
Sekarang William sudah berada di kursi kebesarannya memulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, William membuka dokumen satu dan dokumen yang satunya lagi mendatangi satu persatu dokumen dokumen tersebut.
Sampai terdengar ketukan pintu yang membuatnya menghentikan sejenak aktivitas, "Masuk Max" kata William saat melihat Max membuka pintu ruangan kerjanya, setelah William kembali ke kantor William meminta Max untuk menemuinya saat itu juga.
"Duduklah" perintah William yang membuat Max duduk di depan meja kerja William.
"Katakan semua informasi yang kamu dapat" kata William sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.
Max terdiam sesaat memilih kata kata yang tepat untuk membuka suaranya. "Saya rasa anda sudah tau tentang Adik, dan ibu dari nona Davina, di sini saya kan memberitahu anda tentang Ayah Nona Davina dan dulu saat Nona Davina duduk di bangku SMA" kata Max yang tidak di jawab oleh William, William hanya menatap asisten pribadinya itu supaya tidak ada hall yang ia sembunyikan dari dirinya.
"Nona Davina memiliki seorang Ayah bernama Diki yang jarang sekali pulang ke rumah, ia hanya pulang saat ia membutuhkan uang saja setalah ia mendapatkan uang dari Ibu nona Davina, Diki langsung pergi begitu saja dari rumah, bahkan setelah juragan Bandot menagih hutangnya tidak berselang lama dari itu Diki pulang ke rumah dan mengambil semua uang yang di kasih Nona Davina kepada Inah ibu nona Davina"
"Apa ibu Davina menghubungi Davina saat Ayahnya itu mengambil uang miliknya?" tanya William memotong ucapan Max.
"Tidak tuan, ibu nona Davina tidak menghubungi nona Davina sampai sekarang, dan Ayah Nona Davina juga tidak ada kabar sampai sekarang, dan terakhir saya mendapatkan informasi kalo Ayah nona Davina berada di sebuah club bersama wanita wanitanya" kata Max.
Tanpa sadar William mengepalkan tangannya kuat saat mendengar kalo ayah Davina juga sama persis dengan Tanti mamanya.
__ADS_1
"Ceritakan tentang masa masa sekolahnya" kata William yang tidak ingin mendengar lagi tentang Ayah Davina.
"Nona Davina sekolah di salah satu SMA yang juga terfavorit di daerahnya tersebut, Nona Davina memiliki satu orang sahabat bernama Arum yang sekarang tengah merawat ibu dan adik nona Davina"
"Saat masa sekolahnya Nona Davina di sukai oleh salah satu kakak kelasnya yang tengah lulus, dan saat acara kelulusan di sekolahnya nona Davina di buli oleh beberapa orang wanita yang ternyata seumuran dengan Nona Davina, karena salah satu di antara ketiganya menyukai seorang yang suka dengan Nona Davina dan beranggapan nona Davina lah yang menyukainya terlebih dahulu"
"Nona Davina juga merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya, nona Davina mendapatkan beasiswa di salah satu universitas favorit di kota ini, nona Davina memiliki dua orang teman di sini yang bernama Mia dan Sekar"
"Apa salah satu dari mereka tau kalo saya suami dari Davina?" tanya William.
"Ternyata dia benar benar melakukan apa yang aku ucapkan"
"Max, aku ingin kau memberikan uang kepada ibu Davina, tanpa sepengetahuan Davina"
"Baik tuan" jawab Max.
***
__ADS_1
Malam harinya William pulang dan seperti biasa para pelayan dan pak Mun termasuk Davina menyambut kedatangannya, kali ini William pulang ke rumah tanpa membawa wanita seperti biasanya, entah kenapa rasanya William tiba tiba malas untuk bermain dengan para wanitanya itu.
"Selamat datang tuan"
"Apa tangan mu masih sakit?" tanya William tidak menjawab sapaan para pelayannya, William lebih tertarik dengan Davina yang tengah menundukkan wajahnya.
Davina yang merasa pertanyaan itu di layangkan untuk dirinya, Davina menaikan pandangannya dan menatap wajah William yang tengah berdiri di depannya. "Sudah lebih baik tuan" kata Davina yang dengan cepat kembali menundukan kepalanya.
"Kamu bisa libur untuk tidak bekerja selama beberapa hari sampai tangan mu itu sembuh" kata William yang langsung masuk ke dalam rumah yang tentunya di ikuti para pelayan dari belakangnya meninggalkan Davina di teras rumahnya sendirian.
"Kalo aku libur, bagaimana dengan biaya berobat ibuk dan biaya sekolah Alif? tidak mungkin aku libur selama itu, Karena aku juga gak yakin uang itu akan bertahan lama apa lagi sampai bapak pulang dan mengambil semua uang itu"
Davina menatap langit malam yang di hiasi oleh taburan bintang berkelap kelip di sekitar bulan yang memancarkan cahaya indahnya di malam hari, Davina menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, merasakan angin malam yang perlahan semakin dingin yang menerpa tubuh kecilnya itu. "Tuhan, jika tidak ada kebahagiaan untuk ku di dunia ini, maka izinkanlah aku membahagiakan orang orang yang sayang dengan ku" satu bulir bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Davina.
"Aku hanya belajar menjadi sosok dewasa,yang sabar dalam keadaan apapun meski sebenarnya aku tak mampu" lirih Davina dan memejamkan matanya membuat semua air matanya yang terbendung dari tadi membasahi pipinya.
"Bawa aku pulang tuhan kalo dunia saja sudah menolak keberadaan ku" guman Davina sambil membuka matanya menatap langit yang sudah di tutupi dengan awan hitam yang begitu kental, pertanda sebentar lagi akan turun hujan, mungkin Alam juga merasakan seperti apa yang Davina rasakan saat ini, dan mungkin juga alam ingin meringankan beban gadis itu, tapi tuhan saja mengujinya.
__ADS_1