Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 7


__ADS_3

"A-aku tidak tau maksud mu dan aku tidak tau siapa laki-laki yang kamu maksud hiks...hiks..." kata Davina memegang pipinya yang terasa panas.


PLAK.....


satu tamparan mendarat lagi di pipi mulus Davina sebelah kiri "Jangan pura-pura gk tau!" kata wanita tersebut.


"Dasar wanita bermuka dua!" kata teman wanitanya.


"Hiks...hiks... aku brani sumpah aku gk tau apa-apa hiks...dan aku tidak tau siapa laki-laki yang kalian maksud hiks..." kata Davina memegang pipi sebelah nya yang baru saja di tampar.


"Kak Ali! kau tau dia kan? orang yang selama ini aku incar dan ternyata lebih milih gadis penjual gorengan!"


"T-tapi aku tidak punya hubungan apa-apa sama kak Ali hiks...hiks.."


"BOHONG!!!"


"A-aku berkata jujur hiks...hiks... aku mohon lepaskan aku"


"Enaknya kita apa in wanita tidak tau diri ini?" tanya wanita di hadapan Davina.


Satu temannya mendekat ke perempuan yang duduk di depan Davina dan membisikan sesuatu, "Ok" kata wanita tersebut dan berdiri dari depan Davina, sedangkan temannya mendekat ke arah Davina dan mengikat tangan davina ke belakang, setelah tugasnya selesai satu persatu mulai menampar Davina.


PLAK...


PLAK...


PLAK...


PLAK...


Sudut bibir Davina mengeluarkan darah segar, Davina merasakan pipinya terasa panas dan sakit hanya bisa menangis mau berteriak pun percuma karna mulutnya sudah di lakban. "Hiks...Hiks...Hiks..." o setalah puas menampar Davina mereka meninggalkan Davina di dalam gudang dengan tangan yang masih di ikat dan mulut yang masih di lakban, Davina menangis dengan tubuh yang tersungkur di lantai.


*


Sedangkan Inah dan Arum yang sedari tadi menunggu Davina kembali dari toilet pun mulai merasa cemas mereka memutuskan untuk ke toilet mencari Davina. "Gimana tan ada?" kata Arum yang sudah mencari Davina di toilet cewek dan Inah yang mencari di toilet cowok.


"Davina gk ada nak Arum" kata Inah.


"Kok perasaan ibuk jadi gk enak gini ya?" kata Inah memegang dadanya yang terasa sesak, Arum hanya bisa memeluk Inah dan mengusap punggung ibuk temannya itu dengan halus.


"Arum?"

__ADS_1


Arum pun menoleh ke belakang karna mamanya di panggil oleh seseorang "Kak Ali? kak ngapain di sini? bukannya acara wisuda sudah selesai?" tanya Arum.


"Aku tadi ke toilet dan tidak sengaja mendengar suara seseorang, aku pikir siapa ternyata kamu dan Kalo tidak salah ini ibuknya Davina kan?" Kata Ali.


"Iyah kak"


"Terus di mana Davina nya kok cuma berdua?" kata Ali yang tidak melihat Davina di sana.


"Itu masalahnya kak tadi Vina izin ke kamar mandi sebentar tapi Sampai sekarang gak kembali makanya kita cari di kamar mandi tapi Davinanya gak ada" kata Arum, saat mereka tengah asik menduga-duga dimana davina terdengar suara benda jatuh dari dalam gudang.


Brak....


"Apa itu?" kata Inah.


"Apa jangan-jangan itu Davina?" kata Ali, mereka pun segera menuju gudang dan saat akan membuka pintunya sialnya gudang tersebut terkunci.


"Vin, lo ada di dalam kan?" kata Arum yang menempelkan telinganya ke pintu.


Davina yang mendengar suara Arum pun menjatuhkan benda di dekatnya.


Brak......


"kayaknya ada orang di dalam" kata Ali.


"Iyah lebih baik begitu, kau dan Bu Inah mundur biar aku dobrak pintunya"kata Ali


Inah dan Arum pun sedikit menjauh, dan Ali mulai mendobrak pintunya.


Brak...Brak...Brak...


