
Saat ini William berada di salah satu club dengan di temani para wanitanya, saat di nyatakan Brata tidak akan memegang proyek itu kini William yang menjadi pemenangnya karena Tuan Garda menyerahkan proyek Mega itu kepada William mengingat William juga tidak kalah handalnya dalam mengurus proyek itu dapat di lihat dari beberapa proyek yang masih berjalan saat ini.
William membelai para wanita yang duduk mengelilinginya dari mengecup leher mereka mencium bibir mereka secara terang terangan di ruangan terbuka dan meraba tubuh mereka dengan bebasnya tapi itu hall wajar saat ada di dalam club karena di sana mereka mencari kepuasan bukan mencari kemunafikan terutama dengan William.
Sedangkan Max yang duduk tidak jauh dari William tengah fokus pada layar laptopnya tidak menghiraukan apapun yang tengah di lakukan atasannya, saat William memintanya menemani ke club Max benar benar hanya menemaninya bukan melakukan hall yang lainnya walau sebenarnya kadang Max juga hampir terbawa suasana saat suara suara ******* sexy itu keluar dari mulut wanita penggoda yang membuat sesuatu yang ada di bawah sana juga ikut meronta-ronta tapi Max tetap memegang teguh imannya untuk tidak terpancing dengan hall hall seperti itu.
"Ahh...."
"Emm..."
Setalah puas meraup apa yang bisa ia raup tangan William beralih memainkan rambut wanita yang duduk di sampingnya yang di biar terurai begitu saja, "Kenapa rambut mu ini sangat jelek?" cibir William dengan jari telunjuk memainkan rambut gelombang wanita yang duduk di sampingnya.
"Apa anda tidak suka tuan?" tanya wanita itu dengan menyodorkan satu gelas wine ke William yang langsung di teguk dalam satu kali tegukan.
"Tidak karena ini sangat jelek, dan lihat apa ini?" William memegang beberapa helai rambut yang di cat dengan warna biru. "Kau tau rambut mu ini sudah sangat jelek dan kau mewarnainya? membuat nya tambah sangat buruk"
"Kalo anda tidak suka, setelah ini saya akan merubahnya tuan, khusus untuk anda" ujar wanita itu membuat William tersenyum.
"Ngomong ngomong anda suka model rambut seperti apa tuan?" tanya wanita itu dan kali ini Max beralih menatap beberapa orang yang tidak jauh darinya itu melihat apa yang akan William lakukan.
William mengambil beberapa helai rambut di jepitannya antara jari telunjuk dan jari tengah menariknya secara perlahan ke bawah membuat rambut bergelombang itu menjadi lurus, "Seperti ini"
"Baik sesuai dengan permintaan anda tuan setelah ini saya akan ke salon untuk meluruskan rambut saya"
"Dan satu lagi, aku tidak suka dengan warna rambut mu ini ganti dengan warna hitam!" perintah William yang mendapatkan anggukan dari wanita tersebut.
"Max! transfer sejumlah uang ke rekeningnya!" titah William yang di angguki oleh Max.
Tapi saat Max akan mentransfer sejumlah uang itu, tatapan mata Max tidak lepas dari William yang masih memainkan rambut wanita itu, "Bukankah itu sama dengan rambut Nona Davina?" batin Max yang masih sangat jelas kalo Davina memiliki rambut yang lurus dan berwarna hitam pekat.
"Apa tuhan telah membuat anda perlahan menyukai Nona Davina dari hall hall kecil yang ada di dirinya tuan?
"Tapi semoga saja tuhan benar benar meluluhkan sedikit hati anda untuk mengenal apa itu cinta"
***
"Selamat datang tuan" sapa pak Mun saat William sudah turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Mata William melirik kesana kemari seperti tengah mencari ada yang kurang dari barisan para pelayannya siapa lagi kalo bukan Davina gadis itu tidak seperti biasanya tidak menyambutnya di barisan terdepan dari para pelayan.
"Anda tengah mencari siapa tuan?" tanya pak Mun pura pura tidak tau siapa yang di cari William kalo siapa lagi yang di cari William kalo bukan Davina.
William yang sadar dengan sifatnya kembali menetralkan dirinya dengan mengibaskan tangannya tanda tak penting, William kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah seperti biasa di ikuti para pelayannya dari belakang.
Saat sampai di dalam rumah William juga tidak menemukan tanda tanda kalo Davina berada di sana, entah kemana gadis itu pergi dan kenapa kali ini William merasa ada yang kurang saat dirinya pulang dari kantor, dengan membiarkan para pelayan melepaskan sepatu dan jas dari tubuhnya mata William masih menyapu setiap sudut rumah.
"Sudah selesai tuan" ucap salah satu pelayan yang sudah mengantikan sepatu William dengan sendal rumahan.
