
"Kau akan kemana" tanya Ansel yang asik memakan buah sambil bersandar pada bahu istrinya bertanya saat Alina tiba tiba ingin pergi.
"Aku mau ke dapur sebentar untuk membuat susu" ucap Alina
"Biarkan pelayan yang akan membuatkannya untukmu" ucap Ansel
"Aku akan membuatnya sendiri"
"Baiklah aku ikut"
"Tidak perlu aku hanya sebentar" ucap Alina dan turun dari ranjang.
Keluar dari kamar dan tujuannya saat ini adalah dapur. Alina melangkah masuk ke dalam dapur dan membuat susu khusus untuk ibu hamil.
Beberapa saat kemudian susu yang di buat oleh Alina telah siap. Dengan santai Alina kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas sambil membawa segelas susu itu.
"Alina" panggil seseorang dari arah belakang
Alina menoleh dan menatap wanita yang memanggil namanya itu.
"Luna" Alina mengernyitkan dahinya mengapa wanita itu memanggil dirinya.
"Apa yang kau buat" tanya Luna dengan mendekati Alina
"Hanya segelas susu" jawab Alina singkat
__ADS_1
"Oh"
"Adik ipar sepertinya kau sangat tidak menyukaiku" ucap Alina dengan tersenyum paksa
"Apa maksudmu"
"Kau terlihat sangat tidak menyukaiku sejak pertemuan pertama kita... di dalam lift" ucap Alina mengingat pertemuan pertamanya dengan Luna.
"Kau menuduhku"
"Aku tidak menuduhmu" ucap Alina
"Kau mengatakan seperti itu sama saja kau menuduh diriku" ucap Luna tak terima
"Apalagi kau mengatakan tanpa alasan dan tanpa bukti" lanjut Luna
"Apa apaan dia menuduhku seperti itu" ucap Luna
"Dia bisa berbahaya. Dia bisa saja mengancam posisiku"
Alina keluar dari dalam lift saat pintu lift terbuka. Masuk ke dalam kamarnya kembali dan Ansel langsung menatap dirinya saat mendengar pintu terbuka.
Alina meletakkan susunya di atas nakas dan duduk di ranjang. Ansel melingkarkan tangannya di perut Alina dan mencium perut rata Alina beberapa kali.
"Istirahatlah" ucap Alina
__ADS_1
"Aku ingin tidur bersamamu" ucap Ansel
Alina meminum susunya hingga habis kemudian tidur di samping Ansel. Alina membalas pelukan Ansel tak kalah erat. Nyaman. Itulah yang di rasakan oleh Alina saat berada di dekapan Ansel.
Cup
Ansel mencium pucuk kepala Alina dan ikut terlelap bersama wanita yang ada di dekapannya itu.
Di tengah malam Ansel terbangun saat sebuah panggilan dan sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ansel menggeliat dan menatap ke arah ponselnya yang menyala.
Perlahan Ansel melepaskan pelukan Alina yang melingkar di perutnya. Menyambar ponsel tersebut dan membaca sebuah pesan. Siapa yang menghubungi dirinya di tengah malam seperti ini.
"Papa" gumam Ansel
Temui papa di kamar
Ansel membaca satu pesan singkat yang di kirimkan dari nomor Bramasta pada dirinya.
Besok aku akan menemui papa send
Ansel meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Kali ini dirinya mematikan ponselnya dan kembali tidur. Kembali memeluk Alina dengan nyaman.
Sebelum benar benar terlelap Ansel menatap intens wajah Alina. Wajah yang tenang di saat tertidur pulas. Wanita yang kini sikapnya mulai menghangat setelah menikah dengan dirinya.
Namun bisa di yakini oleh Ansel jika dirinya melakukan satu kesalahan saja maka sifat asli wanita itu akan kembali. Bahkan sampai saat ini, Ansel merasa dirinya belum mengetahui apapun soal diri Alina sebenarnya.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*