Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 81


__ADS_3

"Om punya kabar buruk buat kamu" ucap Danu membuka obrolan.


"Kabar buruk?" Danu menganggukan kepalanya. "Apa kabar buruk itu?" tanya William menatap serius wajah Danu.


"Mama mu mengalami kecelakaan"


Deg...


Entah getaran apa yang membuat hati William tiba-tiba merasa khawatir saat mendengar keadaan sang mama,sadar akan kekhawatirannya William segera menepis perasaan itu. "Paling itu cuma bagian dari rencananya saja" jawab William berusaha acuh mengenai kabar sang mama.


"Om tidak bohong, anak buah kamu sendiri yang membawa mama ku kerumah sakit"


Danu yang mendapatkan kabar dari Max bahwa Davina masuk ruang operasi hari ini langsung melajukan mobilnya dari perusahaan menuju rumah sakit. Saat di tengah perjalanan dari kejauhan dirinya melihat insiden saling kejar membuat wanita yang di kejar beberapa orang pria bertubuh kekar berlari dengan asal kearah jalan yang tengah ramai sehingga kecelakaan tidak bisa di hindari membuat tubuh wanita itu tertabrak mobil dan terpental lumayan jauh.


Memerintahkan sang supir untuk menunggunya di depan jalan, Danu langsung keluar dari dalam mobil menghampiri tempat kejadian. Orang-orang sudah sangat ramai mengelilingi korban tabrak lari tersebut, berusaha menelusup kedalam keruman Danu akhirnya bisa melihat keadaannya tapi sayang wajahnya tertutupi dengan rambut.


Berjongkok di samping nya tangan Danu terulur menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya mata Danu membulat sempurna saat melihat ternyata korban tabrak lari tersebut adalah Tanti mama William.


Mengedarkan pandangannya Danu mengenali salah satu anak buah William yang baru saja datang untuk melihat keadaan Tanti, segara Danu memintanya agar membawa Tanti ke rumah sakit saat mendapati detak jantung wanita itu masih ada.


William menatap lekat kedua bola mata Danu berusaha mencari sorot kebohongan dari sana tapi sayangnya ia tidak mendapatkan setitik kebohongan sedikit pun.


"Kalo kamu tidak percaya om bisa mengantarkan kamu ke kamarnya" ujar Danu merasakan keponakannya itu merasa ragu akan ucapannya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Davina" tolak William meski hatinya ingin sekali melihat keadaan sang mama saat ini.


Danu menepuk pundak keponakannya pelan. "Jangan khawatir om akan menyuruh anak buah om untuk berjaga-jaga di sini, lagi pula di sana sudah ada Max yang menunggu kita"


Max? kenapa pria itu bisa berganti menjaga ruangan sang mama?, apa benar wanita itu mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit ini?. "Kamu tidak ingin melihat keadaan mama kamu?" tanya Danu memecah lamunan William.


"Sebentar!. Aku hanya akan melihat keadaan wanita itu sebentar saja karena istriku lebih membutuhkan diriku dari pada dia!"


Danu mengehala nafas sabar memilih mengiyakan ucapan William keduanya berjalan ke ruang rawat Tanti. Dari kejauhan William dapat melihat Max yang tengah duduk seorang diri di depan sebuah ruangan dengan memainkan ponselnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Danu. Max yang tadinya fokus pada layar ponsel langsung memasukannya kedalam saku celana.

__ADS_1


"Nyonya Tanti mengalami patah tulang di bagian kaki sebelah kanan, dan dokter juga mengatakan keadaan nyonya kritis akibat benturan yang sangat kuat pada kepalanya" jelas Max menyampaikan informasi sesungguhnya.


"Kritis?"


Semua mata beralih menatap William yang berjalan mendekat kearah max. "Apa yang kamu ucapkan itu benar? apa ini hanya rekayasa saja?"


"Kali ini benar-benar murni kecelakaan tuan tidak ada unsur rekayasa sama sekali"


Tanpa membalas ucapan Max, William langsung masuk begitu saja kedalam di ikuti Danu dan Max berjaga-jaga agar pria itu tidak membuat keributan di rumah sakit.


