Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 60


__ADS_3

"Apa yang di lakukan wanita itu satu hari ini?" tanya William tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di pangkuannya dengan menikmati pijatan lembut dari tangan mungil Davina.


"Saya tidak tau tuan, karena saat saya pulang tadi nyonya Tanti baru saja keluar" ucap Davina jujur.


"Keluar?"


"Iyah tuan, memang kenapa?" tanya Davina saat raut wajah itu berubah.


Mengibaskan tangannya William meminta Davina agar tidak melanjutkan pembahasan tentang sang Mama. Bagi William urusan Tanti tidak penting baginya selama wanita itu tidak mengusik dirinya.


"Au"


William menoleh ke arah Davina saat gadis itu meringis ke sakitan, menyingkirkan laptop di pangkuannya William mendekat ke arah Davina dengan perasaan khawatir.


"Kenapa?"


"Dia nendang terlalu kuat tuan" ucap Davina yang masih mengusap perutnya.


"Dia siapa? terus apa maksud mu nendang?" William yang tidak paham dengan ucapan gadis itu menatap wajahnya Davina dari samping.


"Dedek bayinya tuan dia terlalu aktif di dalam sana sampai nendang dengan sangat kuat"


"Apa sakit?" Davina menatap wajah William yang terlihat khawatir tapi pria itu menutupinya dengan wajah galaknya membuat Davina ingin tertawa lepas.


"Sedikit tuan, tapi rasa sakit itu bikin bahagia"


"Mana ada rasa sakit bikin bahagia?" cibir William.


"Seorang wanita hamil memang sering merasakan nyeri, pegal bahkan sakit saat buah hati mereka nendang terlalu kuat tapi semua itu menjadi hall yang paling membahagiakan bagi setiap wanita hamil karena setidaknya anak mereka di dalam sana sehat" ucap Davina panjang lebar.


"Aku tidak paham"


Davina mengelengkan kepalanya saat William tidak paham dengan apa yang ia maksud padahal ia sudah menjelaskan dengan bahasa yang menurutnya sangat mudah di pahami. "Yang terpenting anak saya di dalam sana sehat sampai ia lahir nanti" ucap Davina tersenyum lebar ke arah perutnya.


"Kenapa tiba-tiba hati ku sakit?"


"Anda masih mau di pijet tuan?" tanya Davina saat William masih berada di sampingnya.


"Iyah" jawab William tapi pria itu tidak beranjak dari tempatnya membuat Davina menata wajah laki-laki itu bingung.


"Aa-apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya William.


Davina mengerutkan keningnya saat pertama kali melihat William bicara dengan nada penuh permohonan membuat dirinya bingung apa yang akan di minta tuannya itu.

__ADS_1


"Apa tuan? apa anda butuh sesuatu?"


William mengelengkan kepalanya pelan. "Bukan, hanya saja...."


"Hanya saja..."


Davina yang sudah menunggu kelanjutan dari ucapan itu di buat bingung sendiri apa yang ingin tuannya itu bicarakan, kenapa terlihat gerogi sekali.


"Sial! bagaimana cara bilangnya?"


"Gengsi ku terlalu besar untuk mengatakan kalo aku ingin mengusap perutnya itu" umpat William dalam hati saat Davina yang masih menatapnya.


"Anda mau bicara apa tuan?" tanya Davina, saat William tiba-tiba saja langsung diam.


"Aaa-aa" Bukannya menjawab William malah ber-A ria.


"Lupakan tidak penting!" akhirnya William memilih memendam sendiri apa yang inginkan dari pada mengutarakan apa yang ia mau.


"Anda serius tuan?"


"Apa wajahku terlihat meragukan?" tanya William galak.


Davina hanya mengelengkan kepalanya menjawab ucapan William karena sampai sekarang kadang ia masih merasa takut saat mendengar suara William yang suka marah-marah apa lagi membentaknya.


