
William yang baru saja tiba di rumahnya di buat bingung dengan seorang perempuan yang juga keluar dari dalam mobil miliknya dan melangkah bak seorang model wanita itu berhenti tepat di hadapannya.
"Kamu William?"
"Siapa kamu?, kenapa ada di rumah ku!"' tanya William tak menghiraukannya pertanyaan wanita dihadapannya.
"Itu tamu mama sayang" suara dari arah pintu membuat William menatapnya dengan malas.
"Siapa yang memberikan anda izin membawa orang asing kerumah saya!"
"Davina" jawab Tanti enteng membuat William mengerutkan keningnya. "Tadi mama sudah minta izin sama menantu mama dan kebetulan dia izinin"
"Jangan pernah bawa satu orang pun masuk ke dalam rumah saya tanpa sepengetahuan saya!" tekan William langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Gak usah di pikirkan lebih baik kita masuk sekarang" ajak Tanti menarik tangan gadis itu masuk ke dalam rumah.
Tanti mengajaknya duduk di sofa ruang tamu terlebih dahulu membisikan sesuatu pada wanita itu. "Kamu naik ke lantai dua masuk ke kamar nomor dua dari tangga dan pastikan kamu melakukan seolah-olah kalian akan melakukan hall itu"
"Itu pekerjaan yang sangat mudah tante, tapi ada-" wanita itu mengantungkan kalimatnya dengan tersenyum misterius.
"Aku akan membayar mu dua kali lipat kalo semua rencanya berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan" ucap Tanti.
"Deal" kedua tangan itu saling bertautan.
Memastikan keadaan rumah benar-benar aman baru wanita itu langsung berjalan sedikit berlari kelantai dua, mencari kamar yang di maksud Tanti wanita itu mengintip sebentar memastikan itu kamar target yang akan menjadi sasarannya dan pas sekali pria yang baru saja ia temui di halaman rumah tengah membuka kancing kemejanya.
Berjalan masuk kedalam kamar William tanpa mengetuknya terlebih dahulu wanita itu langsung meraba punggung William dengan penuh rangsangan. Merasa punggungnya di sentuh seseorang William berfikir jika itu adalah Davina tapi dugaannya salah saat ternyata wanita tadi yang ia temui sudah berada di dalam kamarnya, merasa tak suka dengan tangan wanita yang dengan bebas meraba tubuhnya William menepisnya dengan kasar.
"Siapa yang suruh kamu masuk ke dalam kamar saya!"
Bukannya merasa takut wanita itu berjalan mendekat meraba dada bidang William sekuka hatinya membuat William benar-benar merasa risih dengan perlakuan itu. "Jangan pernah sentuh tubuh saya dengan tangan kotor mu itu!"
__ADS_1
"Tuan kenapa anda harus marah-marah seperti itu? bukankah anda dulu juga sering seperti ini dengan semua wanita?"
Mendengar itu William baru sadar pasti ini ulah sang Mama yang meminta wanita rendahan ini untuk menggodanya mengingat ia memiliki masa lalu yang buruk, tak ingin sampai Davina melihat wanita ini ada di dalam kamarnya William mendorong tubuh sexy itu kebelakang. "Keluar dari kamar ku sekarang!"
"Harusnya kita bersenang-senang terlebih dahulu tuan sebelum saya pergi dari sini" ucap wanita itu memegang kerah kemeja William.
"Saya bilang keluar atau isi kepala mu yang akan keluar!"
Wanita itu yang semakin menggila dengan mengalungkan tangannya di leher William dengan merahkan bibir merah itu membuat William berusaha melepaskan tubuhnya tapi sialnya wanita itu membuatnya berjalan kebalakang dan alhasil tubuh keduanya jatuh di atas ranjang dengan William yang memegang pinggang rampingnya.
"Sudah saya bilang tuan kalo sebaiknya kita bersenang-senang terlebih dahulu" ucapannya dengan suara sexy.
"Dasar gila!" Baru saja William ingin mendorong tubuh itu dari atas tubuhnya suara yang begitu keras membuatnya menatap ke arah pintu dimana Davina sudah berada di sana dengan meneteskan air mata.
