Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
14.


__ADS_3

Seorang wanita berjalan dengan pelan di sebuah rooftop. Kakinya menapaki lantai mendekati sebuah pembatas. Matanya menatap lurus dengan datar.


Sinar mentari mulai memudar. Angin berhembus kencang menerpa rambut yang tergerai indah.


"Aku kehilangan sesuatu yang berharga"


"Tapi aku tidak membutuhkan pertanggung jawaban dari pria itu"


"Aku tidak akan memberikan hidupku untuk hidup bersama dengan pria asing"


"Bahkan untuk sekarang aku tidak mempercayai siapapun"


Alina menggenggam pagar pembatas dengan sangat kuat. Melampiaskan seluruh emosi yang ada di dalam hatinya.


Dor


Dor


Dor


Alina merunduk mengihindari serangan dadakan itu. Mata Alina menajam. Apa teror yang sama?


"Sial aku tidak membawa senjata sama sekali" umpat Alina


Alina berlari menuju pintu masuk setelah memastikan kondisi sedikit aman.


Dor


Sebuah peluru berhasil menancap di punggung cantik Alina. Darah segar menetes keluar bercucuran.


"Ashhh.. Dia mencampurkan sesuatu di pelurunya" gumam Alina dengan menahan rasa sakit. Dia sudah terbiasa dengan tembakan dan peluru. Namun dia yakin sekali jika peluru tersebut mengandung sebuah racun.


Dor

__ADS_1


Dor


Dor


Seorang pria melayangkan tembakan dan tepat sasaran sekali. Orang yang menyerang Alina berhasil di tumbangkan.


Pria itu membawa tubuh Alina. Dengan langkah kaki cepat pria itu menuruni anak tangga dan langsung membawa Alina masuk ke dalam mobil.


Alina sempat memberontak saat berada di dekapan pria itu. Siapa dia? Alina tak mengenalinya.


"Kau siapa? Lepaskan aku" teriak Alina


Mobil melesat menjauh dan menuju sebuah rumah sakit terdekat. Pandangan Alina mulai memburam. Wanita itu jatuh pingsan setelah sekian menit bertahan.


"Dia tertembak" ucap pria yang membawa Alina


.


"Peluru sudah berhasil kami keluarkan tapi dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah" ucap sang dokter


"Apa golongan darahnya ada di rumah sakit ini"


"Untung saja ada dan kami sedang melakukan transfusi darah pada tubuh pasien" ucap dokter itu menjelaskan


"Baiklah" Dokter tersebut pergi dan kini hanya pria itu. Menunggu kedatangan seseorang yang sebentar lagi akan sampai.


"Bagaimana keadaan Alina" tanya Ansel


"Dia ada di dalam" ucap pria yang duduk di ruang tunggu


"Chen aku bertanya kondisinya" sentak Ansel


"Kenapa kau terlalu terbawa emosi. Dia bukan siapa siapa lo" ucap Chen dan berdiri sejajar dengan Ansel

__ADS_1


"Gak penting dia siapa gue tanya gimana kondisinya" tanya Ansel sekali lagi dengan penuh penekanan


"Dia baik baik aja"


Ansel langsung berjalan masuk meninggalkan Chen di ruang tunggu sendirian. Pria itu menatap wajah Alina yang masih terpejam.


Ansel duduk di kursi samping ranjang sambil menatap wajah Alina intens. Sangat cantik. Apalagi saat terpejam.


Perlahan mata Alina terbuka dan pandangan wanita itu langsung tertuju pada Ansel. Alisnya bertaut.


"Kenapa kau disini" tanya Alina ketus


"Bagaimana bisa kau terbaring disini" tanya Ansel balik dengan menaikkan salah satu alisnya


"Aku hanya tertembak" ucap Alina enteng


"Hanya? Kau hampir mati karena racun di peluru itu" ucap Ansel


"Bagaimana kau tau"


"Itu tidak penting" balas Ansel


Alina menatap ke arah lain. Apa saja. Asal tidak menatap wajah Ansel. Dia muak dengan wajah itu. Tampan sih. Tapk tidak bagi Alina.


"Kemana kau selama sebulan ini" tanya Alina


Rasa penasarannya selama ini akhirnya ia ungkapkan juga. Ansel menghilang selama sebulan setelah dirinya mengusir pria itu.


"Aku..."


.


*Like dan Komen*

__ADS_1


__ADS_2