Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 59


__ADS_3

"Selamat anda di terima" seorang yang di perkirakan berumur dua puluh tahun itu menyodorkan tangannya ke arah Davina.


Davina yang senang akhirnya ia bisa mendapatkan pekerjaan baru menyambut uluran tangan itu dengan cepat. "Terimakasih mbak"


"Terus kapan saya bisa mulai bekerja?" tanya Davina dengan senyuman yang tidak hilang dari raut wajahnya.


"Apa hari bisa?"


Davina menganggukan kepalanya cepat. "Bisa kok mbak"


Wanita tersebut tersenyum mengarahkan satu set seragam ke arah Davina. "Ini seragam kamu di pakai setiap hari, sengaja saya pilihkan ukuran yang besar agar kamu merasa nyaman dan tidak risih saat bekerja"


Davina tersenyum menerima baju itu, pamit ke kamar mandi Davina menganti bajunya terlebih dahulu.


Davina bekerja di salah satu supermarket yang ada di tengah kota yang haru buka tiga bulan ini, Davina bersyukur karena ia di taruh di bagian kasir yang membuat Davina tidak perlu capek-capek jalan kesana kemari seperti di tempat kerjanya dulu.


Baru jam tiga dan masih menyisakan dua jam lagi dari perkerjanya berakhir dan tiba-tiba saja Davina merasa perutnya yang kembali mulas, Davina sudah bolak-balik kamar mandi sebanyak tiga kali saat perutnya tiba-tiba saja mulas. Davina memang sering merasakan mulas saat kandungannya menginjak usia enam bulan Davina sampai sekarang juga belum ke dokter karena belum ada waktu.


"Vin, kamu kenapa?" tanya pihak HDR yang tadi pagi ia temui dan ternyata wanita itu ingin melangkah keluar tapi saat ia melihat Davina langkah kakinya terhenti.


Davina yang tadi menundukkan kepalanya menaikkan pandangan matanya. "Saya gak papa mbk"


"Tapi wajah kamu pucet lo itu, terus kenapa sama perut kamu?"


"Perut saya agak sedikit mules mbak, tapi gak papa kok udah sering kaya gini" kata Davina yang berusaha bersikap biasa saja.


"Mau ke dokter?, biar saya yang antar" tawar wanita itu yang tak tega melihat wajah Davina menahan rasa mulesnya.


Davina mengelengkan kepalanya menolak tawaran itu. "Gak papa mbak, lagian pergantian shift nya juga masih dua jam"


Melirik jam di pergelangan tangannya wanita memastikan jam berapa sekarang. "Gak papa saya antar kamu kerumah sakit, lagian kalo kamu menahan mulas seperti itu terus gimana mau konsen kerjanya?"


Davina menimbang-nimbang ucapan itu, ada benarnya juga kalo ia tidak segera memeriksakan kandungannya ia takut akan di keluarkan dari perkerjanya lagi, lagi pula dirinya juga sudah sangat ingin melihat keadaan bayinya. Menganggukan kepalanya Davina menyetujui ajakan itu, mengambil tasnya di dalam laci Davina melangkah keluar dari supermarket masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke rumah sakit.


"Oh ya aku sudah tau nama kamu tapi apa kamu tidak mau tanya nama aku?" ucap wanita itu memecah keheningan yang ada.

__ADS_1


Davina tersenyum kikuk mendengar itu. "Nama mbak siapa?" akhirnya Davina menanyakan nama wanita yang tengah mengendarai mobilnya.


"Saya Ayu, kalo bisa jangan panggil mbak kaya terlihat banget tuanya" Ayu terkekeh dan itu menular ke Davina.


Mobil Ayu berhenti di parkiran rumah sakit, ayu yang ingin sekali melihat bagaimana keadaan bayi Davina memutuskan untuk ikut turun. Davina dan Ayu duduk di kursi yang sudah di sediakan pihak rumah sakit tinggal menunggu antrian saja.


"Apa menjadi seorang ibu hamil itu menyenangkan?" Ayu melayangkan pertanyaan itu saat melihat pasien terakhir masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


Davina tersenyum mendengar itu, mengusap perutnya Davina menjawab pertanyaan Ayu. "Tentu saja itu sangat menyenangkan apa lagi setiap perempuan di dunia ini bisa mengandung dan melahirkan buah hati mereka sendiri"


Ayu menatap wajah Davina yang tengah tersenyum sambil mengusap perutnya. "Aku rencanya kalo sudah menikah nanti ingin menunda memiliki momongan terlebih dahulu"


"Kenapa?"


"Bukannya aku tidak mau punya anak hanya saja aku ingin menikmati masa-masa indah setelah menikah" ucap Ayu agar Davina tidak salah paham dengan ucapannya.


