Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
35.


__ADS_3

Pintu ruangan IGD perlahan terbuka. Seorang dokter dengan pakaian kerjanya keluar. Atensi Ansel berubah seketika.


"Bagaimana keadaannya" tanya Ansel langsung


"Dia baik baik saja. Dia hanya kelelahan saja. Lain kali jangan terlalu lelah itu bisa membahayakan janin yang ada di kandungannya" ucap dokter itu dan hendak melangkah pergi


"Tunggu" cegah Ansel


"Apa yang kau maksud" tanya Ansel


Chen berdiri menyimak pembicaraan dua manusia itu.


"Istri anda sedang hamil tuan apa anda tidak tau. Usia kandungannya sudah lima bulan" ucap dokter itu


Ansel tercengang seketika. Alina hamil? Ansel yakin jika itu anaknya.


"Baiklah" Dokter tersebut pergi meninggalkan Ansel dan Chen.


"Alina hamil?" tanya Chen dengan memegang bahu Ansel. Ansel menoleh menatap Chen. Tampak pria itu kebingungan.


"Alina hamil anakku" ucap Ansel


"Maksudnya? Bagaimana bisa" tanya Chen


Ansel menceritakan kejadian beberapa bulan lalu antara dirinya dan Alina yang sengaja di jebak oleh Jack, musuh besar Ansel.


"Astaga kenapa kau tidak cerita" ucap Chen


"Apakah aku harus selalu cerita semuanya kepadamu" tanya Ansel

__ADS_1


"Tidak juga sih"


Ansel membuka pinti ruang IGD dengan kasar. Alina yang ternyata sudah siuman merasa terkejut dengan kedatangan Ansel. Melihat ekspresi Ansel saat ini dia tau jika Ansel sudah mengetahui sesuatu.


"Ansel" panggil Alina dengan menatap wajah tampan Ansel


Rahang Ansel mengeras matanya menajam. Wajahnya memerah menahan marah.


"Alina" bentak Ansel


"Apa"


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau hamil" tanya Ansel dengan nada tinggi


"Apa kau berniat menyembunyikan anakku dariku" tuduh Ansel


"Ansel" panggil Alina dengan suara melemah


Ansel membungkukkan tubuhnya menatap wajah cantik Alina dengan intens. Perlahan tangan Ansel mengusap wajah Alina dengan lembut.


"Sejak kapan kau mengetahuinya" tanya Ansel dengan suara yang lebih lembut dari tadi. Harusnya dia tak berapi api seperti tadi yang sangat jelas terlihat menakutkan.


"Baru satu minggu ini" jawab Alina jujur


"Kenapa tidak mengatakannya padaku? Apa kau tau saat berada di rumah sakit waktu itu?" tanya Ansel dan duduk di ranjang Alina dengan menghadap wanita itu


"Aku tidak bertemu denganmu. Dan kau tidak pernah muncul di hadapanku selama beberapa bulan ini" ucap Alina


"Kenapa kau tidak mengatakannya pada Chen waktu itu?"

__ADS_1


"Ini anak kamu bukan anak Chen. Orang pertama yang harus tau adalah kamu bukan Chen" ucap Alina. Ansel mengukir senyum tipis


"Maafkan aku" ucap Ansel


Ansel menarik kepala Alina dan membawanya ke dalam pelukannya. Memeluk cukup lama tubuh mungil itu.


"Kenapa kau selalu menolak saat aku meminta untuk menikahimu" tanya Ansel


Alina menarik tubuhnya dan menatap wajah tegas Ansel. Dia baru sadar jika pria itu sangat tampan.


"Jika kita menikah sejak dulu mungkin saat ini hal ini tidak akan terjadi. Kau hamil di saat aku belum menikahimu" ucap Ansel


"Maafkan aku. Aku gak mau menikah dengan orang yang arogan" ucap Alina jujur


"Apa aku terlihat searogan itu dulu" tanya Ansel dan Alina mengangguk


Ansel mengusap lembut kedua pipi Alina dan mencubitnya pelan.


"Aku akan berubah" ucap Ansel


"Demi kamu" lanjut pria itu


Astaga hanya dua kata tapi ingin sekali rasanya Alina melompat saat ini juga. Senyum indah terukir jelas di bibir Alina


"Aku tidak akan menikah tanpa saling mencintai" ucap Alina


"Kita akan saling mencintai seiring berjalannya waktu. Percaya padaku" ucap Ansel


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2