Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 49


__ADS_3

Seperti biasa semua penghuni Mansion melakukan pekerjaan mereka masing masing,sama seperti Davina di awali dengan mualnya di pagi hari dan di lanjutkan untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami sebelum berangkat berkerja, dan entah kenapa kali ini Davina ingin sekali William membawa bekal ke kantor walau dirinya mengalami dilema saat di dapur apakah William akan menerimanya? atau sebaliknya dengan sifat kasarnya itu? tapi itu hall belakang.


Setelah menata sarapan di meja makan gantian Davina menata bekal di tempat bekalnya yang akan di bawa William karena tidak ada kotak lain selain kotak bekal miliknya, dan entah kenapa belakangan ini Davina juga jarang sekali makan siang karena perutnya yang tiba tiba sudah merasa kenyang dan saat dirinya memaksakan untuk makan yang ada makanan itu kembali keluar membuat Davina akhirnya tidak makan siang.


"Selamat pagi tuan" sapa Davina dengan membawakan satu cangkir kopi buatannya ke meja makan saat William sudah duduk di meja makan.


Davina mengambilkan makanan untuk William di atas piring seperti biasa dan menaruhnya di hadapan William, sedangkan William memilih membuang pandangannya ke arah lain karena dirinya masih sedikit merasa malu akan kejadian tadi malam saat Davina memergokinya dirinya di dapur.


William makan tanpa suara menikmati sarapan paginya, sampai Max masuk ke rumahnya dengan membawakan berkas yang harus di tanda tangani William membuat acara sarapan William sedikit terganggu.


"Cepat pergi!" perintah William setelah menandatangani berkas itu meminta Max agar menunggu dirinya di luar.


William bangun dari kursinya setelah menyelesaikan sarapan pagi membenarkan jasnya sebelum ia melangkah meninggalkan meja makan, tapi saat dirinya baru mau mengayunkan kakinya dengan cepat Davina berdiri di hadapan William dengan memegang kotak bekal di tangannya membuat para pelayan berbisik bisik mencibir Davina dari belakang sana.


"Maaf tuan, saya buatkan bekal untuk makan siang anda" kata Davina dengan menyodorkan sebuah kotak bekal di tangannya.


William mengerutkan keningnya dengan menatap kota bekak tersebut sebelum kembali menatap Davina, "Apa saya meminta mu untuk membuatkan saya bekal anak tk seperti ini?"


"Ti-tidak tuan tapi saya sengaja membikin kannya untuk anda, suapaya anda tidak lupa makan siang" ucap Davina dengan tersenyum.


"Cih...apa sekarang kau sudah besar kepala dengan membuatkan ku makan siang dan berharap aku akan menerimanya?"


"Tidak sama sekali!"

__ADS_1


Prang...


Kotak bekal yang ada di tangan Davina jatuh di atas lantai membuat isinya berceceran di mana mana, Davina menatap nanar nasi dan lauk pauk yang ada di atas lantai itu dengan tangan yang meremas ujung bajunya berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.


"Buang buang waktu saja!" cibir William melangkah pergi tapi saat sejajar dengan tubuh Davina dirinya dengan sengaja menyenggol bahu Davina dengan kasar membuat tubuh Davina geser beberapa langkah ke samping.


Davina mematung sebentar di tempat sebelum akhirnya memungut makanan yang berserakan di atas lantai tersebut dan memasukannya kembali ke dalam kotak bekalnya.


"Sok sok an mau bikinin bekal buat tuan William segala sakit, sakit dah tu hati lo!"


"Statusnya doang istri tapi gak di angep"


"Ups...." ucap mereka secara bersamaan sebelum akhirnya tertawa.


"Makan tu nasi kotor!"


"Bagaimana pun juga dan apapun keadaannya dia tetap majikan Kalian! dan harus kalian hargai!"


"Sekarang kalian semua pergi dari sini bersihkan semua penjuru rumah ini termasuk halaman belakang, depan, dan kolam renang!" titah pak Mun dengan suara yang masih sama.


"Ta-tapi pak Mun itu banyak sekali?" ujar salah satu di antaranya membuat pak Mun naik darah saat seorang itu membalas ucapannya.


"Kamu!" tunjuk pak Mun pada wanita yang baru saja membalas ucapannya, "Hukuman kamu saya tambah dengan membersihkan kolam ikan halaman depan!"

__ADS_1


"Aa-apa?"


"Masih kurang?!" tanya pak Mun penuh penakanan.


"Ti-tidak pak Mun" jawaban cepat.


"Kenap kalian diam saja? ayo cepat bersihkan apa yang saya minta dan jam dua belas nanti semuanya sudah harus selesai!! kalo tidak saya akan menambah hukuman buat kalian semua menjadi dua kali lipat!!" ancam pak Mun, membuat semua para pelayan itu saling dorong satu sama lain untuk mengambil perlengkapan untuk membersihkan rumah di gudang.


Setalah semua para pelayan kurang ajar itu pergi pak Mun ikut berjongkok di samping Davina yang sudah mulai mengeluarkan air mata, di usapnya lembut punggung Davina yang bergetar karena isakan tangisnya.


"Nona jangan dengarkan apa yang mereka ucapkan, mereka bicara seperti itu hanya iri dengan nona" ucap Pak Mun berusaha menenangkan Davina.


Davina mengangguk lemah dengan memegang kotak bekal di tangannya setelah memungut semua makanan itu tanpa berniat beranjak dari tempat.


Pak Mun tau hati Davina sekarang sakit atas perlakuan William kepadanya tadi tapi saat itu juga pak Mun gak bisa berbuat apa apa atau pekerjaannya yang akan menjadi taruhannya, pak Mun tidak masalah kalo dirinya di pecat toh dia bisa mencari pekerjaan yang lain. tapi bagaimana dengan Davina? ia tidak tega meninggalkan gadis sebaik Davina sendirian di sini menghadapi perlakukan seperti tadi setiap harinya kalo dirinya tidak ada.


"Nona, anda tau? merubah seseorang menjadi lebih baik lagi itu memang sangat susah, tapi dari pembicaraan yang pernah saya dengar kalo kelembutan, ketulusan dan keteguhan hati itu kunci utama untuk merubah seseorang secara perlahan" nasihat pak Mun.


Davina perlahan menoleh ke arah pak Mun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, yang terdengar hanyalah isakan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Nona Davina hampir memiliki itu semua dalam diri anda, dari kelembutan ada,ketulusan juga ada tapi...ada satu yang harus anda perkuat nona" jeda Pak Mun membuat Davina menunggu kelanjutannya.


"Keteguhan hati" ucap pak Mun dengan tersenyum. "Hati nona terlalu lembut untuk di sakiti sehingga dia belum kuat untuk menerima perlakuan buruk oleh dunia yang kejam ini, tapi...anda juga harus melatihnya mulai saat ini sehingga anda memiliki tiga pegangan untuk merubah tuan William secara perlahan"

__ADS_1


"Saya yakin nona wanita yang di pilih oleh tuhan untuk membawa tuan William ke jalan yang lebih baik lagi walau itu juga membutuhkan waktu dan proses yang panjang" nasihat pak Mun memberikan Davina kekuatan agar gadis itu tidak lagi merasakan sedih yang berangsur angsur.


Davina mengusap sisa air matanya di pipi, menimbulkan senyuman yang manis di wajahnya walau senyuman itu sedikit getir, "Davina kuat pak Mun!" semangat Davina membuat pak Mun tersenyum senang, setidaknya ucapan dulu yang bilang dirinya kuat baru hatinya juga akan ikut kuat itulah satu harapan kecil pak Mun pada Davina.


__ADS_2