
Setelah kepergian juragan Bandot dan anak buahnya Aleta masuk ke dalam rumahnya untuk menemui sang ibu yang pasti sudah menunggunya di ikuti dengan Arum, sedangkan Max dan anak buahnya menunggu di ruang tamu rumah Davina.
"Ibu..."
"Vina kamu gak papa kan? tadi ibu dengar ada keributan di luar" kata Inah langsung menarik tangan putrinya itu untuk duduk di sampingnya.
"Pipi kamu kenapa nak?" tanya Inah sambil memegang pelan pipi Davina yang terlihat merah seperti bekas tamparan.
"Davina gak papa buk" kata Davina mengegam tangan Inah yang memegang pipinya.
"Apa juragan Bandot sudah pergi?" tanya Inah.
"Sudah bu...dan Davina sudah melunasi semua hutang hutang kita, jadi ibu gak perlu khawatir lagi saat ini, sekarang ibu harus fokus sama kesembuhan ibu" jawab Davina sambil tersenyum ke arah Ibunya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ibu Vina, kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya Inah kembali ke pertanyaan yang ia lontarkan kepada putrinya itu.
Davina langsung menundukan kepalanya tidak berani menatap mata Ibunya yang meminta penjelasan padanya. "Jawab ibu Vina...kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?"
"Kamu sudah janji sama ibu Vina" lanjut Inah sedangkan Davina meremas tangannya sendiri memikirkan kata kata yang tepat agar ibunya itu tidak kaget.
Davina mendongakkan wajahnya menatap sang ibu. "Davina bakal ceritain semuanya sama ibu, tapi Davina harap ibu bisa mengerti keadaan Vina Setelah Vina cerita"
Inah yang sudah semakin penasaran mengiyakan saja ucapan Davina. "Davina sudah menikah bu" jawab Davina sambil menundukan kepalanya.
"APA!!!" Teriak Inah dan Arum secara bersamaan karena kaget saat mendengar penuturan Davina.
"Kamu bohongkan nak? gak mungkin kamu sudah menikah Sedangkan ibu atau bapak gak ada yang tau kalo kamu menikah" kata Inah yang masih belum percaya.
"Iyah Vina, lo ngarangkan? gak mungkin lo udah nikah, kalo lo udah nikah mana cincin pernikahan lo?" kata Arum yang langsung melihat jari jari Davina yang masih polos seperti dulu.
"Vina gk bohong bu...Rumm, dan sekarang Davina sudah menjadi seorang istri"
"Kalo kamu Menikah kamu seharusnya ngehubungi Ibu, Atau Arum Vin" kata Inah yang masih mengharapkan putrinya itu bilang kalo dia sedang berbohong.
"Vina minta maaf Bu, Vina menikah juga karena terpaksa oleh keadaan saat itu"
__ADS_1
"Terpaksa gimana?"Tanya Arum sambil mengerutkan keningnya.
"Saat Vina berjalan pulang setelah mengantar makanan ke rumah pelanggan, di tengah jalan Vina ketemu sama anak juragan Bandot bu, mereka memaksa Vina untuk pulang ke kampung dan menikah dengannya, Vina berusaha untuk kabur, dan saat di tengah perjalanan Vina ketemu sama seorang pria dan pria itu nolongin Davina dari kejaran anak buah juragan Bandot, dan sebelum dia nolongin Vina, Vina menwarkan diri akan menjadi istrinya kalo dia mau nolong in Vina" kata Davina menjelaskan apa yang terjadi padanya hari itu yang membuat Inah memegang dadanya yang tiba tiba terasa sesak.
"Bu...Vina minta maaf... gak seharusnya Vina berbicara seperti itu saat itu, tapi Vina juga gak mau menikah sama juragan Bandot dan menjadi Istri ke enamnya bu, hiks...hiks...Vina minta maaf bu...Vina minta maaf,hiks....hiks...." Vina menangis sambil mengenggam tangan Inah.
"Vina gak punya cara lain bu saat itu, Vina benar benar gak bisa berfikir jernih dan Vina juga gak mau jadi istri lintah darat itu, hiks...hiks..." Tangisan Vina semakin memilukan sambil mengenggam tangan Ibunya yang masih diam dan juga ikut menangis dengan tangan satunya yang masih memegang dadanya.
"Aku gak nyangka Vina kalo kamu akan mengalami masalah yang tiada hentinya seperti ini, kalo aku yang ada di posisi kamu saat ini pasti aku akan memilih jalan pintas untuk mengakhiri semuanya, tapi kamu...kamu menjalaninya dengan tabah" Batin Arum yang juga menitikan air mata saat mendengar cerita sahabatnya itu yang masih menangis.
"Vina...ibu minta maaf nak...karena ibu kamu harus mengalami ini semua, maafkan ibu nakk.... kalo saja kita gak susah seperti ini kamu pasti sedang menikmati masa mudamu dengan bahagia bersama teman teman mu"
"Enggak buk...ini bukan salah ibu, ini sudah takdir dari Allah dan Vina harus jalanin takdir itu bu"
"Ibu pernah bilang kan kalo takdir bisa kita rubah?" kata Davina yang di angguki lemah oleh Inah.
