
Pintu lift terbuka lebar. Ansel keluar dari dalam lift dan masuk ke dalam kamarnya. Alina yang sedang duduk di hadapan laptopnya pun menoleh.
"Alina" panggil Ansel
Alina kembali memusatkan perhatiannya pada layar laptop yang masih menyala. Tenggelam dengan kesibukannya sendiri dan menghiraukan keberadaan Ansel.
Ansel memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menatap wajah Alina dari samping.
"Lepaskan" ucap Alina datar
"Kenapa"
"Aku jijik di peluk oleh seseorang yang sudah memeluk tubuh wanita lain. Apa jangan jangan bahkan kau sudah menyentuhnya" ucap Alina
"Siapa yang kau maksud? Kenapa kau menuduhku" tanya Ansel
"Bukankah kau tidak mempercayaiku? Itu sama hal nya dengan menuduhku" ucap Alina dingin
"Alina kau salah paham dengan kata kataku" ucap Ansel
"Tidak ada kata salah paham" Ansel menghela nafas. Memutar tubuh Alina pelan dan berjongkok di depan wanita itu.
"Sayang" panggil Ansel dengan lembut sambil mengusap rambut Alina lembut
"Lepaskan" ucap Alina ketus
Ansel menghela nafas pelan. Menunduk menatap lantai kemudian mendongak menatap netra indah Alina lagi.
"Aku hanya ingin kau jujur padaku. Apa penyebab sampai kau mendapat teror seperti itu" Ansel berkata dengan lembut agar tidak kembali menyakiti hati wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan jujur padamu" ucap Alina sedikit berapi api
"Iya aku percaya padamu" Ansel mengusap bahu istrinya dengan lembut
"Lalu siapa yang kau peluk semalam" tanya Alina
"Memeluk? Aku tidak memeluk siapapun" ucap Ansel
"Bohong!! Aku melihatnya dengan mataku sendiri" ucap Alina
"Dengan siapa?"
"Wanita yang ku temui tadi di lift" ucap Alina sambil membuang muka ke arah lain
"Hei" Ansel tersenyum dan menarik wajah Alina agar kembali menatap dirinya
"Apa yang kau maksud Luna?" tanya Ansel
Ansel menggenggam tangan Alina dan berdiri. Mengajak wanita itu untuk keluar dari kamar.
"Kita kemana" tanya Alina
"Menjawab pertanyaanmu"
"Kau bisa menjawabnya di kamar"
"Aku akan memperkenalkan seseorang padamu" ucap Ansel dan membawa Alina menuju ruang makan yang ada di lantai dua.
Disana ada Bramasta dan Luna yang sedang duduk santai di meja makan menanti kedatangan Ansel dan Alina untuk makan bersama.
__ADS_1
"Siapa mereka" tanya Alina menatap Ansel penuh tanda tanya.
"Dia papaku" ucap Ansel dengan menunjuk Bramasta
Alina menatap Bramasta dengan dalam. Pria itu cukup berumur namun masih tampak wibawa. Alina mengukir senyum tipis pada pria tua itu.
"Dan dia Luna" ucap Ansel
Ansel kini menunjuk seorang wanita yang duduk di hadapannya. Alina beralih menatap Luna. Dahinya mengkerut seolah bertanya apa status wanita itu.
"Dia anak papa ku" ucap Ansel
Alina menoleh. Kata kata macam apa itu bilang saja jika dia adikmu kenapa harus menggunakan kata kata yang sedikit aneh.
"Alias adikku" ucap Ansel dengan menatap wajah istrinya yang mengkerut.
"Luna" ucap Luna dengan mengulurkan tangannya ke arah Alina.
"Alina" Alina membalas uluran tangan Luna kemudian menariknya kembali.
Mereka memulai makan bersama seperti sebuah keluarga utuh. Makan dengan tenang tanpa pembicaraan apapun.
"Papa mau segera punya cucu" ucap Bramasta di tengah tengah makannya
Alina dan Ansel saling tatap. Tatapan mereka penuh arti dan Ansel mengulas senyum sekilas.
"Papa tenang aja" ucap Ansel
Alina melanjutkan makannya dan setelah itu tidak ada pembicaraan apapun lagi. Seusai makan semuanya kembali ke kamar masing masing.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*