Sedangkan Tanti yang berada dilantai satu tersenyum Saga puas saat mendengar teriakan menantunya dan tidak berselang lama wanita bayarannya turun lantai dua.
"Beres semuanya" ujarnya bangga.
"Terimakasih nyonya anda sangat baik" melangkah pergi wanita itu meninggalkan Tanti yang tengah merasa sangat senang.
"Aku minta maaf Vin, aku berani sumpah kalo aku tidak melakukan hall apapun dengan wanita tadi" ucap William setelah kepergian wanita murahan itu dari kamarnya.
Davina terdiam di tempatnya setelah mendengar penjelasan dari sang suami, berjalan ke arah ranjang gadis itu mendudukan tubuhnya di pinggir kasur dengan William yang bersimpuh dihadapannya. "Aku mohon percaya sama aku"
Menarik nafasnya dalam Davina berusaha menenangkan dirinya yang terbakar api amarah. "Aku ingin percaya sama kamu tapi kejadian tadi juga udah buat aku ragu" lirih Davina.
"Jangan ragu Vin aku gak mau semuanya berantakan lagi"
"Kalo kamu sekarang gak percaya gak papa, tapi kasih aku waktu untuk bukti in semaunya kalo apa yang kamu lihat tadi semuanya tidak benar"
"Kamu mau bukti in pakai apa William?" tanya Davina ragu.
__ADS_1
"Apapun" jawab William cepat mempererat genggaman tangannya dengan Davina. "Aku akan bukti in dengan hall apapun itu yang akan nunjukin bahwa aku gak salah dalam hall ini"
Davina mengalihkan pandangannya ke arah lain ia tidak yakin suaminya bisa mendapatkan bukti untuk hall seperti ini. Melihat Davina memalinhkan pandannya ke arah lain William menangkup wajah itu dengan ibu jari yang menghapus air mata dari wajah cantik istrinya. "Aku tau ini sulit untuk kamu mempercayai ucapan ku tapi ini juga sulit untuk aku Vin"
"Kita sama-sama merasakan sakitnya tapi aku mohon jangan sampai meragukan ku, aku mohon sama kamu" kini untuk pertama kalinya Davina melihat mata William yang dulu menatapnya dengan tajam terlihat sangat sendu dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Davina memejamkan matanya sebentar berusaha meredakan rasa sakit yang masih bergejolak di hatinya. "Aku akan tunggu bukti itu dari kamu" ucap Davina membuat hati William terasa hangat.
Menyatukan keningnya dengan sang istri William menatap lekat bola mata indah itu. "Terimakasih" Davina hanya menjawab ucapan itu dengan senyuman.
Keheningan menyelimuti keduanya yang tengah asik bertukar pandang satu sama lain. "Saat aku mencari bukti untuk kejadian ini, aku minta sama kamu untuk tidak terlalu dekat dengan mama"
Mendengar itu Davina menjauhkan tubuh William. "Dia mama kamu, bagaimana aku bisa jauh dari mama mertua ku sendiri?"
"Dia bukan mama yang baik Vina kamu tidak tau apa yang sudah ia lakukan selama ini"
"Tapi dia mama kamu William mama yang sudah melahirkan kamu"
"Apa kalo dia berusaha merusak rumah tangga kita kamu masih mau menganggapnya mama mertua kamu?" gadis itu terdiam bagaimana bisa suaminya berfikiran sampai sejauh itu dan apa untungnya kalo Tanti merusak rumah tangganya?.
"Apa kamu masih mau menganggapnya sebagai seorang mama?" tanya William sekali lagi.
"Tapi dia mama kamu" ucap Davina masih sama dengan sebelumnya.
William menghela nafas berat ia sudah tak habis pikir dengan istrinya dan jalan satu-satunya adalah ia mencari bukti tentang hall ini terlebih dahulu dan membuktikan kepada istrinya. "Terserah kamu mau ngomong sejuta kali kalo dia mama ku tapi aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai seorang mama yang pernah melahirkan aku"
"Dan satu lagi aku akan buktikan sama kamu kalo hall tadi itu dia juga yang melakukannya!" ucap William tegas dan tidak dapat di bantah sedikit pun.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1