
"Kenapa berita ini bisa menyebar sangat luas seperti ini hah!" teriak William memenuhi isi ruangannya.
"Tuan tenangkan diri anda, berita ini sudah saya padamkan dan sudah tidak ada jejak sedikitpun" ucap Max berusaha menenangkan William.
William menarik kerah kemeja milik Max dengan kuat. "Apa kamu pikir masyarakat akan melupakan berita itu?!"
Brak...
William mendorong kuat tubuh Max hingga terjatuh di atas sofa, Max memegangi punggung yang sedikit sakit dan langsung berdiri dari sofa.
"Bram!, pria itu sungguh mencari gara gara dengan ku!" William mengepalkan tangannya dengan kuat saat ia sudah yakin sekali kalo dalang di balik semua ini adalah Bram yang masih tidak terima dengan proyek hari itu.
"Max!"
"Iyah tuan" jawab Max dengan cepat.
"Datangin semua investor yang memegang saham di perusahaan Brawijaya Company pastika mereka semua mencabut perlahan saham itu dari perusahaan bajingan itu!"
Max diam sejak saat perintah itu dilayangkan oleh William bahkan Max sendiri Yuda yakin akan bisa melakukan hall itu.
"Dan bilang sama mereka semua kalo aku akan menanamkan saham di perusahaan mereka dua kali lipat kalo mereka ingin bekerjasama dengan ku!"lanjut William sepeda tau apa yang sedang di pikirkan oleh Max.
"Baik tuan" jawab Max dengan cepat karena dengan tawaran menarik William itu Max sedikit merasa yakin akan melakukan tugasnya.
***
Sore menjelang malam di sebuah taman Davina mendudukan tubuhnya sudah dua jam lebih setalah kejadian di restoran tadi Davina memilih untuk menenangkan dirinya di sebuah taman sudah dua jam juga Davina sepertinya enggan untuk pergi dari taman itu.
Masih dengan air mata yang masih mengalir Davina meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Sekarang aku harus cari kerja kemana?" lirih Davina pandangannya turun menatap perutnya.
Saat Davina mengusap perutnya hatinya terasa semakin sakit saat sang anak merespon usapannya. "Mama minta maaf sayang, maaf kalo kamu sudah merasakan susah selama di dalam sana, bahkan Mama belum bisa kasih kamu kebahagiaan sedikit pun sampai saat ini" ucap Davina pada janinnya.
Tangan Davina merogoh tas kerjanya mengeluarkan amplop berwarna coklat yang ia dapatkan di restoran tadi, air matanya kembali mengalir semakin deras saat membayangkan uang segini pasti tidak akan cukup, bahkan untuk membeli perlengkapan bayi pun jauh dari kata cukup apa lagi untuk biaya persalinannya nanti.
__ADS_1
"Sekarang aku harus cari kerja dimana tuhan? aku yakin dengan keadaan ku saat ini tidak ada satupun toko yang mau menerima ku"
"Kapan aku akan merasakan apa yang perempuan lain rasakan?" lirih Davina.
"Tuhan pasti sudah menyiapkan hall yang indah untuk kamu nantinya"
Davina yang mendengar kata-kata itu menaikan pandangannya tapi ia tidak melihat siapa-siapa di hadapannya, membalikan badannya secara perlahan mata Davina bertemu dengan sorot mata hitam pekat milik laki-laki yang dulu cintai.
"Kak Ali?" lirih Davina.
"Iyah ini aku, akhirnya tuhan mempertemukan kita lagi ya?" kekeh Ali yang ternyata sering mengunjungi tempat itu setiap harinya dengan harapan dirinya bisa bertemu dengan Davina lagi walau hanya satu lagi saja dan tuhan mengabulkan doanya itu wanita yang ia cintai sudah berada di hadapannya walau dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Boleh aku duduk?" tanya Ali menunjuk bangku kosong di samping Davina.
