
Setalah makan malam dan membersihkan meja makan,Davina memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya mengingat bahwa besok ia mempunyai jadwal kuliah pagi Davina harus menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda tadi siang karena rasa mual yang tidak kunjung berhenti, Davina meraih tasnya yang ia gantung di belakang pintu dan membawanya ke atas kasur, walau jam menunjukan pukul sepuluh malam dan rasa kantuk sudah mulai menghampirinya, Davina harus tetap mengerjakan tugas kuliahnya dengan cepat agar ia bisa tidur dan tidak bangun ke siangan pagi harinya.
Perutnya yang sudah tidak merasakan mual di malam hari membuat Davina dengan leluasa mengerjakan tugas kuliahnya satu demi satu dengan semangat, dan sesekali Davina berhenti karena matanya yang mulai terasa perih dan mengeluarkan cairan berwarna putih karena terus memandangi tulisan yang ada di buku.
Sampai akhirnya tugas Davina bisa selesai semua, walau kepalanya terasa sedikit pusing tapi mau bagaimana lagi ia harus menyelesaikan tugas itu malam ini juga karena kalo besok pagi pasti tidak keburu mengingat ia harus bangun pagi dan menyiapkan sarapan seperti biasa untuk William.
"Jam satu?" guman Davina saat melihat jam yang terpasang di kamarnya, pantas saja matanya terus mengeluarkan air dan kepalanya sedikit pusing kalo ia saja telat tidur.
"Kamu ngantuk ya sayang? kita tidur ya" kata Davina pada janinnya dan memasukan buku buku yang ada di atas kasurnya ke dalam tas kuliahnya.
"Selamat malam sayang" kata Davina tersenyum saat ia sudah dengan posisi tidurnya, perlahan Davina memejamkan matanya yang sudah sangat lelah, dan tidak membutuhkan waktu lama Davina sudah masuk ke alam mimpi dengan tangan yang masih ada di atas perutnya.
***
Huek...huek...huek...
Pagi harinya Davina yang masih tidur dengan nyenyak harus buru buru bangun dari mimpi indahnya saat perutnya mulai merasa tidak enak dan memutuskan untuk ke dalam kamar mandi memuntahkan isi perutnya.
Hampir setengah jam Davina di dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya, membuat tubuhnya langsung terasa lemas, dan perlahan Davina melangkah kembali ke atas kasur dengan memegang dinding yang menjadi tumpuannya agar dirinya tidak jatuh.
"Kepala ku pusing banget" ucap Davina yang sudah sampai di atas kasur dan memegangi keningnya yang terasa sangat pusing.
"Perutku juga rasanya tidak karuan" Davina yang merasa perutnya kembali bergejolak berusaha menahannya karena dirinya tidak kuat kalo harus berjalan lagi ke kamar mandi.
__ADS_1
Davina menarik laci di samping tempat tidurnya mengeluarkan dompetnya, dan terlihat tinggal tiga lembar uang berwarna merah. "Sepertinya aku harus ke dokter kandungan, karena tidak mungkin aku kuliah dengan keadaan mual mual seperti ini" kata Davina sambil menatap uang yang berada di tangannya.
"Tapi apa uang ini cukup untuk naik angkot ke rumah sakit, bayar dokter kandungan,menebus vitamin di apotik, dan beli susu hamil?" lirih Davina yang membayangkan uang itu pasti tidak akan cukup apa lagi tanggal gajian masih lama.
"Setidaknya perutku tidak mual terlebih dahulu baru nanti aku bisa bekerja seperti biasa, karena aku yakin pihak restoran tidak akan membiarkan ku masuk kalo keadaan ku yang mual mual seperti ini" Davina memasukan kembali uang itu ke dalam dompetnya dan memilih untuk menyegarkan tubuhnya sebelum ia keluar dari kamar, sama seperti tadi davina mengunakan tembok sebagai pegangannya karena kakinya yang masih terasa sangat lemas.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Davina menyegarkan tubuhnya, setelah keluar dari dalam kamar mandi Davina merasa tubuhnya lebih enakan dan ia memutuskan untuk segara merapikan penampilannya sebelum keluar dari dalam kamar, di ikatnya rambut panjangnya dengan tinggi dan pakaian yang sederhana yang menempel di tubuhnya.
