Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 53


__ADS_3

"Davina" panggil William dari dalam kamarnya.


Davina yang baru mengambil pakaian kotor di dalam kamar mandi langsung bergegas keluar dengan membawa keranjang kotor yang berisi pakaian William.


"Iyah tuan" jawab Davina dan melihat William sudah rapi dengan setelah jasnya.


William berbalik menatap Davina yang berjarak beberapa meter darinya. "pasangin" pinta William menyodorkan dasi berwarna biru dongker ke arahnya.


Davina menerima dasi itu dari tangan William dengan sedikit berjinjit Davina memasangkan dasi itu ke leher William.Sudah satu bulan ini William selal meminta Davina untuk memasangkan dasinya dan bodohnya itu malah membuat William sendirian lupa bagaimana caranya memasang dasi sendiri alhasil setiap hari Davina lah yang memasangkan dasi itu. Perut Davina yang sudah mulai membuncit mengenai tubuh William dan entah kenapa saat merasakan perut buncit Davina yang sudah memasuki usia enam bulan itu membuat perasannya tidak menentu kadang ia ingin sekali merasakannya lebih lama dan kadang juga ia tidak mau berlama lamaan di dekat Davina.


Usia kandungan Davina yang sudah memasuki trimester kedua membuatnya meminta izin oleh pihak kampus untuk meminta cuti selama beberapa bulan kedepan dengan alasan dirinya harus pulang ke kampung beruntung pihak kampus juga mengizinkannya walau Davina harus menjawab pertanyaan yang lumayan sulit dan harus sedikit berbohong.


William menatap lekat wajah Davina yang tengah sibuk memasangkan dasi di lehernya, perlahan William menundukan wajahnya mendekatkannya ke wajah Davina. Davina yang merasa wajah William mendekat ke arahnya beralih menatapnya sesaat pandangan mata mereka bertemu beberapa detik dengan jarak yang begitu dekat.


Davina menatap lekat wajah tampan milik William dan seperti biasanya detak jantungnya mulai berdetak dengan sangat cepat hembusan hangat nafas William tepat mengenai wajahnya membuat bulu kudu Davina seketika meremang.


"Su-sudah tuan" ucap Davina melangkah mundur.


"****!"


"Ka-kalo begitu saya keluar dulu tuan" Davina langsung meraih keranjang kotor yang berada tidak jauh darinya dan langsung membawanya keluar.


Di depan pintu kamar William Davina menyandarkan tubuhnya di badan pintu dengan mengangi dadanya yang masih berdetak tidak karuan. "Tuhan kenapa selalu seperti ini?"


Di dalam kamar William meremas angin yang ada di hadapannya meluapkan kekesalannya di pagi hari.


"Selama ini tidak ada satupun wanita yang berani menolak ku tapi...Davina, wanita itu, wanita pertama yang berani-beraninya menolak ku!"


"Tapi kenapa bisa aku sekesal ini?"


"Agh...dasar gila!" omel William di dalam kamar saat pintu kamarnya sudah tertutup.


Sarapan pagi yang sangat cangung untuk William dan Davina kedua manusia itu tidak ada yang berani berbicara satu sama lain bahkan keduanya bisa salah tingkah saat membayangkan adegan yang hampir saja terjadi di dalam kamar tadi.


Prang...


Sendok yang di pegang William jatuh ke atas lantai saat jaraknya dan Davina begitu dekat,Davina menatap sekilas William yang terlihat raut wajah gugupnya sebelum akhirnya Davina mengambil sendok yang jatuh di atas lantai tersebut dan membawanya ke dapur.

__ADS_1


"Kopinya tuan" ucap Davina kembali dengan membawa satu cangkir kopi.


"Hmm" William meraih cangkir kopi yang baru saja di berikan Davina dan langsung menyeruputnya.


"Au..." William mengibaskan tangannya di depan mulutnya.


"Tuan kopinya masih panas, kenapa anda main asal minum saja?" ucap Davina dan langsung menyodorkan satu gelas air putih ke hadapan William.


William menerima gelas itu dan langsung meneguknya meredakan rasa panas di dalam mulutnya. "Kenapa kau tidak memberitahu ku kalo kopinya masih panas?! apa kau ingin isi mulutku terbakar? apa kau punya dendam pribadi dengan ku?!" cecer William.


"Ti-tidak tuan, saya tidak memiliki dendam pribadi dengan anda" jawan Davina.


"Omong kosong!" William langsung bangun dari duduknya dan melangkah ke arah pintu utama rumahnya.


"Silahkan tuan" Max membuka pintu belakang mobil mempersilahkan William untuk masuk.


Baru saja William ingin menginjakan kakinya Davina sudah memanggil namanya dari belakang membuat William mengurungkan niatnya.


"Apa kau harus berteriak-teriak seperti itu untuk memanggilku?, telingaku masih normal dan kau tidak perlu berteriak seperti itu!" desis William saat Davina sudah ada di hadapannya.


"Ma-maaf tuan tapi ini tas anda ketinggalan" ucap Davina menunjukan tas kerja William di tangannya.


Davina mengelengkan kepalanya dan langsung meraih tangan kanan milik William perlahan tapi pasti Davina menundukan wajahnya menyatukan bibirnya dan punggung tangan milik suaminya itu untuk pertama kalinya saat William ingin berangkat bekerja.


Semua mata membulat sempurna saat melihat apa yang di lakukan Davina pada William terutama Max dan Pak Mun ingin rasanya mereka berdua membawa Davina menjauh dari William sebelum singa itu menerkamnya habis habisan apa lagi kandungan Davina yang membuat mereka semakin merasakan kekhawatiran.


