
"Bagaimana bisa istriku di culik" tanya Ansel dengan menatap datar ke arah depan
"Apa kau tidak menjaganya hah"
"Aku sudah menjaganya Ansel" ucap Chen
"Dia di culik di perusahaannya dan itu di luar sepengetahuanku" lanjut Chen
"Berarti ini semua salahmu" ucap Ansel dengan menatap Chen
"Kau menyalahkan aku saja? Kau fikir dimana kamu di saat Alina hampir saja keguguran dan sekarang sampai di culik" ucap Chen membuat Ansel terbungkam seketika
"Siapa yang menculiknya" tanya Ansel
"Jack" jawab Chen
"Kita kesana" ucap Ansel
"Percuma"
"Apa maksudmu"
"Semula Alina memang ada disana tapi tidak lagi" ucap Chen
"Lalu dimana"
"Jack gak sendirian kali ini. Pantas saja kita sulit mengetahui jika Jack adalah dalang di balik peneroran Alina" ucap Chen masih dengan fokus menyetir
Ansel mengusap wajahnya kasar. Khawatir jika terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
Ponsel Ansel menyala. Panggila dari Luna masuk semakin membuat Ansel kesal
"Ada apa" tanya Ansel
"Huh aku merindukanmu" ucap Luna manja
"Luna hentikan semua ini"
__ADS_1
"Apa aku salah? Aku istrimu" ucap Luna
"Aku tidak peduli. Pernikahan itu hanya kau yang menginginkan bukan aku" ucap Ansel
"Apa kau sudah jatuh cinta dengan wanita itu? Jangan lupakan dendammu Ansel" ucap Luna
"Diamlah!! Bagaimana bisa aku membalasnya sedangkan dia saat ini sedang di culik" ucap Ansel
"Buat saja dia mati" ucap Luna kemudian memutuskan sambungan telepon
"Pernikahan apa yang kau maksud" tanya Chen
Ansel menoleh menatap pria itu kemudian diam.
"Ansel. Aku sahabatmu" ucap Chen
"Kau akan tau nanti" jawab Ansel
"Kau menikah lagi?" tanya Chen
***
"Arkhem" panggil Alina
Arkhem menoleh menatap Alina dari bawah sampai atas kemudian menaikkan alisnya.
"Lepaskan ikatan tanganku" pinta Alina
"Gak" jawab Arkhem dingin
Alina memutar bola matanya malas. Oh astaga harus dengan cara apa dia meminta pada pria itu.
"Arkhem" rengek Alina tiba tiba membuat Arkhem langsung tersedak
"Plis lepasin ya. Kau tau aku sedang hamil bagaimana bisa aku makan dengan tangan terikat. Saat ini aku lapar" ucap Alina
Ya dia memang lapar. Tubuhnya butuh asupan gizi terutama anak yang kini sedang dia kandung.
__ADS_1
Arkhem menatap perut Alina cukup lama kemudian menatap kedua bola mata Alina yang indah.
"Boleh aku menyentuhnya" tanya Arkhem dengan menunjuk perut Alina
Alina diam sejenak untuk berpikir kemudian menganggukkan kepalanya. Arkhem mengulurkan tangannya menyentuh perut Alina kemudian mengusapnya dengan lembut.
Entah kenapa ada rasa sedih dan sayang yang terpancar di mata pria tegas itu. Arkhem mendekat kemudian mencium perut Alina cukup lama.
"Maaf" ucap Arkhem
"Ya. Apa aku boleh tau sesuatu" tanya Alina
"Duduklah" ucap Arkhem. Alina duduk di samping Arkhem. Menyesap kopinya sebentar kemudian kembali menatap wanita yang ada di sampingnya itu.
"Apa" tanya Arkhem
"Kenapa kau mmm melakukan hal tadi" tanya Alina
"Menyentuh perutmu?" tanya Arkhem dan Alina mengangguk
"Dulu sebelum meninggal saat itu Jessica sedang mengandung dan aku sangat bahagia kemudian setelah mengatakan jika dia hamil padaku selama satu minggu dia menghilang entah kemana" ucap Arkhem
"Aku sangat mencintainya. Tapi kemudian aku mendengar kabar jika dia kecelakaan dan meninggal" lanjut Arkhem
"Apa kau pembunuhnya?" tanya Arkhem dengan melepas ikatan di tangan Alina
Alina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi. Dia sudah meninggal sebelum aku masuk" ucap Alina
"Dan juga dia selingkuh" lanjut Alina
"Maksudmu?"
.
*Like dan Komen*
__ADS_1