Karena tidak menemukan keberadaan Davina di lantai satu William memutuskan untuk naik ke lantai dua untuk membersihkan tubuh lelahnya sebelum kembali bekerja.
Tapi baru tiga anak tangga yang William injak suara seseorang dari arah belakang memberhentikan langkahnya.
"Happy birthday to you"
"Happy birthday to you"
"Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you" suara Davina terdengar dari belakang tubuh William dengan membawa satu kue berukuran sedang di tangannya berjalan mendekat ke arah William yang sudah melihat aksinya itu.
"Happy birthday tuan" ucap Davina yang terdengar sangat manis di telinga William.
Dan Davina yang mendapatkan info dari pak Mun kalo hari ini William ulang tahun memutuskan untuk pulang sedikit lebih awal dari restoran untuk membuat kue ulang tahun untuk William dengan berdasarkan ajaran yang inah ajarkan dulu saat dirinya membuat kue.
"Aa-apa kamu yang membuat ini?" suara William sedikit bergetar dengan tangan yang menunjuk kue yang ada di tangan Davina.
Davina mengangguk lucu, "Iyah tuan saya yang membuatnya, tapi maaf kalo bentuknya tidak serapi kue kue yang ada di toko" ujar Davina karena dirinya tidak terbiasa untuk menghias kue ulang tahun.
Sesaat tubuh William mematung di tempat dengan mata yang tidak lepas dari kue sederhana buatan Davina membuat perasannya saat ini campur aduk saat ini.
"Tuan" panggil Davina membuat William beralih menatap Davina.
"Make a wish tuan" ucap Davina dengan tangan tangan yang sudah menyalakan lilin di kue tersebut.
Kembali William melihat kue yang di tangan Davina dengan lilin yang sudah menyala dan entah kenapa hatinya mengikuti apa yang di ucapkan Davina membuat matanya perlahan terpejam untuk mengucapkan apa yang William inginkan di hari ini, setelah selesai William kembali membuka matanya dan entah dari mana senyuman Davina begitu sangat sempurna malam ini.
"Tiup lilinnya tuan" ucap Davina lagi saat William sudah membuka matanya.
__ADS_1
"Aa-apa?" William sedikit kaget akan hall itu, dirinya bukanlah anak usia tiga tahun yang harus tiup lilin seperti ini bahkan usianya saja sudah berada di kepala tiga.
"Tiup lilin" ucap Davina mengulangi kata katanya.
"Kamu saja"
"Kok saya tuan? kan yang tengah berulang tahun anda" ujar Davina yang tidak paham akan maksud William.
"Ya karena kamu masih kecil dan yang lebih pantas melakukannya itu kamu" ucap William yang tidak mau kalah karena dirinya untuk kali ini sedikit malu untuk meniup lilin seperti anak paud.
"Kan saya tidak ulang tahun"
"Ya sudah hari ini kamu juga ikut ulang tahun" ucapan aneh itu keluar dari mulut William membuat pelayanan,pak Mun dan juga Max menahan tawa mereka akan kekonyolan William itu.
Davina mengerutkan keningnya tanda tidak paham dengan ucapan William itu, "Mana bisa tuan? ulang tahun saya masih lama, masih satu tahun lagi" ujar Davina dengan begitu polosnya.
"Ya intinya kamu saja yang tiup lilinnya" ucap William yang tetap tidak ingin meniup lilin itu.
Davina melirik lilin yang ada di atas kue tersebut yang tinggal setengah dan sedikit lagi akan habis kalo mereka terus berdebat seperti ini.
"Ya sudah kalo gitu kita tiup sama sama"
"Apa!" pekik William saat mendapatkan ide aneh itu dari Davina.
"Ayo tuan nanti keburu lilinnya habis, karena saya tidak punya lilin lagi setelah ini" ujar Davina yang juga tidak kalah keras kepalanya.
"Kamu saja!"
"Bersama sama tuan"
"Tidak mau!"
"Satu kali saja untuk pertama dan terakhirnya"
"Tidak!"
"Ayo tuan satu kali saja setelah ini gak lagi deh"
__ADS_1
Perdebatan masalah lilin itu membuat siapapun yang melihatnya sangat gemas dengan keduanya yang satunya selalu menolak dan satunya lagi yang terus memaksa tapi kali ini tanpa mereka sadari William tidak meledak ledak saat di paksa untuk melakukan sesuatu.
Sampai akhirnya William pasrah dan mengikuti permintaan Davina dan dengan perasaan senang karena sudah berhasil membujuk William, Davina dan William meniup lilin itu secara bersamaan dengan di saksikan banyak orang yang menepuk tangannya dengan sangat kencang saat tiga lilin itu sudah mati di tiupnya.