. Entah kenapa semenjak hamil membuat nafsu makannya bertambah dua kali lipat.
**
Ansel menatap lurus ke arah pantai dengan tatapan sendu. Kakinya menginjak di atas pasir berwarna putih tanpa alas.
Malam sudah larut dan tampak tenang tapi tidak dengan pikirannya. Hatinya kacau pikirannya berantakan.
"Dendam"
"Cinta"
__ADS_1
"Dan penghianatannya"
Satu tetes air mata lolos dari sudut matanya dan dengan segera Ansel menghapusnya.
"Maaf"
"Maafkan aku Alina" ucap Ansel dengan menunduk
"Aku mencintaimu Alina" teriak Ansel memecah kesunyian malam.
Ansel terduduk di pasir dengan lemas. Menekuk kedua lututnya dan menatap air yang sangat dingin itu perlahan menyentuh kakinya.
"Kau berhasil"
"Berhasil membuatku jatuh cinta padamu"
Chen menatap dari arah yang cukup jauh. Terlihat sekali Ansel hancur kehilangan Alina yang sekarang entah berada dimana.
Ansel jatuh cinta pada Alina? Dia juga. Pesona wanita itu sangat kuat hingga berhasil merebut dua hati pria sekaligus.
"Gue akan hapus perasaan ini demi lo Ansel" ucap Chen dan pergi
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel milik Ansel. Menatap sekilas dan ternyata itu dari Jack.
"Dimana istriku? Dimana Alinaku? Dimana wanitaku" teriak Ansel
"Gue akan kembalikan Alina. Asal kau serahkan nyawamu" ucap Jack
"Maksudmu?" tanya Ansel
"Kau harus melawan anak buahku dalam bertarung. Kau seorang diri melawan seratus anak buahku. Jika kau menang maka akan ku lepaskan istrimu" ucap Jack
"Aku sanggup" ucap Ansel tanpa keraguan sama sekali
.
__ADS_1
*Like dan Komen*