
Karena perjalanan yang membutuhkan waktu panjang akhirnya Davina sampa rumah William dengan selamat, saat Davina baru saja turun dari dalam mobil bertepatan mobil William yang juga baru sampai, dengan sigap para pengawal membukakan pintu untuk William yang keluar dari dalam mobil dengan seorang wanita cantik dan seksi dengan William yang memeluk pinggang ramping wanita itu.
"Baru pulang?" tanya William saat melihat Davina yang melihatnya.
"I—iyah tuan" jawab Davina.
"Bersihkan kamarku sekarang juga karena aku akan bersenang-senang" kata William yang lebih di tujukan oleh dirinya.
"B—baik tuan" Kata Davina sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum melangkahkan masuk ke dalam rumah.
"Kamu boleh pulang dan istrirahat Max, bicarakan semua tentang gadis itu besok di ruangan ku" kata William kepada Max yang berdiri tidak jauh darinya.
"Baik tuan" kata Max membungkukkan badannya dan melangkah masuk ke dalam mobil mengendarainya pergi dari rumah William.
"Memangnya wanita tadi itu siapa sayang...?" tanya wanita yang berada di samping William dengan nada suara mengoda.
"Bukan urusan mu, tugasmu hanyalah memuaskan ku bukan mengurusi urusan pribadi ku" kata William tegas yang langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan menarik pinggang wanita itu dengan kasar.
Sambil menunggu Davina yang tengah membersihkan kamarnya, William duduk di sofa ruang keluarga sambil mencumbu tubuh wanita yang duduk di sampingnya sampai wanita tersebut mengeluarkan suara ******* dari mulutnya, yang membuat William semakin ganas menciumi bibir, leher dan dadanya.
Davina yang baru saja membersihkan kamar William, dan melangkah menuruni anak tangga harus berhenti di tengah anak tangga saat matanya melihat William mencumbu wanita di samping dengan begitu ganas. tiba tiba saja air mata Davina lolos begitu saja, rasa sesak di dadanya datang kembali, tapi sebisa mungkin Davina menguatkan dirinya dengan cara mengatur nafasnya.
"Tuhan...aku memang menikah dengan orang kaya, tapi suamiku seorang Casanova yang setiap hari selalu berganti ganti wanita setiap malamnya, kuatkan lah hatiku tuhan....jangan biarkan aku rapuh di tengah jalan"
Davina menghapus air matanya dan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dan mendekat ke arah William yang masih mencumbu wanita yang baru saja ia bawa pulang tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
"Tuan..." panggil Davina membuat William menghentikan aktivitasnya.
"Tuan kamar anda sudah selesai saya bersihkan" lanjut Davina.
"Pergilah" kata William menyuruh Davina untuk memasuk ke kamarnya, Davina menundukan kepalanya dan melangkah menuju kamarnya, saat sampai di depan pintu Davina kembali menatap William dengan wanita tersebut.
__ADS_1
"Ayo sayang...kita ke kamar, malam ini aku kan memuaskan mu dengan servis terbaik ku" kata wanita tersebut sambil mengigit bibir bawahnya.
"Kalo kamu bisa memuaskan aku malam ini aku akan membayar mu dua kali lipat" kata William yang kembali menelusuri leher putih milik wanita tersebut, sebelum menariknya menaiki anak tangga.
Davina yang melihat itu buru buru langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, Davina merosot kan tubuhnya di dinding pintu yang baru saja ia kunci."Apa aku seperti wanita tadi? yang rela menyerahkan diri hanya karena uang? hiks...hiks..."
"Apa benar yang di katakan juragan Bandot tadi kalo aku ini seorang pelacur? tuhan, kalo memang benar seperti itu, Tolong maafkan aku, aku melakukan semua itu untuk membekaskan keluarga ku dari lintah darat seperti juragan Bandot tuhan, jadi tolong maafkan aku, hiks....hiks...."
"Dan tuhan aku mohon kepadamu tolong kuatkan lah aku di setiap harinya tuhan...karena aku tidak yakin aku akan selalu kuat melewati ini semua"
Davina masih terus menangis sampai matanya merasa lelah Davina mengistirahatkan tubuhnya tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
***
Pagi harinya seperti biasa Davina bangun pagi dan melakukan sholat terlebih dahulu sebelum membantu pak Mun menyiapkan sarapan untuk William.
"Nona sebaiknya anda tidak usah membantu saya memasak mulai hari ini" kata pak Mun saat Davina memegang pisau yang ingin memotong sayuran.
