
Alina dan Ansel masuk ke dalam area lapangan lepas landas pesawat. Jet pribadi milik Ansel sudah berdiri kokoh dengan puluhan pengawal yang ada di di sekitar jet tersebut.
Alina dengan menggandeng tangan Ansel masuk ke dalam jet tersebut. Dan para beberapa pengawal ikut masuk untuk menjaga mereka.
"Kalian lama sekali" ucap Chen yang jengah menunggu kedatangan dua bos nya ini.
"Kau sudah menunggu lama" tanya Alina
"Hampir lumutan" ketus Chen
"Oh masih hampir" ucap Alina santai
"Sayang kau masuk ke kamar aja. Jika butuh sesuatu panggil pelayan" ucap Ansel
Alina mengangguk dan masuk ke dalam kamar dengan di tunjukkan oleh para pelayan.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size. Meletakkan tas nya di sembarang tempat dan memejamkan matanya.
"Huft" Perlahan jet tersebut lepas landas dan mengudara menuju London.
Pengalaman cukup menyenangkan berada di Amerika Serikat. Berawal dari niat mengatasi masalah perusahaan berujung dengan menikah bersama Ansel dan kembali sebagai Nyonya Raharga.
Ansel Raharga Satya Putra pimpinan dari Raharga Group kini menjadi suaminya. Suami sahnya. Alina membuka matanya dan menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Masih tak menyangka dirinya akan terjebak dengan ucapannya sendiri.
Tak lama Ansel masuk ke dalam kamar dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Alina.
__ADS_1
"Apa yang kau rindukan di London" tanya Ansel
"Banyak hal" ucap Alina
"Salah satunya?"
"Perusahaanku" ucap Alina dan terkekeh
Ansel menghela nafas berat. "Nanti di London kita akan tinggal dimana" tanya Alina dengan menatap Ansel dari samping
"Di mansionku" ucap Ansel
"Lalu mansionku?" tanya Alina
"Tinggalkan saja. Aku sudah nenyiapkan semua kebutuhanmu disana" ucap Ansel
Karena rasa kantuk menyerangnya, Alina perlahan terlelap. Ansel menatap wajah istrinya dengan intens. Pria itu bangun dan mengangkat tubuh Alina.
Membenarkan posisi tidur Alina karena istrinya itu tidur di pinggir ranjang. Bisa bahaya jika posisi seperti itu.
Ansel menarik selimut untuk menutupi tubuh Alina sampai batas dada wanita itu. Mencium kening istrinya kemudian keluar untuk menemui Chen.
Membahas beberapa hal penting dengan pria itu. Membiarkan Alina yang tertidur lelap. Dua jam kemudian Ansel melihat ke arah kamar dan istrinya itu belum bangun juga.
"Buat makan siang dan pastikan semuanya sudah siap sebelum Alina bangun" ucap Ansel dan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar dengan rapat
__ADS_1
Ansel membanting tubuhnya di samping tubuh Alina. Membuat wanita itu menggeliat sebentar kemudian melanjutkan tidurnya
"Kau menjadi lebih sering mengantuk. Apa faktor hamil"
"Hm" Alina bersuara tanpa sadar. Tangan Alina memeluk tubuh kekar Ansel dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Sangat nyaman itulah yang di rasakan oleh Alina.
Ansel terkekeh pelan sambil memainkan pipi Alina yang sedikit tembam. Ansel membuka ponselnya dan melihat ke arah jam.
"Sayang bangun" ucap Ansel
"Hm"
"Apa kau tidak lapar" tanya Ansel
"Lapar" jawab Alina masih dengan mata terpejam
"Yaudah bangun"
"Sepuluh menit aku masih mengantuk" ucap Alina dan melanjutkan tidurnya
"Ya sudah sepuluh menit lagi aku akan membangunkanmu" ucap Ansel
Ini sudah jam makan siang. Dirinya tidak ingin Alina kelaparan.
.
__ADS_1
*Like dan Komen*