
Tidak terasa kini sudah satu bulan berlalu, dan satu bulan ini juga Davina tinggal di kota dengan pekerjaan paruh waktu dengan membagi waktunya untuk kuliah.
"Davina" Teriak juru masak dari dapur saat melihat Davina melintas.
"Iyah ada apa?" tanya Davina kepada juru masak yang bernama Udin.
"Ini ada pesanan, kamu bisa antar in gk?, soalnya semuanya pada sibuk sama tugasnya masing masing" kata Udin saat beberapa orang yang ia suruh masih pada sibuk dengan tugasnya masing masing.
"Bisa bisa kebetulan kerjaan saya udah kelar semua" kata Davina.
"Ya sudah saya ambil duru makanannya sama alamatnya" kata Udin yang kembali masuk ke dapur untuk mengambil pesanan yang akan di antarkan Davina. "Ini makananya, ini alamatnya, orangnya sudah bayar melalui transfer kamu tinggal antar in aja ke rumahnya, deket kok dari sini" kata Udin memberikan Alamat.
"Ok, kalo begitu saya pergi dulu" kata Davina yang langsung mengantarkan pesanannya.
__ADS_1
Davina mengantarkan makanan ke alamat yang tertera di dalam kertas yang di kasih Udin dan sesekali Davina bertanya ke seseorang, hingga akhirnya makanannya sudah sampai ke pemiliknya. Setelah mengantarkan makanan Davina berjalan kembali ke Restoran tempat ia bekerja.
Tapi saat di tengah jalan Davina merasa ada seseorang yang mengikutinya, Davina menoleh ke Belakang dan mendapati dua orang memakai baju seperti pereman dengan gerak gerik yang mencurigakan, Buru buru Davina berjalan lebih cepat tapi saat ia menoleh lagi ke belakang ia melihat seperti ia kenal dengan dua orang itu.
"Bukannya itu anak buah juragan Bandot? mau apa mereka mengikuti sampai ke sini? apa jangan jangan juragan Bandot menyuruh mereka ke sini untuk membawaku pulang dan menjadikan aku istri ke yang ke lima?" perasaan Davina mulai tidak karuan Davina memutuskan untuk berlari agar cepat sampai pikirnya, Tapi dua pereman itu yang melihat Davina lari pun mengejar Davina hingga davina tertangkap oleh dua orang tersebut.
"Lepas!" kata Davina berusaha memberontak.
"Kamu harus ikut kita pulang!, karna hutang hutang Ayah mu di kampung sudah sangat banyak dan Ayah mu apa lagi ibu mu itu tidak bisa melunasinya! sebagai gantinya kamu harus nikah sama juragan Bandot!!" kata Salah satu dari mereka yang memegang tangan Davina.
"Sial!! Hei anak kecil jangan lari!!" kata pereman yang merasa kesakitan pada kakinya dan berusaha lari untuk mengejar Davina.
BUK....
__ADS_1
Saat Davina berlari ia sesekali melihat ke belakang untuk memastikan anak buah juragan Bandot masih mengejarnya, tapi sialnya ia malah menabrak seorang pria hingga ia terjatuh di tanah dengan sikut yang ke gores aspal.
"Auuu" Rengek Davina memegang sikutnya.
"Hei!! kalo jalan pakai mata!!, apa kau tidak punya mata?!, apa matamu itu pic*k" kata sang pria tersebut dengan melontarkan kata kata kasar kepada Davina.
"Maaf tuan maaf" kata Davina yang masih duduk di tanah.
"Hei anak kecil jangan lari!!" terdengar suara pereman itu dari belakang Davina, buru buru Davina bangun dari duduknya dan meminta batuan kepada pria yang baru saja ia tabrak karna jarak ke restoran masih lumayan jauh.
"Tuan tolong saya,tuan saya mohon" kata Davina memegang lengan pria tersebut dengan ketakutan.
"Cih! kau minta tolong kepada ku setelah kau menabrak ku! jangan mimpi!, urus urusan mu sendiri jangan bawa bawa aku!" kata pria tersebut menyingkirkan tangan Davina dari lengannya dengan kasar.
__ADS_1
***
Like & Vote.