Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 62


__ADS_3

Di toko perlengkapan bayi Davina di suguhkan dengan banyaknya perlengkapan bayi yang terlihat sangat menggemaskan sampai matanya tertuju pada salah satu boks bayi berwarna biru yang ada di barisan terdepan. Berjalan mendekat tangan Davina terulur memegang boks bayi tersebut, senyumnya terukir begitu jelas membayangkan kalo boks yang sangat cantik itu di isi oleh anaknya nanti. Tapi saat dirinya melihat harga yang tertera gadis itu menghela nafas pelan, uangnya tidak cukup untuk membeli boks yang seharga lima juga itu membuat Davina berjalan menjauh dari boks bayi tersebut mencari perlengkapan lain yang pas di kantongnya.


Dari baju,popok,kaos tangan dan kaki dengan warna netral menjadi pusat pertama Davina karena itu bahan yang terpenting untuk anaknya. Setelah membayar seluruh belanjaannya Davina berjalan keluar dari toko tersebut, mendudukan tubuhnya di salah satu kursi Davina mengistirahatkan sejenak kakinya yang mulai terasa pegal.


"Kamu lapar sayang?" Davina yang mendengar bunyi perutnya lupa kalo dirinya belum makan malam. Merogoh tas miliknya Davina mengeluarkan roti yang sempat ia beli di tempatnya bekerja.


"Kita makan roti dulu ya sayang, nanti kalo sudah di rumah baru kita makan nasi" Davina tersenyum saat anaknya merespon ucapannya, memakan roti di tangannya sesekali Davina mengajak anaknya berbicara.


"Boleh saya duduk disini?" Davina menoleh ke arah sumber suara menatap pria itu sejenak Davina merasa pria itu berasal dari kalangan atas itu terlihat jelas dari pakaian yang ia gunakan. "Apa boleh saya duduk di sini?" tanya pria itu kembali saat Davina hanya diam saja.


"Si-silahkan lagian ini tempat umum tuan siapa saja boleh duduk di sini" ucap Davina mempersilahkan pria itu untuk duduk di sampingnya.


Tersenyum senang pria itu duduk di samping Davina, merasa cangung Davina memilih melanjutkan memakan roti yang ada di tangannya karena memang ia merasa lapar. Pria itu yang melihat Davina makan seperti orang kelaparan merogoh paper bag yang ada di tangannya.


"Ini buat kamu" ucap pria baruh baya menyodorkan satu kotak nasi. Davina menatap itu dengan mengelengkan kepalanya.


"Tidak Tuan terimakasih" tolak Davina harus.


"Ambil saja sengaja saya membelikan ini buat kamu"


"Buat saya?" tanya Davina bingung. "Maaf tuan, tapi kita tidak kenal sebelumnya"


Orang tersebut tersebut tersenyum mendengar suara Davina seperti orang kebingungan. "Memang kamu tidak mengenal saya tapi saya mengenal kamu karena kamu istri dari keponakan saya"


Davina semakin bingung di buatnya dengan situasi ini. "Keponakan?, istri?, maksud anda apa tuan?"


Pria tersebut menyodorkan tangannya ke arah Davina. "Saya Danu, om dari suami kamu. William"


Davina yang mendengar itu membulatkan matanya, dengan tangan gemar gadis itu membalas uluran tangan Danu.


"Kamu tidak perlu kaget seperti itu biasa saja" ucap Danu saat melihat Davina yang terlihat kaget. "Ayo di makan, saya sengaja beli dua agar saya bisa makan dengan istri keponakan om" ucap Danu mengeluarkan satu kotak lagi dalam papar bag nya.


"Apa kamu sudah tidak bekerja di restoran?" tanya Danu memecah keheningan di antara keduanya.


"Bahkan pria ini tau dimana tempat aku kerja dulu"


Davina mengelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Apa karena berita itu?" lagi-lagi Davina hanya mengangguk pelan dengan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Danu sudah menduga akan hall itu pasalnya setelah berita itu sampai ke telinganya ke esokkan harinya Danu mendatangi tempat kerja Davina hanya memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja dan masih bekerja di sana, tapi saat ia menanyakan pada salah satu pada karyawan yang bekerja di sana mengatakan kalo Davina sudah di keluarkan oleh pihak restoran tepat di hari berita itu menjadi trending topik.


