
Alina menyetir mobilnya santai. Wanita itu tampak sangat rileks hari ini lain dengan hari hari sebelumnya yang di bebankan dengan setumpuk pekerjaan. Setelah menyelesaikan semuanya, Alina berniat untuk refreshing. Setidaknya pikirannya akan kembali jernih setelah jalan jalan.
Mobil mewah itu tampak berhenti di sebuah pantai yang sangat indah. Namun tidak ada pengunjungnya karena belum tersentuh dengan tangan tangan jahil manusia.
Pantai itu tampak sangat alami. Jernih, asri dan sangat indah. Belum banyak orang yang mengetahui tentang tempat indah itu.
Alina menapakkan kakinya setelah melepaskan high heels yang selalu ia pakai di pasir berwarna putih itu. Alina berjalan mendekati air dan merentangkan kedua tangannya.
Angin yang berhembus kencang menerpa wajah dan rambutnya hingga berterbangan. Alina tersenyum menatap keindahan itu. Ingin rasanya dia membangun sebuah rumah disini dan tinggal disini saja. Pasti sangat menyenangkan. Tapi itu rasanya tidak mungkin.
Bagaimana bisa dia meninggalkan seluruh pekerjaannya begitu saja. Untuk pertama kalinya Alina tersenyum. Sangat manis. Namun sayangnya senyuman itu jarang ia tunjukkan hampir tidak pernah.
Alina berjalan pelan ke arah laut dan menenggelamkan kakinya membiarkan terkena sapuan ombak yang saling berlarian. Burung burung berkicau begitu merdu. Pohon kelapa saling menari karena angin yang menerpanya.
Dor
Sebuah peluru melesat hampir saja mengenai tubuhnya. Namun dengan insting yang cukup tinggi Alina berhasil menghindarinya.
Siapa yang berani mengganggu ketenangan Alina. Itu berarti orang tersebut membuntuti Alina sedari tadi.
Alina membalikkan badannya dan mencari siapa yang melesatkan peluru tadi. Namun kosong. Tak ada siapapun. Alina tak percaya itu.
__ADS_1
Sebuah anak panah melesat dan menancap di pohon kelapa yang ada di sampingnya. Alina mengernyit saat melihat ada sebuah kertas yang tertancap pada anak panah itu.
Alina mengambil kertas itu dan membacanya yang berisi sebuah ancaman untuk dirinya.
Hidupmu tidak akan tenang. Kau akan merasakan akibatnya atas pembunuhan nona M
"Nona M?" ucap Alina tak paham
Kematian siapa itu hingga harus dirinya yang menanggung akibatnya. Lalu kira kira siapa nona M yang di maksud.
Alina menyimpan kertas itu dan mencari siapa yang melesatkan anak panah dan tembakan itu.
Jika ada anak panah maka pasti ada busurnya.
Untuk kabur? Tentu tidak. Alina tidak sepengecut itu. Alina mengambil senjata api yang ada di dalam mobilnya.
Alina berjalan mendekat perlahan ke arah semak semak itu. Dia yakin orang yang telah meneror dirinya tidak jauh dari pantai itu.
Dor
Alina menarik pelatuknya dan sebuah peluru melesat mengenai semak semak tersebut.
__ADS_1
"Meooww" Alina justru terkejut dengan seekor hewan yang melompat ke arah dirinya. Kucing tersebut berlari menjauhi Alina. Untung saja hewan manis itu tidak terluka dan hanya terkejut dengan tembakan dari Alina.
"Tidak ada siapapun" ucap Alina dengan tersenyum miring. Wanita itu membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Pendengarannya yang sangat tajam benar benar meneliti apapun suara yang ada di sekitarnya.
Dor
Alina melesatkan pelurunya dan ya tembakannya sangat tepat sasaran. Wanita itu tersenyum sinis. Dirinya sengaja berpura pura akan pergi agar orang yang telah melakukan teror pada dirinya keluar.
"Bodoh!!"
"Kau di jebak dengan sangat mudah" ucap Alina dengan bersedekap dada.
Tembakannya tepat mengenai kaki orang tersebut hingga dirinya kesulitan berlari. Orang itu berdiri dan hendak berlari dari Alina. Namun secepat kilat tangan Alina langsung menarik lengan pria itu hingga tersungkur di bawahnya.
"Siapa kau" tanya Alina dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku.."
.
__ADS_1
*Like dan Komen*