Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 67


__ADS_3

Mobil William yang memasuki perkampungan yang masih sangat asri membuat suasana terlihat sangat indah di tambah dengan matahari yang mulai berwarna Oranye membuat Davina tidak bisa melepaskan pandangannya ke arah luar menatap hamparan sawah yang luas.


Berhenti tepat di depan rumah kontrakan yang terbilang sangat sederhana Max membukakan pintu untuk tuan dan nonanya. William menatap bangunan di depannya sebentar sebelum menatap sekeliling tempat tersebut yang jauh dari kata mewah bahkan jika di bandingkan dengan gudang di rumahnya masih jauh dari itu.


"Ayo masuk" ajak Davina meraih tangan William yang hanya diam saja membawa pria itu agar masuk ke dalam rumahnya yang kebetulan pintu rumahnya tengah terbuka. Meninggalkan Max yang berdiri di luar rumah sendirian.


"Assalamualaikum, Ibuk, Alif Vina pulang" ucap Davina sedikit berteriak.


Mendengar seseorang yang berteriak dari arah luar membuat Inah dan Alif yang tadinya tengah membersihkan dapur buru-buru keluar. Senyuman keduanya mengembang saat melihat Davina yang tengah berdiri, berjalan dengan cepat ke arah anaknya Inah memeluk tubuh Davina dengan erat, William yang melihat itu memundurkan langkahnya membiarkan Davina melepas rindu dengan keluarganya.


"Kamu apa kabar sayang" tanya Inah dengan suara seraknya menahan tangis.


"Vina baik buk, ibu sama Alif sendiri gimana kabarnya?" tanya Davina melepaskan pelukannya menatap wajah Inah yang terlihat sangat bahagian karena kedatangannya.


"Ibu sama Alif baik-baik saja sayang" jawab Inah. Merasa ada yang aneh dengan putrinya Inah menatap Davina dari atas sampai pandangan matanya berhenti di perut buncit Davina. "Ka-kamu hamil?"


Mengangguk senang Davina menjawab pertanyaan sang ibu. "Iyah bu, dan udah mau jalan delapan bulan" jawab Davina.


Ada perasaan senang dan sedih di hati Inah saat ini, di satu sisi ia sangat senang saat mendengar hall itu yang tandanya sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek di satu sisi juga ia masih tidak menyangka anaknya akan hamil dan melahirkan di usianya yang masih sangat muda yang harusnya ia habiskan dengan menikmati masa mudanya.


"Jaga cuci ibu baik-baik" hanya itu yang bisa Inah katakan saat ini.


"Iyah buk, pasti"

__ADS_1


Hampir lupa dengan William Davina sedikit membalikan badannya menatap pria itu yang hanya diam saja di tempatnya. "Buk kenalin ini namanya William. Suami Vina"


Inah menatap wajah William yang sudah bisa di pastikan bahwa pria itu pasti jauh lebih tua dari anaknya. Berjalan mendekat William meraih tangan Inaj, mencium punggung tangan yang mulai menimbulkan garis halus itu. "Saya William" ucap William sopan.


"Saya Inah ibu Davina, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Ibu sama seperti Davina" ucap Inah di angguki William.


Mempersilahkan anak dan menantunya duduk mereka melanjutkan obrolan ringan yang sempat terjadi, William yang aslinya memiliki sifat ramah membuatnya cepat akrab dengan ibu Davina yang terlihat baik sama persis seperti apa yang di ceritakan istrinya. Melihat ibu dan suaminya yang sudah mulai akrab Davina pamit kebelakang untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu mengingat kamar mandi di rumahnya hanya satu dan pasti akan di gunakan secara bergantian dengan penghuni yang lainnya.


"Bu, kalo boleh saya tau ayah Davina dimana?" tanya William saat Davina sudah pergi dan Alif yang memilih untuk bermain.


"Ayah Vina sudah lama sekali tidak pulang kesini" jawab Inah getir. "Bahkan ibu rencananya mau menggugat cerai ayah Vina"


Mendengar itu William tertegun atas ucapan Inah. "Apa yang menyebabkan ibu menggugat cerai Ayah Vina?" William yang sebenarnya sudah tau semua tentang kehidupan Davina terutama sifat Diki-ayah Davina yang menelantarkan anak dan istrinya membuat mereka harus dengan susah payah bekerja keras hanya untuk sesuap nasi.