Saat Davina keluar dari dalam kamar ia melihat pak Mun dan beberapa pelayan yang sudah menata makanan di atas meja makan, Davina yang melihat itu buru buru ke dapur dan membawa satu piring lagi yang akan di letakan di meja makan.
"Nona, biar saya saja" kata pak Mun saat sampai di dapur.
"Gak papa pak Mun saya bisa kok" kata Davina yang langsung membawa makanan itu ke meja makan, menyusunya dengan makanan yang lainnya.
"Tidak apa apa nona, lagi pula ini tugas saya buka. tugas nona"
"Nona kan lagi hamil muda, jadi lebih baik nona banyak banyak istirahat saja" lanjut pak Mun.
"Iyah pak Mun" balas Davina tersenyum ramah.
Saat Davina dan pak Mun menata makanan di atas meja makan mereka menoleh me arah tangga di mana William turun dari lantai atas yang malah sibuk dengan ponsel yang berada di telinganya, dan berjalan ke arah meja makan dengan ponsel yang masih di telinganya.
"Pagi tuan" sambut Davina dan pak Mun secara bersamaan saat William sudah duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
Seperti biasanya Davina meraih piring yang ada di hadapan William, dan menaruh nasi serta lauk pauk ke dalamnya dan menyajikannya di hadapan William yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Silahkan tuan" kata Davina yang menaruh satu piring tersebut di hadapan William dan setelah itu ia ikut berbaris dengan pelayanan lainnya.
"Saya tidak mau tau bahan meeting itu sudah harus ada di meja saya"
"Ya saya tidak mau tau itu sudah tugas kamu, saya tunggu laporan itu di ruangan saya jam sepuluh nanti" ucap William di akhir sambungan telefonnya dan segera melahap makanan yang ada di hadapannya sebelum berangkat ke kantor.
Baru satu suap yang William masukan ke dalam mulutnya saat hp nya kembali berbunyi, membuat William meletakan kembali sendok yang ada di tangannya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Aku ke kantor sekarang" kata William menjawab seseorang dari sebrang sana.
Davina yang melihat William sudah pergi segara membersihkan meja makan dan seperti perkataan William kemarin kalo ia harus m makan sisa suaminya itu yang ada di dalam piring, beruntung kali ini makanan itu baru di makan satu sendok oleh William membuat Davina bisa makan dari sisi yang lainnya.
Walau hatinya masih terasa sakit saat harus memakan makanan itu, tapi ia tidak boleh egois karena bukan hanya dirinya sekarang yang membutuhkan makanan tapi ada janin yang tumbuh di dalam perutnya yang juga membutuhkan makan dari dirinya.
Selesai membersihkan meja makan dan sarapan Davina pamit kepada pak Mun kalo dirinya ada mata kuliah pagi hari ini, walau pak Mun sudah melarangnya untuk berangkat kuliah karena kondisinya yang belum sepenuhnya baik membuat Davina merasa beruntung setidaknya di rumah sebesar ini masih ada seseorang yang perhatian dengannya, Davina yang berusaha meyakinkan pak Mun bahwa dirinya akan baik baik saja selama kuliah membuat pak Mun akhirnya membiarkan Davina pergi untuk kuliah, dengan pesan kalo Davina harus segera menghubunginya kalo Davina merasakan tubuhnya mulai merasakan mual lagi dengan memberikan secarik kertas yang berisi nomor ponsel miliknya.
Davina menerimanya secarik kertas tersebut dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya, walau William tidak memperhatikan diri dan janinnya setidaknya masih ada orang yang menghawatirkan kondisinya saat ini. setalah menerima secara kertas tersebut Davina langsung berangkat kuliah takut ia tidak mendapatkan angkot yang akan mengantarnya ke kampusnya.
***
Maaf kalo author baru bisa up karena niat nulis novel author yang satu ini susah banget dan baru kali ini author benar-benar merasakan apa yang di rasakan tokohnya, Makanya itu up nya lama karena gk tega buat lanjutin ceritanya😖, karena buat bayang in aja itu udah gak kuat😭.
__ADS_1
Jadi maaf kalo ada banyak typo nya😢