Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 36


__ADS_3

William kali ini mengendarai mobilnya sendirian tidak mengunakan supir seperti biasanya, ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya, bunyi kelakson yang begitu keras memperingati William agar tidak mengendarai mobilnya secara ugal ugal an karena itu akan membahayakan pengendara yang lainnya.


William tidak menghiraukan suara suara kelakson itu, ia terus mengendarai mobilnya menuju salah satu tempat yang sering ia kunjungi selain bar, karena kali ini ia tidak tertarik untuk bersenang senang dengan wanita wanitanya, setelah pertengkaran dengan Davina tadi di rumah.


Di sepanjang perjalanan yang terdengar hanyalah suara kenalpot mobil sport nya, mata William yang fokus pada jalanan membuat nya tidak melihat kanan dan kiri beruntung jalanan yang ia lewati saat ini sepi, dan tidak ada seorang pun yang lewat.


Mobil William berhenti tepat di bangunan tua yang sudah puluhan tahu terbengkalai, suasana yang sangat tenang dan sunyi membuat tempat itu terlihat seperti angker, tapi tidak bagi William baginya bangunan itu adalah tempat melampiaskan amarah ke dua setelah bar.


William melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga yang ada di bangunan itu, bangunan yang memiliki lima itu hanya berupa pondasi saja belum ada tembok di sisi kanan atau kirinya, apa lagi atap.


William yang sudah sampai di lantai atas dari bangunan tersebut berjalan ke sisi bangunan melihat pemukiman penduduk yang cukup padat dan beberapa pepohonan yang tumbuh sangat lebat di sisi kirinya, angin yang kencang menerpa jas yang coklat muda yang William kenakan.


Matanya menatap lurus kedepan,tapi otaknya berkeliaran memutar kejadian yang baru saja ia alami di rumahnya, ia tidak pernah menyangka selama ini, bibit yang suka ia sebar di mana mana, sekarang pberubah menjadi janin di dalam perut istrinya, meski Davina istrinya William masih tidak bisa menerima hall itu, karena bagi William semua wanita itu sama, hanya mengincar hartanya dan tidak akan pernah bisa menerimanya apa adanya.


"Agh...brengsek"


"Apa dia nantinya akan memanfaatkan anak itu untuk mengambil hartaku? dan setelah dia berhasil mengambilnya pasti dia akan meninggalkan ku seperti Mama meninggalkan Ayah"


"Tidak! itu tidak mungkin terjadi! dan tidak akan pernah terjadi!"


"Kamu bodoh William,bodoh!" kata William sambil menarik rambutnya kuat. "Kenapa kamu tidak menyodorkan surat perjanjian seperti saat kamu berhubungan dengan wanita bayaran mu! kenapa?!"


"Bodoh!"


"Bodoh!!"


"Bodoh!!!" Teriak William di kata terakhirnya dan mendudukan tubuhnya di lantai gedung itu.


"Ayah William harus apa? William tidak mau punya anak dari wanita murahan seperti dia"


William diam sejenak dan kesunyian kembali menyapanya, semilirnya angin membuat William menutup matanya menikmati sejuknya udara itu, saat otaknya kembali mengingat setiap nasihat dari Ayahnya.


"Tidak semua perempuan sama,ada yang mencintai kita dengan tulus dan ada juga yang mencintai kita dengan syarat, jadi kamu harus pintar pintar cari pendamping hidup agar tidak seperti Ayah nantinya"

__ADS_1


"Jangan menyalahkan siapapun saat kamu tengah mengalami suatu masalah, karena biasanya masalah itu datang karena dirimu sendiri"


"Jika kamu saja tidak bisa mengiklankan hall buruk yang menimpa mu di masa lalu, maka hidupmu tidak akan tenang William anak ku"


William perlahan membuka matanya saat nasihat terakhir berputar di otaknya, William mencoba mencerna setiap nasihat itu dengan baik.


"Aku memang masih belum rela, Mama meninggalkan ayah cuma karena harta sampai sekarang, yang membuat hidupku berantakan seperti ini"


"Tapi untuk keluar dari semua ini tidak mudah, bagiku duniaku sekarang sangat susah aku tinggalkan, apa lagi di kelilingi banyak wanita yang selalu memuaskan ku setiap harinya"


"Sampai akhirnya benihku tumbuh di salah satu wanita itu, ada rasa bersalah saat mendengar semua perkataan yang Davina yang ia lontarkan tadi, tapi aku juga tidak bisa menerima anak itu dari wanita yang bagiku sama saja" sesaat hanya ada hembusan angin yang terdengar menerpa pepohonan di sekitar bangunan itu, membuat William kembali dengan pikirannya sendiri.


Dret...dret...dret...


