
Setelah mengganti pakaian Ansel kembali turun menuju dapur. Alina yang sudah menunggunya sedari tadi di sofa langsung bangkit saat melihat kedatangan dirinya. Masuk bersama ke dapur.
"Sekarang terus apa yang aku lakukan" tanya Ansel
"Buat bumbu untuk ikan gorengnya nanti" ucap Alina
"Bumbu apa aja" Alina menunjukkan beberapa bahan alam pada Ansel
"Terus ini diapain" tanya Ansel
"Astaga Ansel. Itu di kupas" ucap Alina
"Oh. Pake pisau?" tanya Ansel lagi
"Gak!! Peka gigimu kalau bisa" ucap Alina kesal
"Ya aku mana tau soal beginian" ucap Ansel
Beberapa menit Ansel mengupas semua bahan bahan itu. Menatap kembali ke Alina yang senantiasa berada di belakangnya.
"Setelah itu?" tanya Ansel
"Di haluskan sayang" ucap Alina
"Oh" Ansel hanya ber'oh' ria seolah paham
"Gimana caranya emang" tanya Ansel
"Hah aku kira paham" ucap Alina
Alina mengambil blender yang ada di lemari kaca kemudian meletakkannya di depan Ansel. Memasukkan semua bahan bahannya dan menutup blender.
"Lalu?" Alina meletakkan tangan Ansel di tutup blender itu
"Ini mau ngapain" tanya Ansel sedikit panik
__ADS_1
"Blender lah" ucap Alina santai
"Terus ini di apain kok diem aja" ucap Ansel
"Tekan itu" ucap Alina
"Ini?" tanya Ansel dengan menunjuk tombol on dan Alina mengangguk.
"Ini tidak akan menyakitiku kan?" tanya Ansel
"Itu bisa membunuhmu" ketus Alina
"Kau ingin membunuhku? Dengan alasan ingin makan ikan goreng iyakan" tuduh Ansel
"Astaga Ansel bagaimana bisa benda itu membunuhmu" ucap Alina
"Bisa jadi kau memanfaatkanku yang tidak tau soal alat alat masak. Yang ku tau ya hanya senjata api" ucap Ansel
"Huftt cepat tekan itu nanti tidak akan selesai selesai" protes Alina
Dengan sedikit rasa ragu Ansel menekan tombol on. Blender tersebut bergetar membuat Ansel langsung menarik tangannya.
"Kok gerak" ucap Ansel polos. Seketika tawa Alina meledak
"Namanya di nyalain ya gerak kalau di matin ya berhenti" ucap Alina
"Oh gitu" ucap Ansel polos dengan menatap blender yang bergerak itu.
Setelah halus Alina mematikan blender tersebut. Ansel bernafas dengan lega saat itu juga.
"Apa kau hampir mati karena benda ini" tanya Alina dengan menuangkan bumbu itu di sebuah wadah
"Tidak juga" Ansel menggelengkan kepalanya dan memperhatikan gerakan istrinya.
"Kau yakin akan menggoreng ikan ikanku?" tanya Ansel
"Tidak" ucap Alina membuat Ansel tersenyum
__ADS_1
"Baiklah aku akan mengembalikannya ke kolam" ucap Ansel
"Eh mau ngapain" tanya Alina mencegah Ansel yang akan membawa ikan ikannya kembali
"Kau tidak akan menggorengnya kan?" tanya Ansel
"Memang tidak tapi aku akan membakarnya" ucap Alina
"Astaga sayang kau tidak beperasaan sekali. Kau tega membuat kulit kulit mereka yang cantik ini menjadi gosong" ucap Ansel
"Iya dan aku akan memakannya" ucap Alina dengan menyambar ember yang ada di tangan Ansel
Alina menyiapkan panggangannya dan akan membunuh ikan ikan itu terlebih dahulu.
"Tunggu" cegah Ansel
"Kenapa"
"Kasian"
"Sejak kapan kau memiliki perasaan pada ikan" ucap Alina dengan memutar bola matanya malas
"Perasaanku hanya untuk kamu bukan untuk ikan" ucap Ansel
"Udahlah Ansel duduk dan diam aku akan memasaknya sendiri" ucap Alina kesal
Ansel hanya menurut. Duduk di depan meja dapur dengan memperhatikan setiap gerakan Alina. Sedikit rasa tak tega saat Alina membunuh ikan ikannya yang cantik itu.
Beberapa saat kemudian ikan ikan cantik itu sudah berubah menjadi ikan bakar.
"Kau mau?" tanya Alina dengan menyodorkan sepiring ikan
"Astaga ikanku" ucap Ansel sedih
"Hadeh drama ikan terbang" ketus Alina dan memakan ikan bakar buatannya
.
__ADS_1
*Like dan Komen*