
Hari pertama di kampung halamannya Davina mengajak William berkeliling desa menggunakan sepeda mini milik tetangga yang kebetulan lagi tidak di pakai awalnya William menolak dan menawarkan agar pakai mobilnya saja tapi di tolak oleh Davina dan mengancam kalo dirinya akan berjalan kaki saja dan itu membuat William tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya akhirnya William menurunkan egonya sedikit demi istri dan anaknya.
Menyusuri jalan kampung yang belum di aspal keduanya menikmati suasana pagi hari yang masih sejuk dengan membahas hal-hal yang menyenangkan, puas berkeliling dan menikmati indahnya pagi keduanya pulang ke rumah yang sudah di sambut Inah di depan rumah yang kebetulan lagi nyapu.
"Kalian sudah pulang?"
"Iyah bu"
"Ya sudah buruan mandi habis itu makan, tadi di dalam ibu sudah masak"
Mengangguk Davina menarik tangan William masuk ke dalam kamar, memberikan handuk dan baju ganti ia meminta agar William mandi terlebih dahulu. "Kenapa tidak mandi bersama saja-" belum selesai William berbicara mulutnya sudah di bungkam terlebih dahulu oleh Davina.
"Jangan bicara seperti itu malu kalo di dengar ibu apa lagi Alif" ucap Davina pelan melepaskan tangannya dari mulut William.
"Kenapa harus malu?, lagi pula kamu mandi sama suami kamu bukan sama orang lain"
"Sudah gak usah di bahas mending kamu buruan mandi" berusaha mendorong tubuh William agar pergi tapi tubuh laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun dari tempat.
"Kenapa diam saja?" tanya Davina.
"Aku mau menanyakan sesuatu sama kamu" ucap William berjalan ke arah ranjang.
William yang sudah duduk di pinggir membuat Davina juga ikut duduk di sebelahnya penasaran dengan apa yang akan pria itu ucapkan. "Mau tanya apa?"
"Apa kamu cinta dengan ku?" pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan tadi malam baru berani ia layangkan sekarang.
Davina mengeleng kecil. "Maaf tapi aku belum memiliki rasa itu" ucapnya penuh hati-hati takut menyakiti hati pria yang duduk di sampingnya.
"Iyah tidak apa aku hanya bertanya, lagi pula aku juga belum memiliki rasa itu untuk sekarang ini"
__ADS_1
"Apa kamu mau?" tanya William mengantungkan kalimatnya.
"Mau apa?"
"Emmm... ti-tidak jadi" William yang bingung sendiri bagaimana cara menyampaikannya memilih tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Kamu mau bicara apa?, kenapa tidak jadi?"
"Bukan apa-apa, gak usah di pikirkan" mengaruk kepalanya yang tidak gatal William beranjak dari duduknya keluar dari dalam kamar menuju kamar mandi.
"Aneh" guman Davina mengelengkan kepalanya.
Selagi menunggu William yang tengah mandi Davina berjalan ke arah meja belajarnya menatap dinding yang masih banyak sekali tulisan-tulisan kecilnya di secarik kertas yang sengaja ia tempelkan di dinding. Membaca satu demi satu kata-kata penyemangat itu mengingatkannya tentang bagaimana selama ini ia berjuang.
William yang sudah selesai mandi dan kembali ke kamar gantian Davina yang membersihkan dirinya. Melihat Davina yang sudah pergi William berjalan ke tempat di mana tadi Davina duduk membaca tulisan-tulisan itu, meraih ponselnya ia menghubungi seseorang di sebrang sana.
"Cairkan sebuah rumah dan beli rumah itu sekarang!"
Semua orang tengah duduk di ruang tengah setelah sarapan, mengobrol ringan sebelum William dan Davina pulang ke kota. "Kalian beneran mau pulang sekarang?, kenapa tidak lebih lama di sini?" ucap Inah sedih saat harus berpisah lagi dengan putrinya yang baru saja datang kemarin.
"Kalo ibu mau, ibu bisa ikut kita ke kota" ucap William memberikan tawaran, karena ia sendiri juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
"Bukannya ibu tidak mau hanya saja terlalu berat pergi dari sini apa lagi Alif masih sekolah dan sebentar lagi lulus"
"Kalo suatu saat nanti ibu ingin ke kota ibu tinggal telfon saja nanti supir saya yang akan jemput ibu dan Alif"
"Sepertinya itu lebih baik" Inah setuju dengan saran dari William menginap satu,dua hari di kota tidak ada salahnya selagi dirinya tidak pergi dari ini.
Mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya William menyodorkan sertifikat rumah ke arah Inah membuat Davina, Inah dan Alif di buat kaget akan hall itu. "Saya punya hadiah buat ibu, mungkin tidak seberapa tapi mohon di terima"
__ADS_1
"I-ini sertifikat rumah?" memegang kertas di tangannya Inah masih tidak percaya akan hal ini. "I-ini sangat berlebihan nak, ibu tidak bisa menerimanya"
"Gak bu ini nilainya gak seberapa, jadi mohon di terima" menolak berkas yang di kembali di sodorkan Inah ke arahnya. "Anggap saja ini hadiah dari saya buat ibu, dan mohon di terima"
"Dan ibu sama Alif sudah bisa tinggal di sana hari ini, nanti orang suruhan saya akan kesini membantu ibu membawa barang-barang yang akan di bawa ke rumah baru" lanjut William.
Inah yang tidak bisa berkata lagi hanya menitikkan air mata haru, kini impiannya memiliki sebuah rumah dan tidak lagi ngontak akhirnya terwujud. Menatap Davina yang duduk di sampingnya William di buat gemas dengan ekspresi wajah istrinya yang sedih tapi terlihat sangat lucu.
"Jangan seperti itu kalo kamu tidak mau acara pulang ke kotanya di ganti besok" bisik William.
"Kenapa?" tanya Davina tidak paham.
"Karena aku akan membawamu ke kamar sekarang" menjauhkan wajahnya William mengedipkan sebelah matanya. Melihat itu Davina mencubit pinggang suaminya, bukannya mengaduh kesakitan William malah tertawa.
Setelah memberikan hadiah kecil kepada Inah, William dan Davina berpamitan untuk pulang ke kota mengingat mereka memiliki perkejaan masing-masing di kota. Melambaikan tangannya dari dalam mobil kearah Inah dan Alif, mobil William perlahan pergi meninggalkan halaman rumah Inah.
Menutup kaca mobil Davina menatap wajah suaminya. "Terimakasih untuk hadiahnya"
"Itu bukan hadiah untuk mu tapi kenapa kamu yang bilang terimakasih?" kekeh William.
"Aku serius Will!"
"Iyah aku juga serius, simpan saja ucapan terimakasih kamu itu untuk nanti"
"Nanti?, memang ada apa?" tanya Davina bingung.
"Nanti kamu juga tau" ucap William tersenyum dan itu membuat Davina benar-benar bingung akan hall apa yang akan dilakukan suaminya.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiahnya 🤗♥️