"Silahkan lagi pula Vina juga udah mau pulang kak" kata Davina memasukan kembali amplopnya ke dalam tas dan langsung beranjak berdiri dari duduknya.
Ali dengan gerakan cepat meraih tangan Davina tidak membiarkan wanita itu pergi lagi seperti hari itu.
"Maaf kak, jangan pegang-pegang" ucap Davina langsung menyingkirkan tangan Ali dari tangannya, ja tidak ingin membuat William marah lagi dengannya kaya kejadian hari itu setelah dirinya bertemu dengan Ali di taman ini.
"Aku tau sudah tau apa yang sedang kamu alami Vin" ucap Ali.
"Vina sudah tau kak, kakak pasti tau dari berita yang tersebar beberapa saat lalu kan?"
"Iyah" jawab Ali.
Masih dengan posisi berdiri keheningan menyapa keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, Ali hanya menatap Davina dari samping yang membuang pandangannya ke arah lain wajah wanita itu tidak pernah berubah semakin Ali perhatikan wajah Davina semakin cantik di matanya tapi sayang ia hanya bisa menatapnya tanpa memilikinya.
"Kamu butuh pekerjaan?" tanya Ali membuka pembicaraan saat keheningan menyapa keduanya.
Davina hanya mengangguk, ia tidak bisa berbohong lagi saat ini toh pria yang ada di sampingnya itu sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.
Ali tersenyum melihat itu ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celananya menyodorkannya ke arah Davina. Mata Davina beralih menatap selembar kertas yang di sodorkan Ali kepadanya perlahan tangan Davina terulur menerima kertas itu.
"Tapi aku di kasih orang di depan sana" ucap Ali yang tau kebingungan Davina dari mana dirinya bisa menerima selembar kertas yang bertuliskan lowongan pekerjaan.
__ADS_1
"Ini pekerjaannya cocok buat kamu gak perlu banyak gerak karena kerjanya hanya jadi pelayan toko" lanjut Ali.
Senyuman Davina terukir saat membaca selembar kertas itu tuhan menang tau apa yang sedang ia butuhkan nyatanya ia langsung memberikannya perkejaan setelah dirinya dipecat dua jam lalu. Tapi sesaat senyuman itu hilang dari wajah cantiknya.
Ali bingung dengan ekspresi wajah Davina yang cepat sekali berganti itu. "Kenapa?" tanya Ali.
"Vina gak yakin kak kalo Vina bakal diterima" ucap Davina.
"Kamu belum mencoba Vina darimana kamu bisa tau gagal atau tidaknya?" Ali terkekeh mendengar penuturan Davina yang menurutnya lucu.
"Tapi..."
"Coba saja dulu, aku yakin kamu pasti diterima" ucap Ali meyakinkan wanita yang masih ia cintai itu.
"Ayo dong semangat kaya Davina yang dulu" lanjut Ali.
Davina menganggukan kepalanya menatap wajah tampan laki laki di hadapannya itu. "Iyah besok Davina coba kak" kata Davina membuat Ali tersenyum lega.
"Kalo gitu Vina pulang dulu ya kak udah mau malam" ucap Davina setelah memasukan kertas itu kedalam tasnya.
"Hati-hati" ucap Ali yang di balas senyuman oleh Davina.
Davina melangkahkan kakinya dengan sedikit lega dari taman itu setidaknya ia sudah mendapatkan pekerjaan baru yang akan ia coba besok.
"Vina!" teriak Ali membuat langkah Davina terhenti.
Davina membalikan badannya menatap Ali yang masih berdiri di tempatnya.
"Semoga berhasil!" ucap Ali dengan menaikan satu tangannya memberikan semangat pada Davina.
Davina menganggukan kepalanya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. "Iyah"
***
Udah ya up nya sampai sini dulu author mau bobok siang sama suami author dulu. jangan nunggu in upnya kapan lagi karena author juga gak tau🤣🤣🤣.
__ADS_1