Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 89


__ADS_3

Davina yang sedang asyik-asyiknya menyiram tanaman di belakang rumah, mulai merasakan mulas pada perutnya. Tau akan kontraksi palsu yang mulai ia rasakan Davina masih melanjutkan aktivitas nya.


"Sayang" suara William yang langsung memeluknya dari belakang membuat Davina tersenyum simpul.


William yang sudah mulai cuti sejak satu minggu yang lalu menemani istrinya di rumah yang sebentar lagi akan melahirkan anak kedua mereka.


"Apa sudah ada tanda-tanda kontraksi?" semenjak dokter kandungan berkata akan melakukan operasi saat Davina mulai merasakan kontraksi yang ia rasakan dan itu membuat William menanyakan hal tersebut setiap pagi.


"Iyah" jawab Davina masih santai menyirami bunga dihadapannya.


"Benarkah?" membuang selang dari tangan sang istri, William membalikan tubuh Davina agar menghadap nya. "Apa kontraksinya sudah semakin sering?"


"Tidak hanya kontraksi palsu, dan aku juga baru merasakan nya" jawab Davina mengusap perutnya.


"Kita kerumah sakit sekarang saja ya" Davina menggeleng cepat saat William akan mengajaknya ke rumah sakit.


"Ini baru kontraksi palsu sayang, kamu ingat bukan kata dokter hari itu kalo kontraksi palsu bisa berlangsung selama satu dua hari?" William mengangguk kecil. "Jadi kita tunggu saja sampai kontraksinya mulai sering" lanjut Davina tersenyum.


"Apa tidak apa-apa?" tanya pria itu dengan mimik wajah khawatir.


"Semua nya akan baik-baik saja, dulu saja aku bisa melahirkan Arsalan dengan lancar kenapa sekarang tidak?" ucap Davina memberikan ketenangan pada diri suaminya, entah dia yang salah atau bagaimana seharunya ia yang merasakan ketegangan saat hari operasi semakin dekat tapi malah sebaliknya hal tersebut dirasakan sang suami yang nampak khawatir.


"Sudahlah lebih baik kita sarapan sekarang saja" ajak Davina menarik tangan suaminya menuju meja makan dimana semua orang sudah menunggunya.


"Arsalan kemana?" tanya Davina saat tak melihat putranya ada di meja makan.


"Arsalan ada di ruang bermain" jawab Inah menata makanan di meja. "Nanti biar ibu yang menyuapinya, sekarang kalian makan saja dulu"


Davina mengangguk duduk di kursinya, tak lupa ia mengambilkan makanan untuk William. "Terimakasih sayang"


"Selamat pagi" suara hangat milik Alif menyapa semua penghuni rumah dari arah pintu masuk.


"Alif?, kamu kapan sampai?" Alif yang sudah duduk di bangku SMA memilih tinggal di desa sendirian, sedangkan Inah juga lebih sering tinggal bersama Davina dan William karena tak bisa lepas dari sang cucu-Arsalan.


"Baru saja" jawab Alif ikut bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang kakak?, kakak bisa menjemput mu di bandara" omel Davina.


"Sengaja aku datang tanpa memberitahu siapapun untuk memberikan kalian semua kejutan"


Mendengar itu Inah langsung menjewer telinga putranya. "Dasar anak nakal, sejak kapan kamu mulai tambah nakal seperti itu!"


"Aduh ibu sakit" adu Alif mengusap telinganya.


William menggeleng kecil melihat tingkah adik iparnya itu yang sangat nekat sekali. "Kapan kamu lulus?" tanya William tanpa menyebut nama Alif.


Tau pertanyaan itu untuk dirinya Alif menatap wajah kakak William yang fokus pada makanannya. "Tinggal tiga bulan lagi kak"


"Terus kamu mau kuliah dimana?" Meski Alif bukan adik kandungnya William ingin menjamin masa depannya sampai ke jenjang kuliah.


"Alif terserah kakak saja" sebenarnya Alif sudah memiliki kampus incarannya selama ini. Merasa tak enak akan William yang sudah mau membiayai pendidikannya selama ini akhirnya Alif pasrah dimana kakak nya itu akan menguliahkan nya.


"Apa kamu yakin dengan pilihan kakak?"


"Tentu, karena Alif yakin kak William akan memberikan Alif yang terbaik."