"Memang kenapa pak Mun? apa tuan William yang melarangnya?" tanya Davina yang tidak jadi memotong sayuran yang ada di hadapannya.
"Hahaha...Pak Mun tau? saya dulu saat di kampung setiap pagi selalu membantu ibu saya membuat gorengan untuk di jual di warung warung, jadi saya sudah terbiasa pak Mun, jadi pak Mun gak usah khawatir" kata Davina yang melanjutkan aktivitas memotong sayuran yang sempat tertunda.
"Tapi Nona....."
"Sudah Pak Mun lebih baik kita selesaikan masalnya sebelum tuan William turun dan kalo makanannya belum siap bisa bisa pak Mun nantinya yang akan kena marah" kata Davina memotong ucapan pak Mun. Pak Mun melihat Davina sekilas sebelum ia melanjutkan aktivitasnya.
"Tuan, apa boleh saya masih melakukan aktivitas saya seperti bekerja dan kuliah?" tanya Davina saat William sudah selesai sarapan dan ingin berangkat ke kantornya.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan karena aku tidak perduli sama sekali dengan apa yang kamu lakukan" kata William yang berdiri dari duduknya.
"Dan satu lagi" kata William menghentikan langkahnya dan kembali menatap Davina. "Jangan sampai ada satu orang pun yang tau kalo kamu istriku, kalo sampai satu orang saja yang tau akan hall ini aku Pastika salah satu keluarga mu akan dalam masalah besar"kata kata William membuat detak jantung Davina berdebar dengan cepat, Davina tidak bisa membayangkan hall apa yang menimpa salah satu keluarga.
__ADS_1
"B—Baik tuan,saya janji saya tidak akan memberitahu siapa pun kalo anda suami saya, tapu saya mohon tuan jangan apa apakan keluarga saya" kata Davina yang takut akan ancaman William.
Sedangkan William yang melihat tingkah takut Davina tersenyum senang, Ternyata wanita yang berstatus sebagai istrinya itu sangat sayang dengan keluarganya. William tidak menjawab pertanyaan Davina, William meninggalkan meja maka begitu saja dengan Davina yang masih menatapnya sampai punggung William sudah tidak terlihat lagi dari pandangan matanya.
"Tuhan tolong jaga keluarga ku, jangan biarkan satu orangpun yang menyakitinya" batin Davina.
Setelah membersihkan meja makan Davina kembali ke kamarnya dan bersiap untuk berangkat kuliah karena hari ini Davina punya jadwal pagi di kampusnya.
***
Sedangkan William yang duduk di kursi kebesarannya menatap Max yang duduk di depannya yang hanya terhalang meja kerjanya.
"Dari yang saya lihat kemarin, Nona Davina memiliki satu orang adik laki laki yang sebentar lagi akan duduk di bangku SMP, adik Nona Davina sendiri bernama Alif, sedangkan ibu Nona Davina sedang sakit sekarang tuan karena hutang hutang dengan orang yang bernama juragan Bandot"
"Apa hutang hutang itu belum lunas?" tanya William.
"Sudah Tuan, bahakan sebenarnya hutang hutang Nona Davina hanya dua puluh juta, tapi lintah darat itu membikinnya menjadi dua kali lipat dengan beralasan Kalo ayah Nona Davina yang kembali berhutang dengannya, yang aslinya itu hanya akal akal an juragan Bandot sendiri"
"Berarti hutang hutang itu sudah lunas sekarang?"
"Sudah tuan, walau ada sedikit masalah kemarin karena Nona Davina yang tidak ingin membayar nya karena juragan Bandot tidak memiliki bukti bahwa Ayahnya itu berhutang lagi dengannya yang mengakibatkan Nona Davina di tarik secara paksa yang ingin membawa Nona Davina ke rumahnya untuk di jadikan istri ke enamnya"
"Apa....? Istri ke enam?" kata Wiliam sambik mengerutkan keningnya.
"Iyah tuan, tapi saat nona Davina berusaha berontak juragan Bandot tersebut menampar pipi Nona Davina"
"Sialan...!" Umpat William pelan bahkan Max saja tidak bisa mendengar umpatan William,sambil mengepalkan tangannya.
"Tapi saya sudah membalasnya tuan, saya menghajarnya dengan membabi buta dan setalah itu saya melemparkan cek dua ratus juta tepat di depan wajahnya, agar lintah darat itu tidak menganggu Nona Davina lagi"
"Saya akan menyuruh Wulan untuk mentransfer uang dua ratus juta ke rekening mu sesuai nominal yang kamu berikan kepada lintah darat kemarin" kata William.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan beri hadiah 🤗♥️.