
Di ruangan kerjanya William tangah senyam senyum sendiri membayangkan hall hall konyol yang di lakukan Davina tadi, tangannya berhenti menari di atas papan keyboard laptopnya, menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dengan tangan yang beralih memegang ujung bibir piring kecil yang ada di samping meja kerjanya.
Kue yang Davina buatkan tadi untuknya belum sempat ia coba dan dirinya meminta pak Mun untuk mengantarkan kopi dan kue tersebut ke dalam ruangannya, dan kini satu potong kue itu sudah ada di mejanya di raih piring kecil yang berisi kue tersebut.
"Apa kuenya enak?" William sedikit ragu dengan penampilan kue yang di bikin Davina itu karena hiasannya yang masih belepotan.
Karena penasaran William menyendok satu sendok kue itu di lihatnya dulu seperti memastikan bahwa Davina tidak menaruh racun sianida ke dalam kue tersebut dan perlahan William memasukan sesendok kue tersebut masuk ke dalam mulutnya.
Mata William terpejam merasakan manis yang sangat pas dari kue tersebut, "Ternyata dia pintar juga bikin kue walau penampilannya tidak meyakinkan" puji William dengan di selipkannya sedikit kritikan di dalamnya.
Satu demi satu William menyendokkan kue itu masuk ke dalam mulutnya merasakan sensasi manis yang tidak berlebihan itu membuatnya nagih untuk terus mengunyah, sampai satu piring itu habis di tangannya membuat William mendengus kesal.
"Kenapa cepat sekali habis?"
"Dan kenapa pak Mun mengambilkannya sangat sedikit sekali?" kesal William.
Karena kesal kuenya karena kuenya cepat habis William kembali memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, mengerjakan satu berkas yang belum sempat di kerjakan di kantor.
Tapi sialnya otaknya selalu mengarah pada kue buatan Davina membuat William gagak fokus pada semua pekerjaannya dan hasilnya pekerjaan yang ia kerjakan banyak yang salah, William berdecak kesal tapi sesaat William bangun dari kursi kerjanya dan melangkah keluar.
__ADS_1
Saat di luar ruangan kerjanya William dapat melihat ke adaan lantai satu yang sudah sangat sepi apa lagi jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan pasti semua pelayan termasuk Davina sudah tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya, William mengayunkan kakinya menuruni anak tangga dan berjalan ke arah dapur yang sudah sangat sepi.
Tapi saat tangan William ingin membuka kulkas, William celingak-celinguk memastikan tidak ada yang melihatnya di dapur, saat di rasa aman William membuka kulkas saat yakin pasti pak Mun menyimpan kue tersebut di dalam sana dan benar saja kue buatan Davina berada di rak atas sendiri.
Dengan menggunakan lutut sebagai penopang tubuhnya William mulai memakan kue itu tepat di depan kulkas seperti anak kecil yang takut ketahuan sang Mama.
Sensasi manis dan dingin yang berasal dari kue itu membuat William semakin lahap memakannya dan sudah tidak memperdulikan kalo sampai seseorang melihatnya yang bertingkat seperti anak kecil tersebut.
"Enak sekali" satu pujian lolos begitu saja dari mulut William yang masih mengunyah kue buatan Davina.
Tanpa William sadari seseorang tidak jauh dari tempatnya melihat tingkahnya dengan menahan tawa apa lagi seorang tersebut dapat dengan jelas mendengar William memuji kue buatannya, Davina kebetulan belum tidur karena dirinya terlalu asik membaca buku seputar kehamilan dan tiba tiba merasa tenggorokannya yang kering memutuskan untuk mengambil air putih ke dapur, tapi saat dari kejauhan dirinya melihat pintu kulkas terbuka membuatnya melangkah secara perlahan takut itu adalah maling.
Tapi maling kali ini bukanlah maling jahat yang akan mencuri harta benda tapi maling malu malu yang ingin memakan kue buatannya sampai harus menunggu waktu di mana semua orang tengah tertidur dengan lelap dulu baru dirinya beraksi.
"Minum dulu tuan" Davina menyodorkan satu gelas air putih ke arah William.
William yang masih belum sadar kalo yang memberikannya minum adalah Davina mengambil gelas tersebut tanpa melihat siapa yang memberikannya, "Makasih"
Davina tertegun karena baru pertama kali ini William mengucapkan kata Makasih padahal selama ini Davina tidak pernah mendengar William mengucapkan kata terimakasih kepada siapapun itu.
__ADS_1
William yang merasa tenggorokannya sudah lebih baik kembali ingin memakan kue tersebut tapi pergerakan terhenti, "Siapa yang memberikan ku air?" tanya William pada dirinya sendiri.
Perlahan William menoleh ke samping melihat dari bawah dan perlahan pandangan itu naik sampai dirinya melihat wajah Davina yang tengah berdiri di sampingnya, dengan gelagapan William bangun dari duduknya menjatuhkan garpu yang ada di tangannya membuat bunyi nyaring terdengar, William yang sangat malu di pergok oleh Davina menatap arah lain dengan kegugupan yang sekuat mungkin ia tahan agar tidak kelihatan.
"Kenapa belum tidur?" suara datar itu bertanya pada sosok yang berdiri di sampingnya.
Davina tersenyum karena William juga bisa selucu ini, "Anda sendiri kenapa bisa di sini tuan?" tanya Davina kembali kepada William dan seakan akan Davina tidak melihat kejadian tadi.
"Kamu sudah pintar untuk tidak menjawab pertanyaan saya?!" kali ini suara William terdengar sedikit berat dan menatap wajah Davina yang mulai sedikit takut saat sifat William bisa berubah dengan cepat.
"Ti-tidak tuan" jawan Davina terbata bata.
"Cepat kembali ke kamar kamu!" perintah William, Davina menganggukkan kepalanya tapi sebelum Davina beranjak dari tempatnya Davina sedikit membungkukkan badan mengambil garpu yang terjatuh di atas keramik dan mencucinya.
Tapi saat Davina ingin melewati William matanya menatap crim berwarna putih di sudut bibir William membuatnya tidak beranjak dari tempatnya.
"Kenapa diam saja? cepat sana pergi!" perintah William sekali lagi.
"Ma-maaf tuan" Davina mendekatkan tubuhnya ke arah William dengan sedikit berjinjit karena tubuh William yang jauh lebih tinggi darinya, di usapnya sisa crim tersebut dari ujung bibir William. tubuh William mematung di tempat setelah apa yang di lakukan Davina barusan.
__ADS_1
"Permisi tuan" ucap Davina yang sudah selesai dan membawa satu gelas air di tangannya melewati William.
"Kenapa bisa ketahuan sih!" umpat William saat Davina sudah masuk kembali ke dalam kamarnya, William mengacak ngacak rambutnya yang tidak gatal dan menutup pintu kulkas dengan asal sebelum akhirnya William memutuskan untuk segera mengistirahatkan tubuhnya dari peristiwa yang sangat memalukan baginya.