Pintu pun terbuka dan mereka bertiga langsung masuk ke dalam gudang dan mendapati Davina yang tersungkar di tanah dengan tangan yang di ikat dan mulut yang di lakban serta pipi yang mulai membengkak.


"Davina!!" triak Inah yang melihat kondisi Davina yang memprihatinkan.


"Nak kamu kenapa biasa kaya gini hiks...hiks..."


"Siapa yang bikin lo kaya gini Vin?" kata Arum yang melepas lakban dan tali dari tubuh davina.


"Aku gak tau rum hiks...hiks... ibuk Vina takut hiks...hiks..." kata Davina segukan di pelukan Inah.


"Tante, Arum sebaiknya kita bawa Davina pulang, biar saya antar pakai mobil saya" kata Ali.

__ADS_1


Mereka bertiga langsung membawa Davina pulang, Ali yang menyetir sesekali melihat Davina yang masih merasa ketakutan dari dalam kaca mobil, setelah lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan Inah, "Biar saya saja tante yang gendong Davina ke dalam kasian kayaknya Vina belum kuat jalan" kata Ali


"Gak usah Kak aku bisa jalan sendiri" kata Davina yang turun di bantu oleh Inah dan Arum.


Inah yang langsung kebelakang mengambil kompres dan obat P3K dan langsung mengobati putrinya, "Ini sebenarnya ada apa Vina? kenapa kamu bisa kaya gini nak?" kata Inah.


"Sttt...Saat Vina selesai buang air kecil Vina langsung di bawa orang ke gudang tadi dan hiks...hiks... Vina takut buk" kata Davina yang mulai menangis lagi dan Inah langsung memeluk putrinya.


"Jangan takut nak ibuk di sini" kata Inah mengusap lembut punggung Davina.


"Lo tau siapa orangnya?" tanya Arum.


Davina menggeleng tanda ia tidak tau siapa orang yang sudah membawanya ke gudang tadi dan menyiksanya sampai seperti ini, "Mereka pakai masker Rum gue gak bisa kenal in siapa mereka hiks...hiks..."


"Apa Tujuan mereka nyekap lo di gudang coba dan bukannya selama ini setau gue lo di sekolah gak pernah punya musuh sama sekali?" kata Arum.


"Gue juga gak tau Rum hiks... yang gue tau mereka nyuruh gue jauh in kak Ali hiks...hiks..."


"Suruh jauh in kak Ali?"


"Kenapa harus aku?" kata Arum dan Ali barengan.


"Bukannya selama ini lo gak ada hubungan apa-apa sama kak Ali?" tanya Arum.


"Iyah gue tau tapi kata mereka kak Ali suka sama gue" kata Davina jujur.


"Kak Ali, Davina mohon sama kakak kalo kakak punya rasa sama Davina hapus perasaan itu kak Davina gak mau hall seperti ini terjadi lagi Davina takut kak hiks...hiks..." kata Davina


"Tapi Vin..."


"Kak! kak Ali kalo bener bener sayang sama Vina jauh ii Vina, Kak Ali pasti tidak mau kan orang yang kak Ali suka tersakiti?" kata Arum.


"Ini aja belum jadi pacar Vina udah di sakiti orang apa lagi kalo sudah jadi pacar kakak? kakak bisa bayang in hall hall buruk yang akan menimpa Davina kedepannya?" lanjut Arum.


Ali diam sejenak mencerna ucapan Arum,"Kalo itu bisa buat Davina aman dan tidak merasakan takut lagi Kak Ali bakal lupain prasaan kak Ali sama Davina tapi... apa kita masih bisa berteman? hanya berteman tidak lebih" kata Ali yang sebenarnya hatinya sangat sakit saat mengatakannya niat hati ingin mengutarakan perasaannya berakhir seperti ini tapi ia juga tidak mau melihat orang yang ia sayang terlukai untuk ke dua kalinya.


"Iyah kak kita masih bisa berteman" kata Davina sambil tersenyum.


Setalah beberapa saat di rumah Davina dan memberitahunya kalo ia akan pergi ke kota xxx untuk meneruskan kuliahnya dan juga membantu Ayahnya mengembangkan usahanya di sana ia langsung pamit pulang.


***

__ADS_1


Like & Vote.


__ADS_2