"Pijat kaki ku" perintah William yang sudah kembali ke posisi semula. Davina mengangguk melanjutkan memijat kaki William.


suara ketukan pintu memecah keheningan yang terjadi ke arah keduanya manatap pintu kamar William mempersilahkan orang di luar agar masuk. Mereka pikir yang mengetuk pintu adalah pak Mun tapi ternyata Tanti yang masuk membuat William mendengus kesal.


"Maaf kalo gangu waktunya"


"Tidak nyonya, anda tidak menganggu sama sekali" Davina tersenyum ke arah Tanti yang sudah berdiri di hadapannya.


Membalas senyuman Davina, Tanti beralih menatap putranya yang tengah sibuk dengan laptop di hadapannya.


"William ini Mama bikinkan puding kesukaan kamu" ucap Tanti menunjukan semangkuk bubur di tangannya.


Menatap sekilas wanita itu William kembali fokus pada layar laptop miliknya. "Bawa keluar" kata William singkat.


"Tapi nak, mama sudah buatkan puding ini untuk mu setidaknya rasakan sedikit saja ya" pinta Tanti penuh harap.


Menghentikan pergerakan tangannya William mengambil nafas panjang. "Bawa keluar!"


"Bukankah kamu suka banget puding buatan mama?, atau kamu mau mama suapin?" Tanti menyendokkan satu sendok puding dan mengarahkan sendok itu ke depan mulut William.

__ADS_1


Davina memilih diam saja melihat ibu dan anak itu.


"Buka mulut nya sayangnya"


William menatap sendok di hadapannya beralih menatap wajah wanita paruh baya yang sudah berdiri di sampingnya.


Prang...


Tanti dan Davina terperanjat kaget saat William menepis sendok itu membuat puding yang di buat Tanti jatuh ke lantai.


"Sudah aku bilang aku tidak mau!, kenapa kau terus memaksa hah?!"


"Apa kau pikir dengan kau memberikan ku puding itu dan menyuapkan nya seperti anak kecil aku akan menerima mu begitu saja?!"


"Seharusnya kau itu beruntung bisa tinggal di sini dari pada jadi gelandangan di luar sana!"


"Tuan"


"Diam!" ucap William meminta agar gadis itu diam dan tidak ikut campur urusannya.


"Ma-mama minta maaf nak"


"Kalo kata minta maaf mu bisa mengembalikan ayah ku, maka detik itu juga aku memaafkan mu!"


"Kenapa diam saja?, kau tidak bisa mengembalikan ayah ku bukan?, terus kenapa kau masih ada di sini!" ucap William saat Tanti hanya diam saja dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipinya.


"Keluar dari kamarku!" usir William menunjuk pintu kamarnya.


Tanti mengangguk lemah, menundukan sedikit tubuhnya ia membersihkan puding yang berserakan di atas lantai baru ia berjalan keluar dari kamar William.


"Tuan kasian nyonya" Davina membuka suara saat pintu kamar sudah kembali tertutup.


"Kau tidak tau apa-apa, jadi jangan sok tau tentang kehidupan orang lain!" tegas William.


"Tapi dia mama kandung anda tuan"


"Aku saja tidak pernah meminta sama tuhan untuk mendapatkan seorang mama kotor seperti dia!"


Davina mengelengkan kepalanya ia memang tidak tau apa cikal bakal masalah ini tapi sifat William apa pantas seperti itu terhadap mamanya sendiri?. "Belajar menerimanya tuan selagi dia masih ada sebelum tuhan mengambil dirinya, karena kematian tidak ada yang tau"


William menunjukan senyum sinisnya. "Aku malah berharap ajal segera mengambilnya!"


Akhirnya Davina memilih diam tidak mengatakan sepatah kata lagi, karena percuma bicara kepada orang saat hatinya sudah keras seperti batu.

__ADS_1


***


Akhirnya bisa up juga, maaf kalo dah kama bgt gk up nya😘


__ADS_2