Ponsel di saku celana William berbunyi membuat William sadar dari lamunannya, tangannya merogoh kantung celana miliknya mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celananya dan tertera nama Max di layar ponselnya.


Panggilan pertama William memilih untuk tidak mengangkat panggilan itu, karena ia masih ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu dengan orang lain, sampai panggilan ketiga, dan Max masih mencoba untuk menghubunginya, William yang tiba tiba terusik dengan nada panggilan ponselnya menggeser tombol warna hijau di layar ponselnya.


"Apa tugas mu sekarang berubah menjadi suka mengganggu ku sekarang max!!" suara berat milik William terdengar, membuat max mengerutkan keningnya dari sebrang sana.


"Maaf tuan, kalo saya menganggu Anda, saya menghubungi anda karena khawatir, karena sampai sekarang anda belum juga sampai di kantor" kata William yang melihat jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul sembilan, dan William belum juga ada di ruangannya.


"Aku beritahu kepada mu max!, itu perusahaan ku, aku CEO nya jadi terserah aku mau masuk atau tidak, karena itu tidak ada hubungannya dengan mu, tugas mu hanya menyelesaikan pekerjaan mu itu saja!" kata William dengan nada tegasnya.


"B-baik tuan" kata Max dengan suara terbata bata.


"Ada apa kamu menghubungi ku?" kali ini William bertanya kepada asisten sekaligus sekertarisnya itu.


"Begini tuan, saya sudah mengumpulkan semua data yang sangat akurat untuk membuktikan bahwa tuan Bram, melakukan kecurangan dalam tender tersebut"


"Kamu bisa jamin semua data itu asli?"


"Iyah tuan, saya berani jamin, bahkan saya juga sudah menangkap dua orang yang terlibat dalam masalah ini"

__ADS_1


"Aku ke kantor sekarang juga" kata William yang langsung mematikan sambungan telefonnya secara sepihak dan langsung berdiri dari duduknya dan melangkah turun dari gedung tersebut.


William langsung masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan cepat ke arah kantor milikinya, kali ini William lebih memilih fokus pada pekerjaannya dari pada memikirkan masalah Davina yang hamil.


***


"Pagi tuan" sapa Max yang sudah berdiri di depan pintu ruangan William dengan membawa satu map berwarna biru tua di tangannya.


"Masuk" perintah William saat melewati Max.


"Ini tuan semua data datanya tuan, dan ini ada satu fleshdisk yang menunjukan tuan Bram memberikan sejumlah uang dengan petinggi perusahaan" kata Max yang sudah duduk di depan William dan menyodorkan satu buah map yang ia pegang tadi dengan satu fleshdisk yang berada di tangannya.


pertama kali William membuka map berwarna biru tersebut membacanya dengan teliti setia kata yang ia baca, setelah laporan yang ia baca William menyalakan Laptop di depannya dan memasangkan flashdisk yang di berikan Max kepadanya ke laptopnya.


Video dari flashdisk tersebut berputar di layar laptop milik William dengan suara yang sengaja William besarkan, supaya William bisa mendengar dengan jelas tiga orang yang berada di dalam video tersebut.


tangan William terkepal dengan sangat kuat saat, Bram dengan sangat jelas memberikan uang yang lumayan banyak kepada kedua orang petinggi perusahaan, dengan tujuan agar tender tersebut sepenuhnya jatuh ke tangannya.


Proyek kali ini bukanlah proyek kecil, melainkan proyek ini adalah proyek yang sudah William incar selama ini,dan untuk mendapatkannya juga membutuhkan, waktu,tenaga bahkan kesabaran, pasalnya keputusan proyek ini akan di beritahu tiga bulan setelah beberapa perusahaan mempresentasikan pekerjaan mereka.


"Brengsek! apa dia mencoba untuk bermain main dengan ku?!" kata William dengan rahang yang sudah mengeras.


"Kapan keputusan proyek ini akan di sampaikan?" tanya William tanpa menatap Max.


Max yang tau pertanyaan di tuju untuknya, meski William menatap arah lain. "Minggu depan tuan" jawab Max.


"Simpan semua bukti bukti busuk ini, dan kita lihat saja apa yang akan terjadi nantinya di pertemuan besar itu" kata William dengan tatapan yang masih menatap arah lain.


"Baik tuan" kata Max yang langsung mengambil map dan flashdisk tersebut.


"Keluar dari ruangan ku!" perintah William, membuat Max langsung berdiri dari duduknya, membungkukkan sedikit badannya, dan berjalan ke arah pintu ruangan William.


"Kamu sudah mencari masalah dengan orang yang salah Bram, kita lihat saja apa kau masih bisa berlagak sombong setalah ini?" guman William dengan sudut bibir membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2