Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
22.


__ADS_3

Brak


Alina menutup pintu mobil Ansel dengan kasar. Ansel dan Chen pun ikut keluar dan menghampiri dirinya.


"Ayo masuk" ajak Ansel


Alina dan Chen berjalan mengekor di belakang Ansel yang berjalan masuk ke dalam restaurant.


"Ruangan atas nama Ansel" ucap Ansel pada salah satu pelayan


"Ada di lantai atas ruangan VIP" ucap pelayan itu


Ansel menaiki satu persatu anak tangga. Dan di belakangnya ada dua manusia yang mengikuti dirinya.


Ceklek


Ansel membuka pintu ruangan yang sudah ia pesan. Langkah kakinya berjalan menuju meja yang sudah terisi penuh oleh berbagai macam jenis makanan.


Dirinya menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi dengan kasar. Menatap Alina yang masih berdiri sedangkan Chen sudah duduk di depannya.


"Ada apa"


"Ah tidak" Alina duduk di bangku samping Ansel. Ketiganya memulai makan. Suasana hanya hening. Tidak ada satupun yang berbicara ataupun membuka pembicaraan.


Dua puluh menit kemudian makanan yang ada di atas meja sudah habis tak tersisa. Ansel bersandar pada kursi dan memainkan ponselnya. Sama halnya dengan Ansel, Chen pun ikut sibuk dengan ponselnya. Merasa di abaikan membuatnya kesal.


"Antarkan aku pulang" ucap Alina kesal


"Hm ya sebentar" ucap Ansel dan masih sibuk dengan ponselnya.


Alina berdiri dengan cepat wanita itu mengambil kunci mobil yang ada di hadapan Ansel. Namun pria itu masih tak sadar juga.

__ADS_1


"Silahkan lanjutkan" ucap Alina dan melangkah menuju pintu.


Ansel mendongak menatap Alina. Dia baru tersadar jika wanita itu sudah mengambil kunci mobilnya.


"Alina" panggil Ansel


"Hm"


"Ok ok aku akan mengantarkanmu pulang" ucap Ansel dan mengambil kembali kunci mobilnya yang ada di tangan Alina dengan lembut. Namun genggaman wanita itu semakin kuat.


"Alina" panggil Ansel dengan lembut.


Alina melepas kunci mobil itu dan langsung di ambil oleh Ansel. Ansel melangkah keluar dari ruangan itu namun Alina masih terdiam tak bergeming.


"Ayo" ajak Ansel


Masih diam juga. Akhirnya Ansel kembali dan merangkul pundak Alina mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Nasib selalu di tinggal" gumam Chen


Alina dan Ansel berjalan beriringan menuruni anak tangga dan keluar dari restaurant itu. Ansel membuka pintu mobil untuk Alina. Dengan cepat Alina duduk di bangku samping kemudi. Ansel beralih pada sisi mobilnya yang lain.


Dengan kecepatan sedang Ansel menyetir mobilnya menuju rumah Alina. Sedangkan Alina dirinya sibuk memainkan ponselnya.


"Lin" panggil Ansel


"Hm"


"Alina" panggil Ansel lagi


"Apa" jawab Alina singkat

__ADS_1


"Letakkan ponselmu" ucap Ansel


"Kenapa? Bukankah kau tadi juga melakukan hal yang sama" ucap Alina


Ansel terdiam. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Menarik nafas perlahan kemudian membuangnya agar sedikit tenang.


"Ok aku salah" ucap Ansel


"Hm"


"Lalu apa maumu sekarang" tanya Ansel


"Antarkan aku pulang dengan cepat" ucap Alina


"Aku ingin membicarakan sesuatu" ucap Ansel


"Kenapa tidak di restaurant"


"Tadinya begitu tapi kau mengajak Chen" ucap Ansel


"Apa hubungannya" tanya Alina mengernyit


"Ini masalah kita berdua kenapa harus ada orang lain yang mengetahuinya" ucap Ansel


"Oh ya? Memangnya sepenting apa masalah kita" ucap Alina santai


Ansel yang kesal mengacak acak rambut Alina dengan gemas.


"Sangat penting bahkan lebih penting dari yang lain" ucap Ansel


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2