"Tapi jika laki-laki itu mau berusaha berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya mungkin itu lebih baik dari pada tidak sama sekali" Ucapan Inah bijak bisa berfikir seperti itu membuat William tidak heran jika Davina bisa memiliki sifat dan ucapan yang bijak juga yang di wariskan oleh sang ibu.


"Apa saya boleh saya mengatakan sesuatu sama anda agar suatu saat nanti anda tidak salah paham dengan saya?"


"Silahkan" ucap Inah mempersilahkan.


Mengatur nafasnya William mulai menceritakan kehidupannya selama ini yang di kelilingi berbagai wanita setiap harinya bahkan sampai mengajak mereka untuk memuaskan hasratnya sesaat di atas ranjang. William mengatakan hall itu bukan tanpa alasan ia hanya tidak ingin suatu hari nanti ada seseorang yang akan membocorkan masalalunya kepada Inah saat dirinya sudah hidup dengan tenang dengan Davina.


Inah yang mendengar cerita menantunya yang ternyata seorang casanova membuatnya marah, mana ada seorang ibu yang rela anaknya tinggal dengan seorang pria yang suka gonta-ganti pasangan?. Memilih tetap diam Inah membiarkan William melanjutkan ceritanya sampai selesai karena ia sendiri tidak ingin melampiaskan kemarahannya sebelum mendengar cerita selanjutnya.

__ADS_1


"Setalah setiap hari saya merasakan kelembutan dari Davina bagaimana cara gadis itu menyikapi sifat emosional saya sampai tidak pernah merah sedikitpun membuat hati saya sedikit demi sedikit luluh akan kelembutan itu"


"Dan saya tau anda akan marah dengan saya setelah saya menceritakan semuanya, tapi yang harus satu anda tau saat ini kalo saya benar-benar ingin berubah, memulai semuanya dari awal dengan Davina"


Menghela nafas panjang Inah menundukan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap William. "Tidak ada satu orang tua di dunia ini yang ingin melihat putrinya bersanding dengan seorang casanova termasuk saya" Inah menjeda ucapannya berusaha berfikir jernih dan tidak mengambil mengambil keputusan yang akan membuatnya menyesal suatu saat nanti.


"Kamu cinta sama Davina?" pertanyaan Inah tidak langsung di jawab William, ia sendiri masih bingung dengan perasaannya apa mungkin selama satu minggu cinta di antara mereka sudah tumbuh?.


"Jujur saya belum tau perasaan saya yang sesungguhnya, tapi saya akan berusaha menjadi suami yang terbaik buat putri ibu. Dan soal cinta yang ibu katakan tadi biar saja cinta itu datang di antara kita secara perlahan karena saya sendiri juga belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya" jawab William jujur.


Sedikit aneh saat mendengar menantunya mengatakan kalo dirinya tidak pernah jatuh cinta dengan lawan jenis sebelumnya. "Apa ada jaminan kalo kamu tidak akan kembali ke dunia malam mu lagi suatu saat nanti?, karena saya tidak ingin anak saya merasakan apa yang saya rasakan selama ini hidup dalam kesengsaraan yang tiada ujungnya"


"Saya akan menyerahkan nyawa sebagai balasannya" jawab William tanpa ragu sedikitpun.


Menatap manik mata William yang menyorotkan keseriusan membuat hati Inah yakin bahwa pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Jaga anak ibu baik-baik dan bahagiakan dia dengan apa yang kamu miliki karena selama ini ibu belum bisa membahagiakannya seperti anak-anak pada umum nya"


"Saya pasti akan membahagiakan Davina,


ibu tidak perlu khawatir akan hall itu" mengangguk kepalanya Inah melanjutkan obrolannya dengan William.


Tidak jauh dari keduanya seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di tempatnya mendengar semua pembicaraan yang membuat hatinya tersentuh. Davina yang tadinya berniat meminta William agar segera mandi menghentikan langkahnya saat ibu dan suaminya tengah membicarakan hall yang serius.


"Semoga ini awal yang baik tuhan" pinta Davina pada sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2