Seorang wanita yang tengah berbaring lemah di atas brankar dengan alat bantu yang melekat di tubuhnya membuat William melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat kearahnya agar tidak membangunkan Tanti. Selang oksigen yang melekat pada hidungnya dan luka-luka yang nampak jelas di wajah wanita itu membuat William ingin sekali tidak peduli dengan keadaannya tapi hatinya tidak bisa berbohong.


"William" suara lirih nan lemah itu keluar dari mulut Tanti.


Mata Tanti yang terpejam dan terus memanggil namanya, tapi tidak satupun panggilan itu ia respon sampai pelupuk mata itu perlahan terbuka secara perlahan. "Nak" Panggil Tanti saat bola matanya menatap William yang berada di sampingnya.


"Tahan William! tahan!"


"Ka-kamu di sini?"


"Ja-jangan seperti nak" cegah Tanti sebelum William membalikan badannya. Mengerakan tangannya ia meraih tangan William, air mata wanita itu tumpah begitu saja saat dirinya bisa menggenggam tangan sang anak kembali. Tangan yang dulunya masih kecil sekarang sudah menjadi besar. "Ma-maaf kan mama sayang"


Keheningan menyelimuti ruangan tersebut Danu dan Max yang berdiri tidak jauh dari keduanya hanya menatap ibu dan anak yang saling diam tanpa ada yang berniat membuka suara terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaan cucu mama?" tanya Tanti memecah keheningan.


"Dia baik"


"Apa dia perempuan?"


"Tidak, dia laki-laki" jawab William singkat.


Tanti mengulas senyumannya saat mendengar cuci laki-laki nya telah lahir ke dunia walau dengan cara yang sangat menyakitkan.


"Mama yakin kamu dan Davina akan menjadi orang tua yang baik buat putra kailan"

__ADS_1


William hanya diam tak merespon ucapan sang mama sampai pandangannya beralih menatap Tanti saat wanita itu kesulitan untuk bernafas.


"Max panggil dokter sekarang!"


"Ti-tidak perlu, Ma-mama ti-tidak butuh dokter" cegah Tanti.


Menggenggam tangan sang putra dengan kuat pria itu tanpa sadar juga membalas genggaman tangan sang mama. "Ma-mama minta maaf kalo selama ini mama belum bisa jadi mama yang terbaik untuk kamu"


"A-apa mama boleh meminta satu hal sama kamu?" tanya Tanti susah payah saat dadanya terasa sangat sakit.


"Katakan" ucap William cepat.


"A-apa bisa mama mendengar kamu memanggilku dengan sebutan mama?. Sekali saja" pinta Tanti penuh harap.


William menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Tanti. "Mama" ucap pria itu lembut terdengar sangat hangat di telinganya.


Tanti tersenyum sangat hangat sebelum ia meringis dadanya yang kembali terasa sangat sakit. "Biar William panggilkan dokter"


Tanti mengelengkan kepalanya. "Ma-mama tidak butuh dokter, mama hanya ingin kamu menyampaikan maaf mama sama Davina"


"Aghh"


"Ma!" panik William.


"Di-dia wanita yang sangat baik dan mama menyesal telah berusaha menganggu rumah tangga kalian" nafas Tanti terengah-engah ia sudah tidak tahan menahan rasa sakit di dadanya yang terus bertambah terasa sakit. "Ja-jangan tinggalkan dia William meski di luar sana banyak wanita lebih cantik dari dia"


"Iyah ma, William tidak akan pernah meninggalkan Davina" Tanti tersenyum senang mendengar penuturan sang anak. Mencengram tangan sang anak Tanti merasakan perlahan tubuhnya seperti mati rasa sampai akhirnya suara monitor yang sangat nyaring terdengar di ruangan tersebut.


Tangan Tanti yang tadi menggenggam tangannya dengan sangat kuat perlahan mulai melemah dengan mata yang mulai tertutup. Tangis William pecah seketika saat sang ia melihat sang mama yang sudah pergi menyusul sang ayah untuk selama-lamanya.


Mengarahkan bibirnya pada telinga sang mama William membisikan sesuatu. "William sayang mama" akhirnya kalimat yang bertahun-tahun ia pendam seorang diri terucap juga meski Tanti tak bisa mendengarnya dan membalas ucapannya. Mencium kening Tanti untuk terakhir kalinya William menumpahkan segala kerinduannya selama ini walau terlambat ia lakukan saat sang mama kembali pergi.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2