"Sekarang Vina lagi berusaha merubah takdir Vina menjadi lebih baik lagi, siapa tau ini jalan yang Allah berikan untuk mempermudah Vina merubah jalan takdir Vina menjadi lebih baik lagi, jadi Vina mohon jangan salah in diri ibu sendiri"
"Ibu tau...Vina bangga dan bersyukur bisa di lahirkan dari rahim ibu, karena Vina belajar dari ibu menjadi wanita yang kuat seperti sekarang ini yang bisa melewati masalah apapun dengan kuat" kata Vina yang memaksakan senyuman di wajahnya.
"Ibu jangan nangis lagi ya...ibu harus tersenyum, kalo Ibu nangis Vina juga ikutan sedih" kata Davina sambil menghapuskan air mata yang masih mengalir di pipi yang mulai termakan usia itu.
"Ibu gak akan nangis lagi sayang" kata Inah sambil mengusap wajah Davina.
"Dan...apa suami mu ikut ke sini?" tanya Inah.
"Tidak bu...Suami Davina harus kerja, ibu tau suami Davina itu orang kaya, jadi pasti dia sangat sibuk" kata Davina yang terpaksa bilang seperti itu kepada Inah, berharap Ibunya itu percaya.
"Apa suamimu itu orang baik? apa dia memperlakukan mu dengan baik di rumahnya?" tanya Inah yang membuat Davina langsung menutup rapat bibirnya, dan memikirkan kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Vina kenapa kamu diam saja nak...?" kata Inah membuyarkan lamunan Davina yang kembali menatap Inah.
"Suami Vina orangan baik kok bu...walau kita menikah dengan cara terpaksa saat itu, dia memperlakukan Davina dengan baik di rumahnya" kata Davina yang bertolak belakang dengan aslinya, Otak Vina kembali mengingat perilaku William yang menyiksanya tadi malam sampai William yang suka membawa wanita yang berbeda-beda keluar masuk rumahnya.
"Syukurlah Ibu senang dengarnya nak" kata Inah yang merasa lega saat mendengar Davina di perlukan secara baik oleh suaminya.
__ADS_1
"Iyah bu..."
"Oh ya bu, apa Ayah masih jarang pulang?" tanya Davina dan mendapatkan anggukan dari Inah.
"Kenapa ibu masih mau bertahan dengan ayah?" tanya Davina hati hati.
"Ibu bertahan dengan Ayah karena itu semua karen kamu dan Alif yang membuat ibu masih kuat bertahan Sampai sekarang ini" kata Inah.
"Bu, kalo suatu saat ibu memiliki keputusan lain, Vina akan dukung apapun keputusan ibu itu" kata Vina, Inah yang tau maksud putrinya itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Permisi Nona" suara Max membuat Davina menatap ke arah pintu kamar ibunya, yang ternyata Max tengah berdiri di sana.
"Iyah tuan Max?"
"Maaf saya menganggu waktunya, saya hanya mengingatkan anda sebaiknya kita pulang sekarang, sebelum tuan William pulang dari kantor" kata Max.
"Baik tuan, anda bisa tunggu di luar sebentar" kata Davina yang ingin berpamitan dengan ibu, Alif dan sahabatnya terlebih dahulu yang di angguki oleh Max yang langsung melangkah keluar.
"Ibu Vina pulang dulu ya, maaf Vina gak bisa lama lama di sini"
"Gak papa nak, kamu di sana juga harus jaga diri baik baik, jadilah istri yang baik untuk suamimu, layani dia sebaik mungkin, dan jangan lupa kamu harus sering sering menghubungi ibu kalo ada apa apa" kata Inah mengingatkan.
"Iyah bu, Dan ini uang dari suami Vina buat ibu,semoga uang ini cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu, dan melunasi biaya sekolah Alif yang belum terbayarkan" kata Davina menyerahkan amplop kepala Ibunya dengan berembel embel yang memberikan William.
"Suami kamu baik sekali nak" kata Inah yang hanya di balas senyuman oleh Davina.
"Rum...aku pulang dulu ya, aku titip ibu sama Alif, tolong jaga mereka seperti kamu jaga keluarga kamu sendiri selama aku tidak ada di sini" kata Vina yang kini beralih pad sahabatnya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Aku pasti jaga in Ibu kamu sama Alif Vin... kamu gak usah khawatir ya, kamu baik baik di sana" Arum langsung memeluk sahabatnya itu yang juga di balas oleh pelukan Davina, tidak lupa juga Davina memberikan sedikit uang pada sahabatnya itu sebagai tanda terimakasih sudah menjaga ibunya selama ia tidak ada.
"Dek...Kakak pulang dulu ya, kamu jaga diri baik baik, dan ingat pesan kakak, kamu harus jaga in ibu dengan baik, dan jangan lupa kamu harus semangat belajarnya kamu harus bisa sukses nantinya dan membanggakan ibu" kata Davina yang di angguki oleh Alif.
Setalah berpamitan Davina langsung keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil William yang akan membawanya pulang ke rumah William.
***
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan beri hadiah untuk karya Author ini๐คโฅ๏ธ.