Kalo pak Mun dan Max tengah merasakan takut untuk keselamatan Davina beda halnya dengan William. Tubuh pria itu mematung di tempat saat menyaksikan pemandangan indah untuk pertama kalinya dimana Davina mencium punggung tangannya layaknya istri pada umumnya entah getaran apa yang di berikan tuhan padanya, William merasakan kenyamanan untuk pertama kalinya walau hall kecil yang di lakukan Davina itu.


"Ma-maaf tuan" lirih Davina dengan menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah William. bahkan Davina sudah siap menerima apapun yang akan dilakukan William kepadanya.


"Kita berangkat sekarang Max!" perintah William yang langsung masuk ke dalam mobil.


Max bernafas lega saat tuannya itu tidak melakukan hall yang tidak-tidak pada Davina dengan langkah cepat Max masuk ke dalam mobil dan mengendarinya meninggalkan halaman rumah.


Melihat mobil William yang sudah meninggalkan halaman rumah Pak Mun langsung mendekat ke arah Davina yang masih menundukan kepalanya.


"Apa yang Anda lakukan nona?" ucap Pak Mun yang sedari tadi menahan rasa takut setengah mati.

__ADS_1


"Maaf pak Mun, tapi sudah satu minggu ini Davina ingin melakukan hall itu bahkan selama satu minggu ini juga Davina sudah tidur memikirkan bagaimana caranya mencium pungung tangan tuan William" lirih Davina yang masih menundukan kepalanya.


"Bahkan anak kalian saja menginginkan kedua orangtuanya bisa bersatu" pak Mun mengusap pundak Davina lembut saat gadis itu hanya menundukkan wajahnya.


"Tidak apa non, asal jangan lakukan itu lagi kalo tuan William tidak memintanya pak Mun takut kandungan non yang akan jadi taruhannya" nasihat pak Mun.


Davina mendongak wajahnya menatap wajah pak Mun yang tengah tersenyum ke arahnya, ia tahu apa maksud dari ucapan pria paruh baya itu mengenai emosi William yang masih suka meledak ledak. Davina menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan pak Mun yang ada benarnya juga.


***


Meski Davina cuti untuk kuliah beberapa bulan kedepan tapi tidak dengan bekerja karena tiga bulan lagi anaknya akan lahir dan Davina harus mencari uang sebanyak mungkin untuk persalinannya nanti dan rencananya ia akan melahirkan secara normal dan membeli perlengkapan bayi yang belum ia beli sama sekali maka dari itu Davina masih tetap masuk bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang untuk biaya persalinannya nanti.


Walau setiap hari Davina harus di hadapkan dengan berbagai pertanyaan dari karyawan yang lainnnya membuat Davina hanya menanggapinya dengan senyuman dan kadang Davina lebih memilih menghindar saat dirinya benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mia teman Davina pun kadang juga bertanya kenapa dirinya masih bekerja? apa suaminya tidak melarangnya? atau memang keadaan ekonomi keluarga Davina yang tidak memungkinkan? semua itu Davina jawab kalo dirinya yang masih ingin bekerja supaya tidak kesepian di rumah sungguh jawaban yang kurang tepat dan bagi Mia Davina menyembunyikan sesuatu darinya.


Restoran hari ini lumayan longgar membuat Davina tidak terlalu capek duduk di belakang restoran Davina memakan bekal miliknya dengan lahap bersama teman-temannya yang lain.


"Udah berapa bukan Vin?" tanya salah satu teman Davina dengan memegang perut buncit milik Davina.


"Ema bulan mbak"


"Udah besar ya" lanjutnya yang hanya mendapatkan anggukan dari Davina.


"Ngomong-ngomong debay nya cewek apa cowok?"


"Vina gak tau mbk"


Jawaban Vina membuat yang lainnya mengerutkan kening termasuk Mia yang duduk di samping Davina.


"Kok gak tau Vin? bukannya kalo umur enam bulan jenis kelaminnya sudah ketahuan?" tanya Mia, walau dirinya belum menikah apa lagi hamil tapi Mia cukup tau karena terlalu banyak lihat sinetron di televisi.


"Vina belum periksa mbak" jawab Davina dengan menujukan deretan gigi putihnya. Davina memang kadang telat memeriksa keadaan kandungannya bahkan Davina baru akan memeriksakannya dua bulan sekali dan itu juga mendapatkan teguran dari bu dokter yang menanganinya tapi mau bagaimana lagi semua itu tergantung uang yang Davina miliki kalo dirinya memiliki uang lebih maka ia akan memeriksa kandungan secara teratur tapi begitu juga sebaliknya.


"Bok buruan si periksa mbak mau tau jenis kelamin keponakan mbak ini" lanjut Mia yang juga ikut mengusap perut Davina.


"Malah rencananya Davina gak mau tau jenis kelaminnya"


"Kok gitu?" tanya Mia bingung.

__ADS_1


"Biar jadi kejutan aja nantinya lagi pula bagi Vina jenis kelamin tidak terlalu penting yang penting itu dia lahir dengan selamat dan sempurna" jawab Davina penuh harap kalo anaknya tumbuh dengan sehat di dalam sana sampai saatnya tiba nanti.


Mia dan lainnya mengangguk membenarkan ucapan Davina karena baik laki-laki maupun perempuan asalkan lahir dengan selamat dan sehat.


__ADS_2