
"Tuan anda mau bawa saya kemana?" tanya Davina untuk kesekian kalinya membuat William menghentikan langkahnya dan menatap tajam Davina.
"Aku mau mengugurkan anak itu!!" kata William menekan kata mengugurkan dalam ucapannya.
Deg....
Hati Davina bagai di hantam benda keras membuat nya terasa sangat sakit saat mendengarkan suaminya akan mengugurkan janin yang baru saja ia ketahui tadi pagi,dan suaminya itu tanpa rasa bersalah ingin mengugurkan bayi yang tidak bersalah sama sekali.
"Ayo" William kembali menarik tangan Davina,saat Davina mematung di tempat.
"Tidak tuan, jangan lakukan itu tuan, dia tidak bersalah" kata Davina mengelengkan kepalanya dan berusaha menolak saat William menyeretnya keluar.
"Saya mohon tuan jangan gugurkan kandungan saya, saya mohon tuan" kata Davina yang langsung berlutut di hadapan William, membuat William menghentikan langkahnya.
"Saya mohon tuan jangan lakukan itu, dia tidak salah tuan, dia tidak meminta hadir di rahim saya,tapi tuhan yang memberikannya untuk saya" kata Davina sambil mendongakkan wajahnya dengan deretan air mata menetes dengan deras dari kedua bola matanya.
"Apa aku peduli?! aku hanya ingin anak itu lenyap dari rahim mu!! karena aku!" William menunjuk dirinya sendiri. "Karena aku William Cakra Nasution, tidak sudi dan tidak akan pernah mau memiliki seorang anak dari seorang gadis rendah seperti dirimu!!!" kata William menekan setiap katanya membuat hati Davina semakin terasa sangat sakit sekarang saat perkataan itu keluar dengan mudahnya dari mulut suaminya.
"Berdiri!" kata William menarik pergelangan tangan Davina dengan kasar agar Davina berdiri dari tempatnya. "Aku bilang berdiri!!!" kata William sekali lagi saat Davina tidak bergerak dari tempatnya.
"Tidak tuan,saya tidak mau" lirih Davina sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau menguji kesabaran ku rupanya"
"Pak Mun!!" panggil William membuat pak Mun yang namanya di panggil dengan cukup keras membuatnya berlari ke arah William.
"Iyah tuan,ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Mun saat sampai di samping William.
__ADS_1
"Ambilkan nanas di dalam kulkas, sekarang!!" kata William dengan mata yang masih menatap wajah Davina yang mengelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tidak pak Mun, jangan lakukan itu saya mohon" kata Davina yang kali ini beralih menatap pak Mun, berharap peria paruh baya itu tidak melakukan apa yang diperintahkan William.
"Apa kau ingin mati pak Mun dengan berdiam di sini?!" kata William penuh penekanan dan beralih menatap wajah pak Mun.
"T-tidak tuan"
"Apa lagi yang kau lihat!! cepat bawakan potongan nanas itu ke sini!!!" kata William yang membuat pak Mun langsung melangkah kembali ke dapur mengambil apa yang di perintahkan William.
"Tuan saya mohon jangan lakukan hall itu tuan, kalo anda tidak menginginkan anak ini tidak apa apa tuan, s-saya yang akan merawat nya"
"Tapi jangan bunuh dia tuan, jangan" kata Davina dengan suara paraunya.
"Cepat!!!" Teriak William saat pak Mun berjalan dengan lambat ke arahnya.
"Pergi dari sini!" kata William setelah menerima sepiring nanas itu.
"B-baik tuan" kata pak Mun menatap prihatin Davina dan berjalan menjauh dari keduanya. "Maaf kan saya Nona, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan anda"
"Buka mulut mu!" Kata William yang sudah menyetarakan tingginya dengan Davina yang duduk di lantai.
"Tidak tuan saya tidak mau" kata Davina mengelengkan kepalanya lemah saat satu potong nanas berada di tangan William.
