
"Raisa aku makan siang dulu" ucap Alina
Alina masuk ke dalam lift untuk sampai ke lantai dasar. Masuk ke dalam mobilnya yang ia parkirkan di basement. Dengan santai Alina mengendarai menuju salah satu restaurant yang jaraknya tidak jauh dari area kantor.
Lima menit kemudian Alina sampai di restaurant yang ia tuju. Alina keluar dari mobil dan masuk ke dalam restaurant itu.
Alina memilih duduk yang berada di dekat kaca. Memanggil salah satu pelayan yang melewati dirinya. Memesan beberapa makanan setelah itu pelayan tersebut pergi. Tak lama menunggu pesanan Alina tersaji di meja dengan rapi.
Dengan santai Alina melahap makanan favoritnya itu. Beberapa suapan sudah masuk ke dalam mulutnya. Alina terdiam seketika dan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulut tergantung di udara.
Tangan Alina memegang perutnya yang terasa sakit. Sendok yang ada di tangan Alina terjatuh seketika ke lantai hingga menimbulkan suara yang mengundang perhatian setiap pengunjung.
"Nona kau tidak apa" tanya salah satu pengunjung dengan menyentuh bahu Alina. Alina menatap ke arah saku celana pria itu. Ada sebuah senjata yang terselip. Menatap mata pria yang bertanya padanya tampak tak asing.
"Ah aku tidak apa" jawab Alina singkat dan berusaha melepaskan tangan pria itu yang melingkar di bahunya.
Mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas nya kemudian menghubungi Chen setelah pria itu pergi.
"Halo Chen" ucap Alina dengan menahan sakit di perutnya
"Nyonya Alina kau kenapa" tanya Chen cemas yang langsung berdiri dari duduknya saat mendengar suara menahan sakit di balik sambungan telepon
__ADS_1
"Cepat kesini aku butuh bantuanmu" Alina mengirim lokasinya saat ini dan dengan cepat Chen menyambar kunci mobilnya. Berlari seperti orang kalang kabut keluar dari ruangannya.
Dengan kecepatan tinggi Chen melajukan mobilnya menuju restaurant tempat Alina makan.
Chen membuka pintu restaurant dengan kasar dan matanya menyorot ke sekeliling mencari sosok wanita istri atasannya itu.
"Alina" Dengan cemas Chen mendekati tubuh Alina yang perlahan melemas.
Bruk
Tepat saat Chen datang Alina jatuh pingsan untung saja tubuh Alina tertangkap oleh Chen.
Chen mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke rumah sakit. Melupakan tagihan Alina yang belum di bayar.
Chen menginjak pedal gas dan mobil tersebut melaju dengan sangat cepat menembus jalanan kota. Tak butuh waktu lama mereka sampai di salah satu rumah sakit terdekat.
Tubuh Alina di bawa ke ruang IGD untuk di tangani. Chen terpaksa menunggu di luar karena dokter tidak mengijinkannya masuk.
Chen berulang kali menatap pintu ruang IGD yang tak kunjung terbuka. Mengambil ponselnya yang ia simpan di saku jas nya dan mencoba menghubungi Ansel.
"Kemana Ansel" umpat Chen kesal
__ADS_1
Berulang kali panggilan Chen tertolak dengan sendirinya karena Ansel tidak menjawab panggilan darinya.
"Astaga Ansel angkat" ucap Chen kesal
Putus asa karena puluhan panggilannya tak mendapat jawaban yang memuaskan. Chen memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Mengusap wajahnya dengan gusar.
Tak lama pintu ruang IGD terbuka. Chen seketika berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana kondisinya"
"Apa kau suaminya" Chen terdiam seketika
"Ah iya" jawab Chen asal
"Kandungannya lemah karena racun yang ada di dalam makanan itu. Untung saja janinnya masih bisa bertahan dan berhasil kami selamatkan. Mulai saat ini tolong lebih di jaga kandungannya" ucap dokter itu
"Baiklah" Chen langsung masuk ke dalam ruang IGD dan menatap Alina yang masih pingsan
"Aku akan lebih menjagamu saat ini"
.
__ADS_1
*Like dan Komen*