Mendengar hal tersebut William hanya mengangguk mengiyakan, dan setelah ini akan meminta Max untuk menunjukan beberapa brosur universitas yang bagus.


***


"Sayang" panggil Davina menggoyang kan lengan William, meminta agar sang suami segara bangun. "Sayang bangun!" kali ini suara Davina sedikit lebih keras dari tadi.


Mata William perlahan terbuka, menoleh ke arah samping melihat istrinya itu yang tengah merintih kesakitan. "Kamu kenapa?" tanya William panik langsung bangkit dari tidurnya.


"Sakit" lirihnya menahan rasa sakit pada perutnya.


"Apa kontraksinya semakin sering?" tanya William dan mendapatkan anggukan dari Davina. "Kita kerumah sakit sekarang" menyibakkan selimut nya, meraih kunci mobil dari atas nakas dan langsung membopong tubuh Davina keluar dari dalam kamar.


"Sayang sakit" rintih Davina saat keduanya menuruni anak tangga.


"Iyah sayang sabar ya"

__ADS_1


"Kak William" panggil Alif dari arah dapur. Alif yang belum tidur memilih membuat secangkir kopi untuk ia nikmati di balkon kamar, tapi saat ingin berjalan ke arah tangga dirinya melihat William yang masih menggunakan piama dan mengendong kakak nya. "Kalian mau kemana malam-malam seperti ini?"


"Davina perutnya sakit, sepertinya dia mau lahiran" ucap William tak bisa menyembunyikan raut kecemasan dari wajahnya. "Aku akan kerumah sakit sekarang, bilang sama ibu kalo ia ingin ke rumah sakit besok saja kasian Arsalan di tinggal seorang diri"


"Iyah kak, nanti aku nyusul" ucap Alif yang harus memberitahu Inah terlebih dahulu.


"Sayang"


"Iyah kita kerumah sakit sekarang" ucap William langsung berjalan ke luar rumah menuju rumah sakit.


Sampainya di rumah sakit Davina langsung mendapatkan penanganan dari dokter dengan memasang selang infus dan mengecek tekanan darah Davin, tak lupa dokter mengecek keadaan janin Davina, memastikan semua nya baik-baik saja sebelum melakukan operasi sesar.


Genggaman tangan keduanya terus bertautan, seakan-akan rasa sakit yang Davina rasakan menular kepadanya, berulang kali William mencium kening sang istri menenangkan nya akan rasa sakit yang sedang Davina rasakan.


"Dok ruang operasinya sudah siap" ucap seorang suster masuk kedalam ruang dimana Davina mendapatkan penanganan.


"Kalo begitu bantu saya bawa nona Davina ke sana"


Brankar Davina di dorong menuju ruang oprasi dimana William juga akan ikut masuk ke ruangan operasi saat mendapatkan izin, tentu William akan dengan senang hati akan menemani istrinya di dalam ruangan yang dingin itu.


"Jangan takut aku ada di sini untuk mu dan anak kita" ucap William menatap dalam mata Davina.


Davina hanya tersenyum kecil. William yang menenangkannya tapi dia sendiri yang nampak sangat takut dari pada dirinya.


Perut Davina di tutupi oleh kain berwarna hijar, dan salah satu suster menyuntikan obat bius pada paha kiri Davina dan tulang belakangnya, menunggu beberapa saat sampai obat bius itu bekerja.


"Apa di sini sakit?" tanya dokter menekan perut Davina bagian kiri.


"Tidak" jawab Davin tak merasakan apapun.


Mendengar jawaban Davina dokter bisa memastikan obat bius nya sudah mulai bekerja. Menerima uluran pisau medis, dokter pun mulai menyayat perut Davina lapisan demi lapisan, menyedot air ketuban dan mencari letak kepala bayi. Mengeluarkan bayi secara perlahan dari dalam perut Davina. Bayi yang mungil dengan jenis kelamin laki-laki itu mengeluarkan suara yang sangat melengking membuat siapapun yang ada di ruangan itu bernafas lega.


Air mata Davina tumpah mendengar tangisan sang anak. Perasaan lega dan bahagia campur jadi satu saat anaknya telah lahir dengan selamat.


"Sayang anak kita" ucap William dengan bibir bergetar, dan air mata pria itu tumpah saat ia di berikan kepercayaan oleh tuhan sebesar itu mengingat sedosa apa dirinya dulu.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2