"Tapi saya sudah mendapatkan pekerjaan baru" jawab Davina.


"Apa kamu nyaman?"


"Iyah tuan"


Menatap pria yang duduk di sampingnya Davina memberanikan dirinya untuk menanyakan sesuatu hall. "Apa betul anda om dari William?" dengan sangat hati-hati Davina melayangkan pertanyaan itu.


"Lebih tepatnya saya mantan asisten pribadi ayah dari William"


"Asisten?"


"Iyah, dulu ayah William memiliki sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar tapi perusahaan itu terkenal di kota ini, sampai suatu insiden ayah William meninggal dunia dan saya yang merawat William dari kecil karena nasihat dari ayah William sendiri"


"Jadi ayah tuan William sudah meninggal dunia?"


Hati Davina yang semakin penasaran akan masa remaja suaminya membuat Davina menanyakan hall yang mengganjal di hatinya belakang ini.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu tuan?"


Danu terkekeh mendengar itu. "Tolong berhenti memanggilku dengan embel-embel tuan karena kamu itu istri dari keponakan saya bukan bawahan saya"


"Kamu bisa memanggil saya dengan sebutan om sama seperti William" ucapan Danu membuat Davina merasa kaku untuk memanggil pria itu menggunakan panggilan yang lebih akrab.


"Iyah tua, om" ralat Davina dengan cepat.


"Memangnya kamu mau menanyakan tentang apa?"


"Mama dari tuan William"


Danu menyandarkan punggungnya di badan kursi menatap lurus kedepan mulai menceritakan bagaimana kehidupan William sebelum perusahaan ayahnya hampir gulung tikar, bagaimana Tanti pergi begitu saja bahkan bagaimana William yang dulunya anak baik-baik bisa terjerumus dalam dunia malam sampai sekarang.


"Dan setelah itu William seperti menganggap Tanti bukanlah mamanya"

__ADS_1


Davina terdiam mendengar semua cerita yang keluar dari mulut pria paruh baya itu, pantas saja William setega itu dengan Tanti kalo saja wanita itu dulu yang menimbulkan titik permasalahannya.


"Tapi bukannya seburuk apapun perbuatan orang tua anak harus bisa memaafkan kesalahannya?"


Danu menatap Davina yang juga menatapnya. "Kamu benar, tapi itu sepertinya sangat sulit untuk William" Davina menganggukan kepalanya karena memang hati William yang masih sangat keras.


"Tapi setidaknya mulai ada perubahan dari keponakan saya itu karena dirimu" Danu mengukir senyumannya menatap Davina yang tengah kebingungan.


"Saya?" tunjuk Davina pada dirinya sendiri.


Danu menganggukan kepalanya. "Apa kamu tidak merasa kalo suami mu itu sudah sedikit demi sedikit menjauh dari dunia malam?"


Davina tertegun mendengar hall itu, mengingat-ngingat kapan terakhir William membawa wanita ke mansion dirinya memperkirakan hampir tiga bulan belakangan ini William sudah tidak membawa lagi wanita ke rumahnya.


"Boleh aku meminta sesuatu pada mu?" ucap Danu.


"Apa itu?"


"Jangan pernah tinggalkan William" pinta Danu dengan penuh harap. "Terus ada di sisinya karena saya yakin kamu wanita yang tepat untuk William"


Entah getaran apa Davina menganggukan kepalanya membuat Danu tersenyum sangat senang akan hall itu.


"Aku punya sesuatu untuk mu" Dahi Davina menimbulkan garis halus saat mendengar itu. Danu menunjukan jarinya pada salah satu mobil pick up di mana di atasnya terdapat boks bayi yang sempat ia pegang tadi. "Itu hadiah dari sana untuk calon anak kamu, semoga kamu suka walau tidak seberapa"


"Tapi om itu sangat mahal, saya tidak bisa menerima itu" tolak Davina.


"Jangan lihat harganya lihat saja niat baik saya ini"


"Tapi..."


"Saya membelikan itu bukan untuk kamu tapi untuk anak kamu"potong Danu.


Davina kehabisan kata-kata untuk ucapan Danu alhasil ia menerima boks bayi tersebut. Berpamitan kepada Danu, Davina memilih langsung pulang karena jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan ia tidak ingin William marah besar kepadanya.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah,♥️🤗

__ADS_1


__ADS_2