"Aku bilang buka mulut mu, sebelum aku melakukan hall yang lebih kasar dari ini!!" kata kata William dengan tatapan tajam yang tidak pernah lepas dari bola mata Davina.
Davina yang melihat sorot kemarahan yang masih terpancar dari dua bola mata suaminya itu, Sebenarnya ia merasa sangat takut, tapi tidak untuk saat ini karena ia tidak ingin janinnya yang baru saja ia ketahui hilang begitu saja karena memakan nanas yang ada di tangan William yang itu artinya ia tidak jauh berbeda dari William yang menginginkan anak ini mati.
__ADS_1
Davina menepis kasar tangan William yang memegang nanas di tangannya dan menepis tangan satunya lagi yang memegang piring yang berisi nanas yang pecah di atas lantai dengan pecahan kaca dan nanas dimana mana, Davina berdiri dari duduknya.
William yang melihat aksi Davina Barusan yang ia lakukan kepadanya membuat kemarahannya semakin memuncak William berdiri dari duduknya menatap Davina yang juga tengah menatapnya. "Anda benar benar jahat tuan! apa anda tidak memiliki hati nurani sedikit saja? anda ingin membunuh darah daging anda sendiri?! anda tidak pantas di sebut manusia tuan William yang terhormat!"
Plak...
"Jangan pernah mengajarkan aku apa itu artinya hati nurani!! karena kamu sendiri jauh beda dari diriku!!" kata William menunjuk wajah Davina dengan jari telunjuknya.
Davina tersenyum sinis menatap William dengan memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan William yang cukup kuat. "Saya menang jauh berbeda dengan anda tuan, anda memang memiliki harta yang melimpah tapi tidak dengan hati anda tuan, hati anda itu benar benar sangat kotor melebihi apapun!" kata Davina menekan kata terakhirnya.
"Kamu yang kotor!!" Raung William.
"Iyah tuan Anda benar dan itu memang sangat benar kalo saya menang wanita kotor dan sangat kotor, tapi saya tidak sampai setega anda yang ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri!"
"Dia tidak pernah meminta di hadirkan di dunia ini tuan! bahkan kalo dia tau andalah Ayahnya saya pikir dia memilih untuk tidak di hadirkan selamanya di rahim saya!"
"Saya tidak pernah meminta anda mengakui janin ini anak anda, kalo anda tidak bisa menerimanya, saya tidak keberatan karena saya yang akan merawat anak ini sampai ia lahir ke dunia"
"Anda tadi bilang sendiri bukan kalo anda tidak ingin mendapat anak dari wanita murahan seperti saya?" kata William menjeda ucapannya dengan tatapan mereka yang masih saling bertemu.
"Anda tenang saja tuan, karena saya tidak akan memberitahu siapa ayahnya saat dia lahir nanti, biarkan saja ia tahu ayahnya sudah mati sejak ia berada di kandungan karena itu lebih baik dari pada ia harus tau Ayahnya ingin melenyapkannya karena tidak menginginkan anak dari seorang wanita rendahan seperti ibunya!" kata Davina yang terpaksa bilang seperti itu karena baginya lebih baik melawan untuk mempertahankan anaknya dari pada membiarkan William membunuh anaknya, sedangkan William langsung terdiam saat Davina dengan lantang mengatakan semuanya dengan sangat jelas dan entah mengapa hatinya tidak bisa menerima itu semua.
"Baik kalo itu yang kamu mau!! tapi jangan pernah minta uang sepeserpun untuk anak itu!!" kata William menujuk perut datar milik Davina, sebenarnya William tidak ingin bilang seperti itu tapi itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Anda tenang saja tuan, meski uang yang saya miliki tidak sebanyak yang anda milikk, saya masih bisa merawatnya dengan hasil kerja saya sendiri"
"Kita lihat saja nanti" kata William yang langsung pergi meninggalkan Davina sendiri an yang langsung menundukan tubuhnya di lantai tempat di mana ia berlutut di hadapan William, air matanya tumpah membasahi keramik putih yang memperlihatkan pantulan wajahnya walau tidak terlalu jelas.
__ADS_1