"Saran ku lebih baik jangan menundanya karena anak itu rezeki yang sangat besar yang tuhan kasih ke kita. Kadang aku merasa kasian dengan wanita di luar sana yang ingin sekali memiliki seorang anak tapi tuhan belum memberikannya"


"Iyah juga, tapi sudah lah lupakan lagi pula aku belum mau menikah karena memang calonnya saja belum ada" ucap Ayu yang langsung tertawa membuat Davina mengelengkan kepalanya.


Setelah pasien yang terkahir keluar dari ruangan dokter kandungan kini gantian Davina yang masuk ke dalamnya bersama Ayu. Davina berbaring di atas brankar membiarkan dokter mengerakan alat USG kesana kemari untuk melihat pertumbuhan janin Davina.


"Apa mau lihat jenis kelaminnya?" tanya dokter tersebut yang masih mengerakan alat USG di atas permukaan kulit Davina.


"Gak usah dok, biar bisa jadi kejutan. Yang penting anak saya di dalam sana sehat udah buat saya senang"


Dokter yang menangani Davina menganggukkan kepalanya, mencetak hasil USG yang di inginkan Davina, dokter tersebut menyodorkan foto hitam putih ke arah Davina.


"Wajahnya udah kelihatan ya" ucap Ayu yang juga ikut melihat foto itu.


"Iyah" jawab Davina tersenyum senang mengusap foto USG yang ada di tangannya.


Turun dari atas brankar Davina duduk di hadapan dokter untuk konsultasi mengenai rasa mules yang sering ia alami belakang ini. Dokter kandungan tersebut mengatakan itu hall yang wajar saat usia kandungan menginjak enam bulan bahkan setiap bulannya Davina akan merasakan sensasi yang berbeda apa lagi memasuki trimester akhir. Menuliskan vitamin dokter tersebut juga menegur Davina agar memberikan kandungannya secara rutin yang hanya di jawab anggukan oleh Davina.


"Kamu jarang periksa kandungan kamu?" tanya Ayu setelah menemani Davina menebus vitamin di apotik.

__ADS_1


"Aku kadang lupa akan hall itu"ucap Davina bohong dengan berjalan keluar dari rumah sakit.


"Kenapa bisa lupa?"


"Aku terlalu sibuk bekerja dan saat aku pulang itu juga sudah memasuki malam hari jadi ya begitulah"


"Kamu serius?"


"Iyah aku serius"


Dret...dret...


Ayu merogoh tas miliknya membuat ayu dan Davina mengentikan langkah kaki mereka.


"Iyah, mas baik saya kesana sekarang" setelah mengatakan hall itu Ayu langsung mematikan sambungan telefonnya. "Vin, maaf banget aku gak bisa antar kamu pulang, tadi bos kita nelfon aku dan aku suruh ke rumahnya" ucap Ayu jujur.


"Iyah gak papa, lagian aku bisa pulang sendiri" jawab Davina.


"Ya sudah aku pergi dulu, kamu hati-hati di jalan"


"Iyah"


Melihat mobil Ayu sudah meninggalkan halaman rumah sakit, Davina berjalan ke arah jalan memberhentikan ojek Davina pulang ke rumah William karena hari yang juga sebentar lagi malam.


***


Melangkah masuk ke dalam halam rumah Davina melihat mobil William yang belum ada pun memutuskan untuk langsung pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket dan baru ia akan masak makanan untuk William.


Menaruh tasnya di belakang lemari dan menaruh vitamin di atas nakas Davina berjalan ke dalam kamar mandi menyegarkan tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Davina membersihkan diri memilih salah satu pakaian yang di rasa nyaman Davina mengenakannya dan melangkah keluar kamar dengan rambut yang masih di gulung tinggi.


"Malam ini mau masak apa pak Mun?" tanya Davina yang sudah sampai di dapur.


"Nona sudah pulang?" tanya pak Mun pasalnya ia tidak melihat ke pulangan Davina karena terlalu sibuk di dapur. "Saya mau masak seafood nona" lanjut pak Mun yang tengah membersihkan udang dari kulkas.


Davina mengangguk dan membantu pak Mun memasak. Sesaat Davina teringat dengan Tanti. "Pak Mun nyonya dimana?" tanya Davina yang tidak melihat keberadaan Tanti.

__ADS_1


"Nyonya keluar sebentar nona, katanya mau ke minimarket depan" kata Pak Mun, Davina menganggukkan kepalanya dan melanjutkan acara masaknya.


Sesaat kemudian Tanti baru saja pulang dari minimarket dan langsung masuk ke kamarnya dengan wajah yang terlihat sangat senang, Davina dan Pak Mun yang melihat itu saling tatap dengan dahi yang menimbulkan garis halus.


__ADS_2